Perlukah Hutauruk Punya Aula? (Sambungan)

Penulis terkesan menonton Kick Andy yang ditayangkan pada Jumat 25 Maret 2011. Memang tidak dapat memastikan apakah memang benar disalah satu desa di Jawa Barat itu berhasil mendirikan 27 buah rumah hanya dalam 2 tahun 8 bulan, hanya dengan bermodalkan himbauan dari Kepala Desanya kepada warganya untuk bersedia mengumpulkan seratus rupiah setiap hari. 

Di Situs WebBlog ini sedikitnya ada 2 artikel yang menyinggung tentang gambaran uang sebagai salah satu media yang mampu mewujudkan sebuah ide, termasuk pula sebagai parameter untuk membandingkan kepribadian seseorang dengan orang lainnya; sebut saja judulnya “Pak Ogah Lebih Mulia Dari Hutauruk” yang di-posting pada tanggal 17 Oktober 2011 dan judul lainnya adalah “Satu Untuk Semua” yang di-posting pada tanggal 11 Januari 2011. 

Sudah sejak lama diberbagai kesempatan mendengarkan khotbah yang mengatakan tentang perintah Tuhan untuk menyisihkan persepuluhan sebagai wujud ucapan sembah sujud atas pemberian berkat-berkat dari Tuhan. Lalu banyak juga terdengar argumentasi dan perdebatan tentang persepuluhan itu; Ada yang mengartikannya bahwa perpuluhan diterjemahkan sebagai 10% dari Total Penghasilan, ada pula yang mengartikannya dengan asumsi 10% dari sisa kebutuhannya, mungkin pula ada pengartian lain tentang perpuluhan ini. 

Setidaknya ada 24 ayat di Perjanjian Lama yang menyebutkan tentang persepuluhan dan ada 6 ayat di Perjanjian Baru menyebutkannya. Sederhananya, mungkin kita tidak tau persis apa sebenarnya maksud Tuhan dengan persepuluhan dari firman yang tertulis di Alkitab itu? Yang jelas bahwa sejak awal-awal ayat tentang persepuluhan itu adalah berupa persembahan dari apapun yang kita miliki, baik dari tanah, dari hasil benih di tanah, maupun dari buah-buah pohonan, pokoknya semua yang kita miliki harus kita persembahkan persepuluhan, karena semuanya adalah milik Tuhan. 

Kalau kita memang mengenal secara sebenarnya siapa Tuhan mungkin kita tidak akan keberatan untuk memberikan persepuluhan itu, tetapi boleh jadi banyak diantara kita yang sebenarnya tidak mengenal siapa Tuhan itu, walaupun mengaku diri ber-Tuhan. Lebih jauh pula bahwa perintah Tuhan tersebut tidak diketahui secara persis menggunakan standard apa? 

Pemerintah setiap tahunnya menghitung secara cermat berapa Kebutuhan Hidup Layak (KHL) seseorang di setiap wilayah. Misalnya Standar Kebutuhan Hidup Layak untuk DKI adalah Rp 1.401.829, sementara Upah Minimum Regional (UMR) yang ditetapkan oleh Pemprov DKI adalah Rp 1.197.946,64. Artinya seseorang yang mendapat upah senilai UMR ini sudah berkurang kelayakan hidupnya sebesar selisihnya. Artinya lagi bahwa si-orang tersebut sudah mengorbankan dirinya untuk hidup didunia ini. Bila si-orang ini harus dituntut oleh Tuhannya untuk persepuluhan, lalu apa penilaiannya tentang Tuhannya itu? 

Sebut saja seseorang yang setiap bulannya memperoleh penghasilan sebesar 100 juta rupiah, mungkin tidak akan berpengaruh terhadap Kebutuhan Hidup Layaknya (KHL) bila dia memberikan persepuluhannya sebesar 10 juta rupiah setiap bulannya. Lalu bagaimana pula bila seseorang yang hanya berpenghasilan senilai 1 juta rupiah, yang nota bene sudah jauh dibawah KHL-nya, apakah begitu teganya Tuhannya menuntut persepuluhan darinya? Apakah Tuhannya tersebut tidak manjadi si-tertuduh yang membuat ciptaannya semakin tidak layak hidup? 

Cuplikan pemikiran tadi hanyalah sebagai ilustrasi semata, untuk menggambarkan bahwa memang tidak boleh semuanya disamaratakan. Satu dengan yang lainnya memang layaknya pasti ada perbedaan, tidak terbatas kepada latar belakang kehidupan, sosial, ekonomi, pendidikan, pengetahuan, pengalaman, wawasan termasuk latar belakang pemahamannya tentang Tuhan vs Sosialisme. 

Kembali kepada Program Tayang Kick Andy 25 Maret 2011 tentang sebuah Desa Situ Udik, Kecamatan Cibungbulan, Kabupaten Bogor. Kepala Desa – Enduh Nuhudawi ini, telah menjadikan Situ Udik, sebagai desa percontohan di tingkat propinsi se-Jawa Barat. Setelah menyisihkan 5.428 desa yang dilombakan. Gerakan  menyisihkan Rp 100,- (reriungan sarumpi) bagi setiap warga untuk menyumbangkan dan kemudian menyerahkan ke desa, telah berhasil membangun infrastruktur desa juga puluhan rumah, bagi warga desanya yang kurang mampu dan tidak layak huni. Kerelaan untuk bertanggung jawab pada kesetaraan hidup yang ditanggung bersama oleh warga diimbangi oleh pelaksanaan kepemimpinan yang bersih dan mandiri membawa desa ini menikmati hasil yang sepadan. 

Tercatat jumlah penduduk Desa Situ Udik 14.000 jiwa, tentu jumlah ini termasuk bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa, manula, yang dipastikan tidak setiap jiwa ini mampu berpenghasilan. Kalau kata orang yang ber-Tuhan; ‘Apa yang tak mungkin bagi manusia maka mungkin bagi Tuhan’. Sebut saja semua penduduk disini ber-Tuhan, jadi mungkin saja semuanya berpenghasilan. Jalilah program desa ini menyumbangkan Rp 100 (seratus rupiah) setiap warga setiap harinya, maka setiap hari dapat diasumsikan terkumpul sejumlah Rp 1.400.000 dan kalau sebulan 30 hari maka mereka mampu mengumpulkan Rp 42.000.000. dan dalam setahun mereka mampu mengumpulkan Rp 504.000.000 dan kalau seperti yang disebutkan dalam tayangan Kick Andy bahwa dalam 2 tahun 8 bulan mereka mampu membangun 27 rumah layah huni dan infrastruktur desa, memang menjadi masuk akal karena kalkulasinya menjadi Rp 1.344.000.000 (satu miliar tiga ratusan ribu). Luar biasa…… 

Penulis menjadi teringat dengan komunitas Hutauruk yang ada di Jabodetabek yang katanya berjumlah sekitar 1.400 Kepala Keluarga.  Bila Desa Situ Udik berjumlah empat belas ribu jiwa maka Hutauruk Jabodetabek berjumlah empat belas ratus Kepala Keluarga, angkanya memang mirip-mirip 14 juga. Boleh jadi Hutauruk sukses bila mau melakukan program seperti ini? 

Sebut saja dalam satu Kepala Keluarga memiliki 2 orang anak, sehingga 1 KK diasumsikan berjumlah 4 jiwa, maka ada 5.600 jiwa Komunitas Hutauruk di jabodetabek. Kalau mau mengumpulkan Rp 100 (seratus rupiah) setiap jiwa per-hari maka setiap harinya akan terkumpul Rp 560.000. Dalam sebulan terkumpul Rp 16.800.000, dan dalam setahun Rp 201.600.000. Bila membangun sebuah aula senilai 5 miliar maka perlu 25 tahun untuk mengumpulkannya. Lalu semua Komunitas Hutauruk berkata: “Ah tak mungkinlah itu… Rencana loak do i…. “ 

Hampir kita pastikan bahwa semua Komunitas Hutauruk adalah mahluk ber-Tuhan yang seperti disebut tadi bahwa mereka meyakini bahwa yang tak mungkin bagi manusia menjadi mungkin bagi Tuhan-nya. Tapi kok ada sebutan: “Ah tak mungkinlah itu… Rencana loak do i…. “ 

Memang Komunitas Hutauruk dikenal sebagai orang-orang yang modernis, dinamis, kritis, taktis, logis, prakmatis, humanis, dialogis, aristokratis, agamais. Mereka bukan orang-orang apatis, pesimis, pengemis, protektionis, antagonis, apalagi paganis,  dan bila isme-isme ini bersinergi maka muncullah kekuatan besar, terbukti Komunitas Hutauruk Jabodetabek mampu bertahan dalam bentuk punguan selama 48 tahun sejak tahun 1962 pertama kali dibentuk. Sayangnya masih belum punya kantor sekretariat. 

Dua hari yang lalu tanggal 23 Maret 2011 ada terdengar berita menyenangkan dari salah satu Kampung Hutauruk di Sipoholon yang sedang dibuka jalan desa atas prakarsa masyarakat desa tersebut dan atas bantuan Koramil setempat. Entah bagaimana mereka mengakomodir pendanaannya dan kabarnya banyak juga dari Jabodetabek yang ikut berpartisipasi menyumbangkan pemikirannya dengan mengucaokan ‘bersyukur’. Ucapan itu mungkin sudah lebih dari cukup yang diharapkan oleh masyarakat di desa Hutauruk tersebut. 

Membangun disegala bidang adalah wujud dari cita-cita. Bisa aja itu cita-cita dari seseorang, bisa pula dari cita-cita kelompok komunitas, seperti yang diceritakan di Desa Situ Udik, atau di Desa Hutauruk di Sipoholon, atau mungkin pula ada cita-cita Hutauruk di Jabodetabek yang menginginkan ada kantor sekretariatnya. 

Apa yang sudah dibangun oleh Hutauruk sejak berdirinya 48 tahun yang lalu? Seandainya sejak dahulu ada program Perduli Rp 100/hari maka bisa dibayangkan Hutauruk Jabodetabek sudah mengumpul 9.676.800.000, maka bukan hanya kantor sekretariat yang dimiliki, boleh jadi sudah memiliki Gedung Serbaguna yang modern. 

Tetapi pasti ada saja yang mengatakan, “untuk siapa itu nanti?” padahal katanya mereka memiliki yang disebut Punguan, yang artinya bukanlagi berbicara pribadi, tetapi sudah berbicara komunitas, yaitu Komunitas Hutauruk Jabodetabek yang disebut Punguan Hutauruk & Boru-Bere Jabodetabek. 

Punguan ini terdengar sangat luar biasa? Setiap Tahunnya mereka mampu mengadakan pesta bernilai Rp 150 juta. Bila setara nilai itu yang setiap tahunnya dilakukan selama 48 tahun ini maka Komunitas Hutauruk Jabodetabek ini sebenarnya sudah mengeluarkan dana setara dengan Rp 7.200.000.000 untuk makan-makan yang menyehatkan badani dan rohani. 

Kalau begitu, bila ada cita-cita komunitas Hutauruk Jabodetabek untuk memiliki kantor sekretariat, maka mulailah dari sekarang mengumpul Rp 100 /hari dan percayakan kepada Pengurus punguan. Apakah rugi mengumpulkan Rp 100/hari atau Rp 3.000/bulan. Masih sakit hatikah anda bila uang segitu ditipu oleh oknum dalam komunitas? Ayo sama-sama kita renungkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: