KRABIL BERKHOTBAH

BISA MENGAJAR TAK BISA MELAKUKAN
Sebuah RENUNGAN

OLEH : KRABIL HUTAURUK
Sabtu , 19 Pebruari 2011

Bapa, Ibu, Saudara, Saudari, ( Amang, Inang, naposobulung Hutauruk Dohot Boru/Bere ) yang kami kasihi dan yang dicintai Tuhan.

Terima kasih, Anda meluangkan waktu membaca renungan ini. Adalah lumrah, bagi kita, jika seorang sarjana Teknik Industri lebih mengerti teknik industri, sarjana Kimia lebih tahu kimia, lulusan Kedokteran lebih mengerti bidangnya. Pertanyaannya: apakah orang beriman, Pemimpin Jemaat (Pendeta, Pastor, Biksu, Ustadz) lebih fasih dibidangnya? Atau apakah mereka sungguh berelasi dengan Tuhan? Atau apakah mereka sungguh ahli iman? Atau sungguh melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan?

Sejenak kita berkata: “ya, sangat fasih, ya sangat berelasi dengan Tuhan, ya ahli iman, ya sungguh melakukan yang seharusnya mereka lakukan”. Barangkali itu jawaban kita. Dan, memang harus begitu! Saya bukan menggugat pernyataan ini. Tapi saya percaya bahwa menjadi ahli belum cukup. Lebih mengerti belum cukup. Sebab, pengetahuan tidaklah cukup, kita harus mengamalkannya. Niat tidaklah cukup, kita harus melakukannya, kata Johan Wolfgang von Goethe.

Biarpun dia ahli tetapi jika dia tidak pernah mempraktekkan keahliannya, sia-sia saja, tidak ada faedahnya. Saya percaya bahwa ada di antara kita yang pernah membaca kisah orang Samaria yang baik hati (Luk. 10: 25-27).

 Isinya menarik! Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus: bagaimana memperoleh hidup kekal dan siapa sesama. Apakah Ahli Taurat itu tidak tahu bagaimana memperoleh hidup kekal? Tidak mungkin. Ia pasti tahu. Ingat, dia itu adalah “ahli” Hukum Taurat, ahli hukum Tuhan! Dan, nasehat serta cara memperoleh hidup kekal ada dalam Hukum Taurat! Siapa “sesama” juga pasti ia tahu. Tapi ia pura-pura tidak tahu.

Lantas bagaimana reaksi Yesus? Yesus tahu kedegilan hati ahli Taurat itu. Yesus pun coba menyadarkan sang ahli Taurat. Yesus menjawab dengan metafor. Sesama adalah orang yang turun dari Yerikho tapi di tengah jalan dirampok, dipukul hingga terkapar oleh penyamun tetapi kemudian, ditolong oleh seorang Samaria (yang notabene dianggap oleh orang Yahudi sebagai kafir, najis, tidak berguna).

Bapa, Ibu, Saudara, Saudari. Sesama adalah semua orang, termasuk orang tertindas, orang hina (seperti orang Samaria). Figur imam dan orang Lewi adalah orang-orang yang seharusnya cekatan menolong orang yang terkapar itu, tetapi ternyata tidak. Padahal, jabatan keagamaan hampir sama dengan ahli Taurat.

Nah, Yesus memakai figur kedua tokoh ini untuk menyindir si ahli Taurat yang bertanya tadi. Seorang Imam tidak tergerak hatinya untuk menolong orang terkapar yang butuh bantuan. Ia lewat begitu saja di samping orang yang membutuhkan bantuannya. Padahal, imam adalah pemimpin jemaat, orang yang mempersembahkan kurban di Bait Allah, “orang suci”, suka berdoa di Bait Allah.

Tapi mengapa ia tidak menolong orang yang terkapar di pinggir jalan? Perkaranya sangat mendasar. Ia takut kehilangan waktu, tenaga, uang, materi. Imam itu tidak mau pusing-pusing! Sikap yang tidak beda jauh dari sikap Imam ini adalah sikap seorang Lewi. Ia hanya lewat di samping orang yang butuh bantuannya. Ia tidak tergerak untuk menolongnya.

Kita menjadi heran. Orang Lewi adalah orang yang bekerja di Bait Allah, keturunan imam, orang suci, tapi kok tidak mau menolong. Ya, ia tidak mau kehilangan materinya, ia tidak mau pusing-pusing. Coba Anda bayangkan jika semua orang yang lewat akan berlaku demikian. Pasti orang terkapar itu mati konyol!

Dalam perikop ini, tokoh ideal adalah orang Samaria. Mengapa? Karena ketika ia melihat seseorang yang terkapar di pinggir jalan lalu hatinya tergerak oleh belaskasihan. Ia tidak hanya iba, tapi melakukan tindakan konkret. Orang yang terkapar itu dinaikkannya ke atas keledai tunggangannya, ia tuntun ke penginapan, ia membersihkan luka dan membalutnya. Tidak hanya itu, ia memberikan uang 2 dinar (upah dua hari bekerja) kepada pemilik penginapan, bahkan kalau kurang ia akan kembali untuk melunasinya.

Luar biasa. Tindakan terpuji! Padahal, orang Samaria dipandang oleh orang Yahudi sebagai penjahat, kafir, najis, bukan orang suci. Bapa, Ibu, Saudara, Saudari, yang sangat kami cintai dalam hidup sehari-hari kadang kita menganggap diri sebagai orang yang pantas, orang suci. Tetapi pada kenyataannya kita tidak mencintai Tuhan dan sesama dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan segenap akal budi.

Ketika kita duduk di posisi yang dianggap terhormat, “suci”, lalu malah kita menjadi lupa diri. Tidak sedikit dari kita yang lebih tahu kesalahan orang lain, lalu merasa bahwa ia itu tidak pantas.

Renungan kali ini, saya tutup dengan sebuah cerita. Ketika membaca sebuah buku yang berjudul: “Hidup yang Berbuah”, karya Paulus Winarto, seorang motivator, saya menemukan hal berharga: cerita reflektif!

Agus seorang petani yang hidup di sebuah dusun kecil dikenal sebagai orang yang baik, rajin bekerja dan suka menolong. Meski begitu, ia termasuk jemaat yang tidak aktif di gerejanya. Inilah yang membuat sang pendeta agak kecewa. Apalagi setelah ia sendiri mendengar bahwa dalam satu hari, Agus hanya berdoa dua kali. Itupun sebuah doa singkat yang berlangsung tidak lebih dari dua menit.

Suatu ketika sang pendeta berbicara dengan Tuhan mengenai kehidupan Agus. “Tuhan, payah sekali ya si Agus itu. Bayangkan Tuhan, Engkau begitu bermurah hati kepadanya. Namun, ia hanya mengingat Engkau dua kali dalam sehari, yakni dalam doa sebelum dia berangkat ke sawah dan doa sebelum ia berangkat tidur,” kata si pendeta.

Sambil tersenyum Tuhan menjawab, “Aku ingin memintamu melakukan sesuatu. Besok, pagi-pagi benar, engkau harus keluar dari rumahmu dengan membawa semangkuk penuh susu. Dari pagi hingga sore, engkau harus berkelilinng di desa ini sambil membawa mangkuk tersebut dan jangan sampai ada setetes pun susu yang tumpah dari mangkuk tersebut.”

Sang pendeta yang dikenal sangat taat ini pun menyanggupinya. Keesokan harinya, si pendeta melakukan persis seperti yang diperintahkan Tuhan. Lalu, malamnya ia kembali bertemu Tuhan.

“Berapa kali sepanjang hari ini engkau mengingat-Ku?” tanya Tuhan. Dengan agak malu-malu, sang pendeta menjawab, “tidak sekali pun, Tuhan. Ampunilah hamba-Mu ini.” Lalu, Tuhan bertanya lagi, “mengapa tidak sekalipun engkau mengingat-Ku hari ini?” Jawab pendeta sambil menangis karena menyesal, “karena aku begitu berkonsentrasi pada pekerjaan yang Engkau perintahkan. Aku menjaga agar jangan sampai setetes susu tumpah dari mangkuk yang penuh itu. Mohon ampunilah hamba-Mu ini, Tuhan.”

Dengan senyum penuh kasih, Tuhan menjawab, “itulah yang terjadi jika orang terlalu sibuk memikirkan diri sendiri dan terlalu asyik dalam pekerjaannya. Agus, si petani sederhana itu bekerja keras seharian namun ia masih mengingat Aku dua kali sehari dalam doanya. Bibirnya tidak pernah lupa untuk mengucapkan syukur atas berkat yang telah Kuberikan”.

Bapa, Ibu, Saudara, Saudari, semoga kita jangan seperti Imam dan orang Lewi di atas. Mereka hanya bisa mengajar namun tidak mampu melakukan apa yang mereka ajarkan (iso ngajar, ora iso ngelakonin).

Semoga kita tidak jatuh seperti sang pendeta yang awalnya merasa lebih benar dibanding si petani miskin. Kepekaan rohani, kerendahan hati, sikap yang mau berkorban dengan tulus, dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi itulah yang diharapkan Allah dari kita. Amin.

Catatan :

  • PENGETAHUAN tidaklah cukup, kita harus MENGAMALKANNYA. NIAT tidaklah cukup, kita harus MELAKUKANNYA. (Johan Wolfgang von Goethe)
  • Kita sulit menggambarkan karakter diri sendiri. Namun, kita mudah menggambarkan karakter orang lain.
  • Tujuan akhir pendidikan adalah untuk memberikan kemampuan yang sangat tinggi dalam membedakan segala sesuatu. Kemampuan ini adalah kekuatan untuk menunjukkan yang baik dan jahat, asli dan palsu, dan untuk lebih menyukai yang baik dan asli dibanding dengan yang buruk dan palsu.
  • Tao Te Ching mengatakan bahwa laut merupakan kumpulan air yang terbesar karena kedudukannya lebih rendah daripada yang lain. Semua air mengalir ke laut. Itu merupakan salah satu gagasan tentang kepemimpinan paling cemerlang yang pernah saya dengar. Kemuliaan lautan yaitu kebesarannya, digambarkan sebagi hasil kerendah-hatian atau kerendahannya. Sangat banyak pemimpin, eksekutif, dan manajer yang mengarungi jalan kehidupan mereka dengan kemuliaan, tetapi buta terhadap pentingnya kerendah-hatian saat mereka berhadapan dengan orang lain.

SYALOOM ! Selamat merenung

6 Responses

  1. Lampiran II Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 5 Tahun 2010
    Lampiran II Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 5 Tahun 2010 Tanggal 1 Februari 2010, berupa Daftar Kabupaten/Kota penerima Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang pendidikan tahun anggaran 2010.________________________________________
    Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Pendidikan Tahun Anggaran
    ________________________________________
    Lampiran I Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 5 Tahun 2010 Lampiran I Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 5 Tahun 2010 Tanggal 1 Februari 2010. Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus (Dak) Bidang Pendidikan Tahun Angga
    Surat Edaran Dirjen Mandikdasmen No: 698/C/KU/2010
    Tata Cara Pelaksanaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Pendidikan Tahun Anggaran
    Lampiran II Surat Edaran Dirjen Mandikdasmen Nomor : 698/C/KU/2010
    Lampiran II Surat Edaran Dirjen Mandikdasmen Nomor : 698/C/KU/2010 berupa Contoh Format Perjanjian Pemberian DAK SMP-Prasarana Paket
    Lampiran I Surat Edaran Dirjen Mandikdasmen Nomor : 698/C/KU/2010
    Lampiran I Surat Edaran Dirjen Mandikdasmen Nomor : 698/C/KU/2010 berupa Contoh Format Perjanjian Pemberian DAK SD-Paket1 dan Paket2

    RAB DAK SMP 2010
    DAK Bidang Pendidikan dialokasikan untuk menunjang pelaksanaan Program Wajib Belajar (Wajar) Pendidikan Dasar 9 Tahun yang bermutu dan merata untuk Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP)
    Dari Alokasi Dana Pendidikan sebesar Rp. 9.334.882.000.000,00 (sembilan triliun tiga ratus tiga puluh empat miliar delapan ratus delapan puluh dua juta rupiah); diperkirakan 40% akan di alokasikan untuk Sekolah Dasar (SMP)
    Dengan lingkup kegiatan sbb :
    1. Pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) untuk menampung siswa-siswa SMP yang belum tertampung dan rasionalisasi jumlah siswa per kelas
    2. Pembangunan ruang perpustakaan atau pusat sumber belajar untuk SMP beserta perabotnya
    3. Pemenuhan kebutuhan buku referensi, pengayaan dan panduan sesuai standar BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan)
    4. Pemenuhan kebutuhan alat-alat peraga dan pembelajaran bagi sekolah yang belum mempunyai alat tersebut yaitu :
    • Laboratorium Bahasa
    • Alat Laboratorium Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
    • Alat Matematika
    Rincian dari RAB SMP 2010 dibagi menjadi 3 katagori dengan Rincian Garis Besarnya adalah Sbb :
    Katagori 1
    Diperuntukan untuk SMP yang sudah tidak memerlukan lagi bantuan untuk pembangunan Fisik baik Ruang Kelas, Ruang laboratorium IPA atau ruang Lab Bahasa.
    Nilai keseluruhan sebesar Rp. 300.500.000,- dengan rincian sebagai berikut :
    • PENGADAAN ALAT PERAGA IPA / BIOLOGI 1 Paket Rp. 50.000.000,-
    • PENGADAAN LAB BAHASA 1 Paket Rp. 150.000.000,-
    • PENGADAAN ALAT MATEMATIKA 1 Paket Rp. 5.000.000,-
    • PENGADAAN ALAT IPS 1 Paket Rp. 10.000.000,-
    • PENGADAAN ALAT KESENIAN 1 Paket Rp. 20.000.000,-
    • PENGADAAN ALAT OLAHRAGA 1 Paket Rp. 20.000.000,-
    • PENGADAAN BUKU PENGAYAAN 1 Paket Rp. 35.000.000,-
    • PENGADAAN BUKU REFERENSI 2 Paket @ Rp. 3.750.000,- Total Rp. 7.500.000,-
    • BUKU PANDUAN PENDIDIK 60 Eks @ Rp. 50.000,- Total Rp. 3.000.000,-

    Katagori 2
    Diperuntukan untuk SMP yang masih memerlukan Dana DAK untuk pembangunan Fisik dengan kerusakan sedang atau sudah memiliki Laboratorium Bahasa.
    Nilai keseluruhan sebesar Rp. 150.500.000,- dengan rincian sebagai berikut :
    • PENGADAAN ALAT PERAGA IPA / BIOLOGI 1 Paket Rp. 50.000.000,-
    • PENGADAAN ALAT MATEMATIKA 1 Paket Rp. 5.000.000,-
    • PENGADAAN ALAT IPS 1 Paket Rp. 10.000.000,-
    • PENGADAAN ALAT KESENIAN 1 Paket Rp. 20.000.000,-
    • PENGADAAN ALAT OLAHRAGA 1 Paket Rp. 20.000.000,-
    • PENGADAAN BUKU PENGAYAAN 1 Paket Rp. 35.000.000,-
    • PENGADAAN BUKU REFERENSI 2 Paket @ Rp. 3.750.000,- Total Rp. 7.500.000,-
    • BUKU PANDUAN PENDIDIK 60 Eks @ Rp. 50.000,- Total Rp. 3.000.000,-
    Katagori 3
    Nilai keseluruhan sebesar Rp. 45.500.000,- yang seluruhnya digunakan untuk pengadaan buku.
    dengan rincian sebagai berikut :
    • PENGADAAN BUKU PENGAYAAN 1 Paket Rp. 35.000.000,-
    • PENGADAAN BUKU REFERENSI 2 Paket @ Rp. 3.750.000,- Total Rp. 7.500.000,-
    • BUKU PANDUAN PENDIDIK 60 Eks @ Rp. 50.000,- Total Rp. 3.000.000,-
    RAB DAK SD 2010
    DAK Bidang Pendidikan dialokasikan untuk menunjang pelaksanaan Program Wajib Belajar (Wajar) Pendidikan Dasar 9 Tahun yang bermutu dan merata untuk Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP)
    Dari Alokasi Dana Pendidikan sebesar Rp. 9.334.882.000.000,00 (sembilan triliun tiga ratus tiga puluh empat miliar delapan ratus delapan puluh dua juta rupiah); diperkirakan 60% akan di alokasikan untuk Sekolah Dasar (SD)
    Dengan lingkup kegiatan sbb :
    1. Pembangunan ruang perpustakaan/pusat sumber belajar SD/SDLB
    2. Perabot pendukung perpustakaan
    3. Pengadaan sarana peningkatan mutu pendidikan SD/SDLB,

    • Alat Peraga
    • Kit Multimedia
    • Buku Pengayaan
    • Buku Referensi
    • ICT Pendidikan
    • Alat Elektronik Pendidikan
    Paket 1 : Alokasi dana per sekolah ditetapkan sebesar Rp. 260.000.000,- (dua ratus enam puluh juta rupiah)
    Diperuntukkan bagi sekolah yang belum memiliki ruang/gedung perpustakaan berikut parabot meubelairnya dan belum memiliki sarana peningkatan mutu pendidikan.
    Paket 2 : Alokasi dana per sekolah ditetapkan sebesar Rp. 180.000.000,- (seratus delapan puluh juta rupiah).
    Diperuntukkan bagi sekolah yang telah memiliki ruang/gedung perpustakaan namun belum memiliki sarana peningkatan mutu pendidikan.

  2. KUMPULAN UNDANG-UNDANG
    PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI
    • EDISI PERTAMA
    • 2006
    • UNITED NATIONS CONVENTION AGAINST
    • CORRUPTION, 2003
    • UU RI NOMOR 7 TAHUN 2006
    • UU RI NOMOR 30 TAHUN 2002
    • PENJELASAN UU RI NOMOR 30 TAHUN 2002
    • UU RI NOMOR 31 TAHUN 1999
    • UU RI NOMOR 20 TAHUN 2001
    • UU RI NOMOR 28 TAHUN 1999
    • PENJELASAN UU RI NOMOR 28 TAHUN 1999

  3. Berdasarkan pengolahan data sebagaimana disajikan pada Tabel 11 di atas
    menunjukkan bahwa sebagian besar pengurus Komite Sekolah melaksanakan
    perannya sebagai mediator antara pemerintah dengan masyarakat di satuan
    pendidikan di daerahnya cukup baik dan sangat baik (67%). Sebagian kecil (33%)
    pengurus Komite Sekolah yang melaksanakan perannya sebagai mediator antara
    pemerintah dengan masyarakat di satuan pendidikan di daerahnya kurang baik.
    Tidak ada pengurus Komite Sekolah yang melaksanakannya dengan tidak baik dan
    tidak ada yang tidak melaksanakan perannya sebagai mediator.
    Sebagai mana dikemukakan sebelumnya bahwa, salah satu fungsi komite sekolah
    adalah menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan
    pendidikan di satuan pendidikan. Dana atau keuangan suatu sekolah pada dasarnya
    dapat dicari apabila sekolah bersama komite sekolah memiliki ide dan gagasan kreatif
    menciptakan aktivitas peningkatan mutu pendidikan yang memerlukan pembiayaan
    serta memiliki kemampuan menjalin kerjasama secara sinerjis di antara semua
    stakeholder pendidikan. Komite sekolah yang memiliki peran dan fungsi strategis,
    khususnya berkaitan dengan penggalangan dana memiliki peluang yang sangat besar
    untuk berperan aktif dan lebih besar dalam peningkatan mutu pendidikan di tingkat
    13
    satuan pendidikan. Dukungan yang diberikan oleh komite sekolah tidak hanya dalam
    bentuk dana atau keuangan, melainkan juga dalam bentuk tenaga, ide, dan gagasan
    (Anonimus, 2006).
    Keberadaan komite sekolah dalam penggalangan dana sangatlah penting, hal ini dapat
    ditunjukkan bahwa salah satu persyaratan penerimaan dana bantuan “block grant” dari
    pemerintah pusat harus ada komite sekolah. Asalan mendasar yang dikemukakan yaitu
    agar pengelolaan “block grant” memperoleh akuntabilitas publik di mana komite
    sekolah merupakan representasi masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan
    bahwa fungsi komite sekolah khususnya yang berkaitan dengan penggalangan dana
    belum berjalan sebagai mana yang diharapkan. Pelaksanaan fungsi komite sekolah
    belum berlangsung secara optimal, terutama karena komite sekolah masih berperan
    sebagai stempel saja (Anonimus, 2006). Kurang optimalnya pelaksanaan fungsi komite
    sekolah mengakibatkan kebutuhan anggaran yang diajukan oleh kepala sekolah kepada
    komite sekolah diterima sebagai mana yang diusulkan dan hanya bersumber dari
    masyarakat, khususnya orang tua murid.
    Dalam mekanisme penyusunan rancangan, pelaksanaan, dan penyusunan pelaporan
    pelaksanaan APBS menunjukkan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh kepala
    sekolah dan komite sekolah dalam menyusun RAPBS. Setiap tahapan penyusunan
    RAPBS tersebut saling bekerja sama antara kepala sekolah dengan komite sekolah dan
    hasilnya (RAPBS) harus mendapat pengesahan dari komite sekolah untuk menjadi
    APBS. Hal ini dengan harapan bahwa sebagian dana atau anggaran penerimaan APBS
    tersebut berasal dari anggaran yang mungkin diusahakan oleh komite sekolah sesuai
    dengan peran komite sekolah sebagai controlling agency atau badan pengawasan
    terhadap pelaksanaan kegiatan sekolah, termasuk pelaksanaan dan penggunaan APBS.
    Dengan demikian jelas bahwa apabila peran dan fungsi komite sekolah dapat
    dilaksanakan sebagai mana mestinya, baik fungsi yang berkaitan dengan pengadaan
    dana dan fungsi pengawasan, maka satuan pendidikan yang bersangkutan akan mampu
    menyelenggarakan pembelajaran yang bermutu tinggi yang sesuai dengan tuntutan
    masyarakat dan perkembangan teknologi.
    SIMPULAN
    Berdasarkan analisis dan pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan beberapa hal
    sebagai berikut.
    1. Baik Menurut persepsi Dinas Pendidikan maupun Kepala Kantor Departemen
    Agama di daerah, sebagian besar pengurus dan anggota Komite Sekolah memiliki
    komitmen yang tinggi dan sangat tinggi untuk ikut serta meningkatkan kondisi atau
    kualitas pendidikan di masing-masing daerah.
    2. Keterlibatan Komite Sekolah menurut persepsi Dinas pendidikan di daerah, yang
    paling tinggi yaitu pada kegiatan memberikan dukungan. Urutan tingkat
    pelaksanaan peran Komite Sekolah, maka yang pertama yaitu pemberian dukungan,
    mediator, pemberian pertimbangan, dan yang paling rendah yaitu pengontrol.
    3. Berdasarkan persepsi responden Dinas Pendidikan maupun Kepala Kantor
    Departemen Agama di daerah, pengurus dan anggota Komite Sekolah belum
    melaksanakan fungsi yang berkaitan dengan penggalangan dana untuk pembiayaan
    pembelajaran di tingkat satuan pendidikan.
    14
    4. Menurut persepsi Kepala Kantor Departemen Agama di daerah, peran Komite
    Sekolah yang berupa; pemberi perimbangan (advisory agency), pendukung
    (supporting agency), pengontrol (controlling agency), dan mediator antara
    pemerintah dengan masyarakat di satuan pendidikan dapat dilaksanakan dengan
    baik sebagaimana yang diharapkan bersama.
    DAFTAR PUSTAKA
    Anonimus. 2003. Acuan Operasional dan Indikator Kinerja Dewan Pendidikan.
    Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar
    dan Menengah. Jakarta.
    Anonimus. 2003. Panduan Umum Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.
    Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar
    dan Menengah. Jakarta.
    Anonimus. 2004. Acuan Operasional dan Indikator Kinerja Komite Sekolah.
    Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar
    dan Menengah. Jakarta.
    Anonimus. 2006. Bahan Arahan Rapat Kerja Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga
    Kependidikan. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga
    Kependidikan. Direktorat Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan
    Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.
    Anonimus. 2006. Panduan Pengelolaan Sekolah Dasar. Departemen Pendidikan
    Nasional. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan
    Menengah. Direktorat Pembinaan Taman kanak-Kanak dan Sekolah Dasar.
    Jakarta.
    Anonimus. 2006. Panduan Penilaian Kinerja Sekolah Dasar. Departemen Pendidikan
    Nasional. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan
    Menengah. Direktorat Pembinaan Taman kanak-Kanak dan Sekolah Dasar.
    Jakarta.
    Anonimus. 2006. Pedoman Peningkatan Kinerja Kepala Sekolah. Departemen
    Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
    dan Menengah. Direktorat Pembinaan Taman kanak-Kanak dan Sekolah
    Dasar. Jakarta.
    Anonimus. 2006. Pedoman Peningkatan Kinerja Sekolah Dasar. Departemen
    Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
    dan Menengah. Direktorat Pembinaan Taman kanak-Kanak dan Sekolah
    Dasar. Jakarta.
    Anonimus. 2006. Tanya Jawab Sekitar Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.
    Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Dinas Pendidikan
    Nasional. Jakarta.
    Rosyada, Dede 2004. Paradigma Pendidikan Demokratis (Sebuah Model Pelibatan
    Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan). Prenada Media. Jakarta.

  4. Prosedur Pelaksanaan DAK Bidang Pendidikan Dari Segi Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
    Menyinggung tentang Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang pendidikan bagi kepala SD dan SMP, dapat melahirkan beberapa perasaan, yaitu senang, dan rasa takut.
    Mengapa 2 perasaan yang amat bertentangan ini dapat berkumpul menjadi satu ? Karena bagi sebagian kepala sekolah, DAK adalah anugerah namun juga bisa berubah menjadi musibah.
    DAK bidang pendidikan, yang fungsinya menurut aturan pemerintah bertujuan untuk membiayai kebutuhan sarana dan prasarana satuan pendidikan dasar 9 (sembilan) tahun di beberapa daerah menjadi ladang pemasukan atau bahkan menjadi “ATM” pihak-pihak tertentu.
    Jumlah bantuan yang bernilai ratusan juta, dan secara nasional berjumlah 9 (sembilan) triliun, merupakan godaan yang amat besar bagi mereka yang berkecimpung di dalamnya.
    Yang menjadi permasalahan, DAK ini disalurkan dari pusat ke daerah dengan tujuan akhir ke satuan pendidikan, yaitu sekolah. Kepala Sekolah sebagai penanggung jawab administratif tertinggi pada satuan pendidikan tersebut merupakan penanggung jawab terakhir penggunaan DAK. Namun, karena posisi mereka yang paling terakhir inilah yang terkadang melahirkan “musibah” bagi mereka. Karena oleh pihak-pihak tertentu yang sebagian besar di atas mereka, DAK dipermainkan sekehendak hati dengan tanggung jawab penuh berada di pundak kepala sekolah.
    Hal tersebut baru satu sisi dari permasalahan yang terjadi pada program DAK bidang pendidikan lain. Sisi yang lain, coba anda tanyakan kepada siapa saja yang bersentuhan dengan program DAK, baik tingkat pusat, propinsi, kabupaten/kota, bahkan tingkat sekolah, bagaimana pengelolaan dan pemanfaatan dana ini di tingkat satuan pendidikan ? Apakah pembelanjaan harus dilaksanakan secara penunjukan langsung, pemilihan langsung, atau bahkan pelelangan umum ?
    Banyak diantara yang pernah saya tanya secara langsung juga bingung dengan jawabannya. Sebagian besar menjawab dengan “sesuaikan dengan juklak” atau “sesuai Keppres No. 80”, atau “namanya juga swakelola, jadi dilaksanakan secara swakelola.”
    Sewaktu saya mengejar dengan beberapa pertanyaan lanjutan mengenai prinsip-prinsip swakelola, sebagian besar masih belum paham terhadap hal tersebut.
    Akhirnya, masih tersisa sebuah pertanyaan besar, yaitu “Apakah pemanfaatan DAK bidang pendidikan harus dilaksanakan melalui tata cara pengadaan yang membutuhkan penyedia barang/jasa atau menggunakan prosedur pembelian langsung ?”
    Pada tulisan kali ini, saya mencoba untuk menyampaikan pendapat saya dalam bidang tersebut.
    Dasar Hukum
    Ada beberapa dasar hukum terhadap program DAK bidang pendidikan ini, dan dasar hukum inilah yang menjadi pokok perhatian utama untuk menjawab pertanyaan di atas.
    1. Dasar hukum pertama adalah Undang-Undang (UU) No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
    o Pasal 49 ayat (3), menentukan: “Dana pendidikan dari Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk satuan pendidikan diberikan dalam bentuk hibah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku”
    o Pasal 53 ayat (3) menyatakan bahwa penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang berbentuk badan hukum pendidikan berprinsip nirlaba dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan.
    2. Dasar hukum kedua adalah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 48 tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan
    o Pasal 83 ayat (1) menentukan: “Dana pendidikan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah diberikan kepada satuan pendidikan dalam bentuk hibah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”
    3. Dasar hukum ketiga adalah Keputusan Presiden (Keppres) No 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
    o Pasal 39 ayat (2), menentukan: “Swakelola dapat dilaksanakan oleh: a. Pengguna barang/jasa; b. Instansi pemerintah lain; c. Kelompok masyarakat/lembaga swadaya masyarakat penerima hibah.”
    o Lampiran I Bab. III, A, 2, c, menentukan: “Swakelola oleh penerima hibah adalah pekerjaan yang perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasannya dilakukan oleh penerima hibah (kelompok masyarakat, LSM, komite sekolah/pendidikan, lembaga pendidikan swasta/lembaga penelitian/ilmiah non badan usaha dan lembaga lain yang ditetapkan oleh pemerintah) dengan sasaran ditentukan oleh instansi pemberi hibah.”
    4. Dasar hukum keempat adalah Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No. 20 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Dana Alokasi Khusus di Daerah
    o Pasal 33 ayat (1) menentukan: “DAK Bidang Pendidikan dialokasikan melalui mekanisme belanja hibah pada sekolah.”
    o Pasal 33 ayat (6) menentukan: “Kepala Sekolah selaku penerima hibah bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan DAK Bidang Pendidikan dan realisasi keuangan di satuan sekolah yang dipimpinnya.”
    o Pasal 33 ayat (7) menentukan: Pelaksanaan program kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dilakukan secara swakelola oleh sekolah selaku penerima hibah dengan melibatkan komite sekolah.”
    5. Dasar hukum kelima adalah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No. 5 Tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Pendidikan Tahun Anggaran 2010
    o Pasal 3 menentukan: “DAK bidang pendidikan tahun anggaran 2010 diarahkan untuk pembangunan ruang/gedung perpustakaan SD/SDLB dan SMP, pengadaan meubelair perpustakaan SD/SDLB dan SMP, penyediaan sarana penunjang peningkatan mutu pendidikan SD/SDLB dan SMP, pembangunan ruang kelas baru (RKB) SMP, dan rehabilitasi ruang kelas (RRK) SMP.
    o Lampiran 1, II, C, 7 menentukan: “DAK bidang pendidikan tahun anggaran 2010 diberikan secara langsung dalam bentuk hibah kepada satuan pendidikan (SD/SDLB dan SMP) dan dilaksanakan secara swakelola, dengan melibatkan Komite Sekolah dan partisipasi masyarakat di sekitar sekolah sebagai bagian integral dari sistem manajemen berbasis sekolah (MBS).
    6. Dasar hukum keenam adalah Surat Edaran (SE) Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen) No. 698/C/KU/2010 perihal Tata Cara Pelaksanaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Pendidikan Tahun Anggaran 2010.
    Dari semua dasar hukum ini, bagaimana proses DAK Bidang Pendidikan ini, khususnya bila ditinjau dari segi pengadaan barang/jasa pemerintah ?
    Prosedur Pengadaan pada DAK
    Penulis sudah beberapa kali bertanya kepada berbagai pihak mengenai DAK Bidang Pendidikan, khususnya dalam kaitan pengadaan barang/jasa. Namun, sebagian besar jawaban yang diberikan bersifat ragu-ragu, apalagi jika dikejar lebih jauh sampai ke tataran teknis.
    Namun, dari sekian banyak jawaban yang diberikan, ada beberapa hal yang merupakan pendapat umum di lapangan. Yaitu:
    • DAK bidang pendidikan itu adalah blockgrant yang diberikan kepada sekolah, dan pelaksanaannya harus lelang;
    • DAK dilaksanakan dengan cara swakelola namun apabila ada tahapan yang membutuhkan penyedia barang/jasa, harus dilaksanakan sesuai Keppres 80.
    • Sekolah tidak boleh menunjuk perusahaan tertentu untuk mengerjakan pekerjaan yang dibiayai dari DAK bidang pendidikan
    • Sekolah tidak boleh belanja langsung untuk membeli kebutuhan yang dipersyaratkan di dalam juknis DAK
    Apakah semua pendapat itu benar ? Mari kita coba kupas satu persatu berdasarkan hukum yang telah disebutkan di atas.
    1. DAK bidang pendidikan adalah HIBAH yang diberikan kepada sekolah (UU No. 20 Tahun 2003, UU No. 9 Tahun 2009, dan PP No. 48 Tahun 2008)
    2. Sekolah berhak untuk mengelola dana hibah secara MANDIRI sesuai dengan aturan pemberi hibah (UU No. 20 tahun 2003 dan Permendagri No 20 Tahun 2009)
    3. Pengelolaan dana hibah dilaksanakan secara SWAKELOLA (UU No. 20 Tahun 2003, Keppres No. 80 Tahun 2003, Permendagri No. 20 Tahun 2009, dan Permendiknas No. 5 Tahun 2010)
    Nah, apa makna dari Swakelola itu ?
    “Swakelola adalah pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan, dikerjakan, dan diawasi sendiri (Keppres No. 80 tahun 2003 Pasal 39 Ayat 1)”
    Apakah Swakelola harus menggunakan metode pengadaan sesuai Keppres No. 80 Tahun 2003, yaitu lelang/seleksi umum, lelang/seleksi terbatas, pemilihan/seleksi langsung, atau penunjukan langsung ?
    Disinilah sering terjadi salah kaprah terhadap swakelola. Banyak yang beranggapan bahwa semua swakelola itu hanya dalam proses pekerjaannya saja, sedangkan apabila ada proses pengadaan di dalamnya, maka harus kembali kepada aturan-aturan pengadaan.
    Yang harus diperhatikan baik-baik adalah, swakelola itu terdiri atas 3 jenis, yaitu:
    1. Swakelola oleh pengguna barang/jasa
    2. Swakelola oleh instansi pemerintah lain non swadana
    3. Swakelola oleh penerima hibah
    Setiap jenis swakelola mengambarkan institusi penyelenggara.
    Swakelola oleh pengguna barang/jasa adalah swakelola yang dilaksanakan oleh pemilik anggaran, seperti Dinas Pendidikan, Universitas, LPMP, dan lain-lain. Sedangkan swakelola oleh instansi pemerintah lain non swadana adalah swakelola yang dilaksanakan bukan oleh pemilik anggaran. Contohnya adalah institusi negeri yang menerima bantuan dana melalui APBN.
    Swakelola oleh penerima hibah adalah swakelola yang dilaksanakan oleh institusi non pemerintah yang memperoleh anggaran dari APBN/APBD.
    Pengertian lebih detail dapat dibaca pada Lampiran 1 Keppres No. 80 Tahun 2003 Bab III, A, 2, a sampai c.
    Kalau begitu, bagaimana posisi DAK Bidang Pendidikan ini ?
    Melihat dasar hukum di atas, maka dapat disimpulkan bahwa DAK Bidang Pendidikan masuk pada 2 pengertian Swakelola, yaitu swakelola jenis ke 2 dan swakelola jenis ke 3 berdasarkan penerimanya.
    1. Penerima DAK Bidang Pendidikan yang berupa institusi negeri, seperti SD/SDLB dan SMP Negeri Swakelola oleh pengguna barang/jasa dan swakelola oleh instansi pemerintah lain non swadana harus menggunakan metode pengadaan sesuai Keppres No. 80 Tahun 2003 apabila di dalam proses swakelola terdapat pengadaan bahan, jasa lainnya, peralatan/suku cadang, dan tenaga ahli yang diperlukan oleh panitia.

    Namun, yang menjadi kendala adalah pada proses pengadaan harus dilaksanakan oleh panitia/pejabat pengadaan, sedangkan sesuai Keppres No. 80 Tahun 2003 Pasal 10 Ayat (4) butir (f), bahwa salah satu persyaratan panitia/pejabat pengadaan adalah memiliki sertifikat keahlian pengadaan barang/jasa pemerintah.
    Patut diketahui, penerima DAK bidang pendidikan ini adalah sekolah yang sudah bisa dipastikan banyak yang belum memiliki tenaga bersertifikat pengadaan barang/ jasa.
    Jalan keluarnya, setelah berkonsultasi dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) adalah bekerjasama dengan Unit Layanan Pengadaan (ULP) yang terletak di Kabupaten/Kota.
    ULP Kabupaten/Kota dapat melakukan pengadaan dengan 2 cara, yaitu dengan menyatukan seluruh pengadaan dalam satu paket dan distribusi kontrak serta hasil dilakukan per-lokasi, atau melakukan pengadaan berdasarkan lokasi. Artinya, bisa saja akan ada 2 jenis pengadaan, yaitu pengadaan bersama dan pengadaan per-sekolah yang semuanya dilakukan oleh ULP setempat.Karena pendanaan berada di Sekolah, maka yang menjadi PPK adalah pejabat pada sekolah tersebut. Kepala Sekolah adalah Pengguna Anggaran dan membuat SK penunjukan PPK yang akan menangani pengadaan barang/jasa di sekolah tersebut. PPK inilah yang akan menyetujui dokumen pengadaan serta menandatangani kontrak pengadaan (apabila ada) dengan penyedia barang/jasa. Walaupun pada Keppres No. 80 tahun 2003, PPK juga diwajibkan untuk bersertifikat ahli pengadaan barang/jasa, namun menurut Surat Edaran Kepala LKPP Nomor 02/SE/KA/2010 Tanggal 11 Maret 2010 disebutkan bahwa PPK yang berada di Propinsi dan Kabupaten diwajibkan memiliki sertifikat pengadaan barang/jasa pada tanggal 1 Januari 2012. Jadi, untuk tahun ini dan tahun depan masih dimungkinkan PPK belum bersertifikat pada lingkup propinsi dan kabupaten/kota.
    Ini memang merupakan sebuah pekerjaan rumah yang amat besar, utamanya mensosialisasikan proses pengadaan barang/jasa sesuai Keppres No. 80 Tahun 2003 kepada seluruh sekolah negeri di Indonesia.
    2. Penerima DAK Bidang Pendidikan yang berupa institusi masyarakat, seperti SD/SDLB dan SMP Swasta

    SD/SDLB dan SMP swasta termasuk ke dalam Swakelola jenis ke 3 yang menurut Lampiran I Keppres No 80 Tahun 2003 Bab III, A, 1, c adalah jenis swakelola yang proses pengadaan barang, jasa lainnya, peralatan/suku cadang, dan tenaga ahli yang diperlukan, dilakukan sendiri oleh penerima hibah.
    Disini terlihat dengan jelas bahwa berapapun nilai pengadaannya, maka proses pengadaannya dilaksanakan sendiri oleh penerima hibah.Jadi, misalnya ada pengadaan buku, maka penerima hibah atau sekolah dapat datang langsung ke toko buku dan membeli buku-buku yang dibutuhkan sesuai dengan petunjuk pelaksanaan yang telah dibuat oleh pemberi hibah. Proses pertanggungjawaban keuangan cukup dengan kuitansi yang dikeluarkan oleh toko buku yang selanjutnya dibuat dan dirangkum dalam bentuk laporan. Demikian juga dengan pengadaan lainnya.
    Tapi, bukan berarti penerima hibah bisa seenaknya membelanjakan dana yang diperoleh dari program DAK bidang pendidikan, karena sesuai dengan Permendagri No. 20 Tahun 2009, tanggung jawab berada di pundak kepala sekolah untuk membelanjakan dana sesuai dengan petunjuk pelaksanaan.
    Juga dalam pelaksanaannya, sekolah wajib melibatkan komite sekolah dan masyarakat sekitar sekolah sesuai dengan Permendiknas No. 5 Tahun 2010.Jadi, tidak ada penunjukan langsung, pemilihan/seleksi langsung, pelelangan/seleksi umum dalam proses DAK bidang pendidikan di sekolah pada jenis swakelola ini. Tidak diperbolehkan menyerahkan pekerjaan kepada sebuah perusahaan atau institusi di luar sekolah, karena proses swakelola oleh penerima hibah harus dilaksanakan sendiri oleh penerima.

    OLEH KRABIL HUTAURUK

    DAK SMP SSN TAHUN 2010
    RAB LAB IPA SMP SSN TAHUN 2010
    Untuk 1 ( satu) Sekolah

    NO NAMA BARANG QTY HARGA JUMLAH
    A PERALATAN FISIKA.
    1 Kit Mekanika SSN 3 set 3, 330, 000 9, 990, 000
    2 Kit Listrik & Magnet SSN 3 set 3, 595, 000 10, 785, 000
    3 Kit Panas & Hidrostatika SSN 3 set 2, 020, 500 6, 061, 500
    4 Kit Optik SSN 3 set 1, 574, 500 4, 723, 500
    5 Alat Umum 1 set 7, 725, 000 7, 725, 000
    Sub Total A : 39, 285, 000
    B PERALATAN BIOLOGI
    1 Alat & Bahan Mikroscope 1 set 6, 610, 000 6, 610, 000
    2 Alat & Bahan Biologi 1 set 9, 086, 500 9, 086, 500
    3 Model Anatomi 1 set 3, 065, 000 3, 065, 000
    4 Alat Peraga Charta, Karta & Bioplastik 1 set 6, 953, 500 6, 953, 500
    Sub Total B : 25, 715, 000
    Jumlah Total : 65, 000, 000
    Terbilang : Enam puluh lima juta rupiah

    Keterangan : CV. ALFIRA
    – Spesifikasi sesuai Juknis & Penilaian Alat IPA SMP
    Direktorat Pembinaan SMP
    – Discount 45% Netto Titut Prastowo
    – Belum termasuk pajak
    – Prangko Solo
    – Peralatan berlogo Perusahaan & Bergaransi 12 bulan

    KIT MEKANIKA
    NO SPESIFIKASI JUMLAH SATUAN TOTAL
    1 Dasar Statif, Alumunium, pak isi 2 3 pak 132, 000 396, 000
    2 Kaki Statif, alumunium, pak isi 2 3 pak 49, 000 147, 000
    3 Balok Pendukung, pak isi 2 3 pak 47, 000 141, 000
    4 Batang Statif Pendek, 250 mm, pak isi 2 3 pak 68, 500 205, 500
    5 Batang Statif Panjang, 500 mm, pak isi 2 3 pak 144, 500 433, 500
    6 Penyambung Batang Statif 3 bh 146, 500 439, 500
    7 Penggaris Logam 50 cm 3 pak 39, 500 118, 500
    8 Neraca Pegas 1, 5 N 3 pak 35, 000 105, 000
    9 Penunjuk Pasang, Sepasang 3 bh 23, 500 70, 500
    10 Tali Pada Roda 3 bh 14, 500 43, 500
    11 Beban Pemberat 50 gr ± 0, 5 gr, pak isi 6 3 pak 144, 000 432, 000
    12 Beban Pemberat 25 gr ± 0, 2 gr, pak isi 6 3 pak 144, 000 432, 000
    13 Neraca Pegas 3, 0 N, Pak isi 2 3 pak 70, 500 211, 500
    14 Jangka Sorong 3 bh 107, 500 322, 500
    15 Balok Aluminium 3 bh 29, 500 88, 500
    16 Jepit Penahan, pak isi 3 3 pak 35, 000 105, 000
    17 Katrol, dia 50 mm, pak isi 2 3 pak 62, 500 187, 500
    18 Katrol, dia 100 mm, pak isi 2 3 pak 94, 000 282, 000
    19 Steker Poros 3 bh 17, 500 52, 500
    20 Batang Pengait, pak isi 2 3 pak 43, 500 130, 500
    21 Tuas 3 bh 25, 500 76, 500
    22 Steker Perangkai, pak isi 2 3 pak 39, 500 118, 500
    23 Batang Perangkai, pak isi 2 3 pak 43, 000 129, 000
    24 Bidang Miring 3 bh 68, 500 205, 500
    25 Pegas Spiral 0, 1 N/ cm 3 bh 25, 500 76, 500
    26 Balok Pergesekan 4 jenis permukaan 3 bh 49, 000 147, 000
    27 Kubus Materi, set isi 6 macam 3 set 146, 500 439, 500
    28 Stop Watch / Jam Henti Analog satu tombol 3 bh 575, 000 1, 725, 000
    29 Kereta Dinamika 3 bh 74, 000 222, 000
    30 Kereta Dinamika dengan motor 3 bh 342, 500 1, 027, 500
    31 Balok Bertingkat 3 bh 21, 500 64, 500
    32 Pengetik Waktu + Pita Kertas 3 set 146, 500 439, 500
    33 Buku Panduan Percobaan 3 bh 58, 500 175, 500
    34 Box ( kotak) & Tray ( dudukan) alat 3 set 266, 500 799, 500
    JUMLAH : 3 set 3, 330, 000 9, 990, 000

    KIT LISTRIK & MAGNET
    NO SPESIFIKASI JUMLAH SATUAN TOTAL
    1 Papan Rangkaian 120 lobang 3 bh 479, 500 1, 438, 500
    2 Penghubung Jembatan, pak isi 10 3 pak 181, 500 544, 500
    3 Jepit Buaya, sepasang 3 pak 21, 000 63, 000
    4 Saklar Tukar, pak isi 2 3 pak 164, 500 493, 500
    5 Inti Besi I 3 bh 36, 000 108, 000
    6 Inti Besi U 3 bh 70, 000 210, 000
    7 Kumparan 250 lilitan 3 bh 94, 000 282, 000
    8 Kumparan 500 lilitan 3 bh 94, 000 282, 000
    9 Kumparan 1000 lilitan 3 bh 94, 000 282, 000
    10 Jepit Steker, pak isi 4 3 pak 109, 500 328, 500
    11 Steker Pegas, pak isi 2 3 pak 44, 500 133, 500
    12 Magnet Batang Alnico 3 pak 154, 000 462, 000
    13 Model Kompas 3 set 42, 000 126, 000
    14 Wadah Sel 3 bh 24, 500 73, 500
    15 Elektroda Tembaga 3 bh 24, 500 73, 500
    16 Elektroda Seng 3 pak 10, 000 30, 000
    17 Elektroda Baja/ Besi 3 bh 10, 000 30, 000
    18 Elektroda Timbal 3 bh 20, 000 60, 000
    19 Resistor 47 Ohm, 2 W, pak isi 2 3 pak 75, 500 226, 500
    20 Resistor 56 Ohm, 2 W, pak isi 2 3 pak 75, 500 226, 500
    21 Resistor 100 Ohm, 2 W, pak isi 2 3 pak 75, 500 226, 500
    22 Lampu LED 3 bh 47, 500 142, 500
    23 Saklar Tunggal ( 1 kutub) 3 bh 41, 000 123, 000
    24 Pemegang Lampu E 10, pak isi 2 3 pak 60, 000 180, 000
    25 Bola Lampu 6.2 V, 0, 3 A, E 10 pak isi 4 3 pak 54, 500 163, 500
    26 Kawat Konstanta 3 rol 80, 500 241, 500
    27 Kawat Nikrom 3 rol 80, 500 241, 500
    28 Kawat Sekring 3 rol 94, 000 282, 000
    29 Kawat Tembaga 3 rol 94, 000 282, 000
    30 Serbuk Besi, 100 gr 3 btl 34, 000 102, 000
    31 Pemegang Baterai lengkap, pak isi 4 3 pak 143, 500 430, 500
    32 Kabel Penghubung Merah, pak isi 2 3 pak 51, 500 154, 500
    33 Kabel Penghubung Hitam, pak isi 2 3 pak 51, 500 154, 500
    34 Batang PVC, pak isi 2 3 pak 34, 500 103, 500
    35 Batang flexiglass, pak isi 2 3 pak 48, 000 144, 000
    36 Kain Wol + Sutra 3 bh 39, 500 118, 500
    37 Magnet Pemetaan/ Ploting Kompas, pak isi 10 3 bh 53, 500 160, 500
    38 Motor Listrik/ Generator 3 bh 362, 000 1, 086, 000
    39 Buku Panduan Percobaan 3 bh 58, 500 175, 500
    40 Box ( kotak) & Tray ( dudukan) alat 3 bh 266, 500 799, 500
    JUMLAH : 3 set 3, 595, 000 10, 785, 000

    KIT PANAS & HIDROSTATIKA
    NO SPESIFIKASI JUMLAH SATUAN TOTAL
    1 Gelas/ Tabung Berpancuran 3 bh 69, 000 207, 000
    2 Gelas Kimia 250 ml ( beaker) 3 bh 25, 500 76, 500
    3 Gelas/ Silinder ukur 100 ml, plastik 3 bh 34, 000 102, 000
    4 Selang Plastik, pak isi 2 3 pak 15, 000 45, 000
    5 Corong, plastik 3 bh 15, 000 45, 000
    6 Penjepit Pendukung 3 bh 19, 500 58, 500
    7 Penghubung Selang Plastik, pak isi 2 3 pak 29, 500 88, 500
    8 Penanda Kedalaman Air ( pelacak tekanan) , pak isi 2 3 bh 176, 000 528, 000
    9 Tabung Plastik Dengan Pengantung 3 set 36, 500 109, 500
    10 Tabung Plastik Dengan Beban 100 gr 3 set 33, 500 100, 500
    11 Labu Erlenmeyer 100 ml, mulut lebar, pak isi 3 3 bh 88, 000 264, 000
    12 Pipa Lubang Kecil Berskala, pak isi 3 3 pak 58, 500 175, 500
    13 Bak Palstik dudukan erlenmeyer 3 bh 317, 000 951, 000
    14 Penunjuk Khusus 3 bh 29, 500 88, 500
    15 Pipa Besi/ Baja 3 bh 37, 500 112, 500
    16 Pipa Alumunium 3 bh 29, 500 88, 500
    17 Pipa Tembaga 3 bh 74, 500 223, 500
    18 Selang Silikon 3 bh 33, 000 99, 000
    19 Pembakar Spiritus 3 bh 68, 500 205, 500
    20 Termometer Skala – 10 s/ d 110° C, pak isi 2 3 bh 29, 000 87, 000
    21 Termometer Fahrenheit ( 0 – 250° F) 3 bh 52, 500 157, 500
    22 Termometer Tanpa Skala 3 bh 39, 000 117, 000
    23 Tabung Reaksi 13 x 100 mm, pak isi 3 3 pak 9, 000 27, 000
    24 Sumbat Karet Kecil 1 Lubang 3 bh 5, 000 15, 000
    25 Sumbat Karet Besar , 2 Lubang, pak isi 2 3 pak 19, 500 58, 500
    26 Sumbat Karet Besar, 1 Lubang, pak isi 3 3 pak 44, 000 132, 000
    27 Sumbat Karet Kecil Tanpa Lubang 3 bh 3, 000 9, 000
    28 Gelas Tiga Arah, pak isi 2 3 pak 52, 500 157, 500
    29 Bola Dari Gelas, pak isi 2 3 pak 3, 000 9, 000
    30 Siring, Suntikan Plastik 50 ml 3 bh 19, 500 58, 500
    31 Siring, Suntikan Plastik, 10 ml 3 bh 24, 500 73, 500
    32 Klem Universal, pak isi 2 3 pak 132, 000 396, 000
    33 Penjepit Klem/ Bosshead, pak isi 2 3 pak 73, 500 220, 500
    34 Buku Panduan Percobaan 3 bh 58, 500 175, 500
    35 Box ( kotak) & Tray ( dudukan) alat 3 bh 266, 500 799, 500
    JUMLAH : 3 set 2, 020, 500 6, 061, 500

    KIT OPTIKA
    NO SPESIFIKASI JUMLAH SATUAN TOTAL
    1 Meja Optik 3 bh 88, 000 264, 000
    2 Rel Presisi, pak isi 3 3 pak 205, 500 616, 500
    3 Penyambung Rel, pak isi 2 3 pak 46, 500 139, 500
    4 Kaki Rel, pak isi 2 3 pak 15, 000 45, 000
    5 Lampu Cadangan 12 V, 18 W 3 bh 15, 000 45, 000
    6 Rumah Dengan Lampu 3 bh 36, 500 109, 500
    7 Pemegang Slide Diafragma 3 bh 15, 000 45, 000
    8 Diafragma 5 celah 3 bh 4, 500 13, 500
    9 Diafragma 1 Celah 3 bh 4, 500 13, 500
    10 Diafragma Anak Panah 3 bh 7, 000 21, 000
    11 Layar Translusen 3 bh 38, 000 114, 000
    12 Lensa Bertangkai F + 50 mm 3 bh 44, 000 132, 000
    13 Lensa Bertangkai F + 100 mm 3 bh 44, 000 132, 000
    14 Lensa Bertangkai F + 200 mm 3 bh 44, 000 132, 000
    15 Lensa Bertangkai F – 100 mm 3 bh 44, 000 132, 000
    16 Tumpakan Berpenjepit, pak isi 4 3 bh 39, 000 117, 000
    17 Kaca 1/ 2 Lingkaran 3 bh 49, 000 147, 000
    18 Prisma Kaca Siku-siku 3 bh 61, 000 183, 000
    19 Lensa Bikonvek 3 bh 54, 000 162, 000
    20 Cermin Kombinasi 3 bh 39, 500 118, 500
    21 Lensa Bikonkaf 3 bh 54, 000 162, 000
    22 Balok Kaca 3 bh 107, 500 322, 500
    23 Pemegang Lilin 3 bh 18, 000 54, 000
    24 Bak Plastik Persegi Panjang 3 bh 88, 000 264, 000
    25 Bak Plastik Bujur Sangkar 3 bh 88, 000 264, 000
    26 Buku Panduan Percobaan 3 bh 58, 500 175, 500
    27 Box ( kotak) & Tray ( dudukan) alat 3 bh 266, 500 799, 500
    JUMLAH : 3 set 1, 574, 500 4, 723, 500

    ALAT UMUM
    NO SPESIFIKASI JUMLAH SATUAN TOTAL
    1 Catu Daya 3 bh 700, 000 2, 100, 000
    2 Timbangan 311 gr 1 bh 1, 750, 000 1, 750, 000
    3 Multimeter Analog 2 bh 475, 000 950, 000
    4 Tabung Penyaringan 3 bh 235, 000 705, 000
    5 Cermin Datar Lipat Dengan Busur Derajad 3 bh 95, 000 285, 000
    6 Meter Dasar, pak isi 2 3 pak 645, 000 1, 935, 000
    JUMLAH : 1 set 7, 725, 000

    ALAT MIKROSCOPE
    NO SPESIFIKASI JUMLAH SATUAN TOTAL
    1 Mikroskop Siswa 3 bh 1, 225, 000 3, 675, 000
    2 Mikroskop Stereo 1 bh 1, 750, 000 1, 750, 000
    3 Perangkat Pemelihara Mikroskop 1 bh 159, 000 159, 000
    4 Preparat Kering Tulang Rawan 2 bh 18, 500 37, 000
    5 Preparat Kering Tulang Keras 2 bh 18, 500 37, 000
    6 Preparat Kering Batang ikotil 2 bh 18, 500 37, 000
    7 Preparat Kering Batang Monokotil 2 bh 18, 500 37, 000
    8 Preparat Kering Akar Dikotil 2 bh 18, 500 37, 000
    9 Preparat Kering Akar Monokotil 2 bh 18, 500 37, 000
    10 Preparat Kering Daun Dikotil 2 bh 18, 500 37, 000
    11 Preparat ering Daun Monokotil 2 bh 18, 500 37, 000
    12 Preparat ering Mamalia, Otot Lurik 2 bh 18, 500 37, 000
    13 Preparat Kering Mamalia, Otot Polos 2 bh 18, 500 37, 000
    14 Preparat Kering Mamalia, Otot Jantung 2 bh 18, 500 37, 000
    15 Preparat ering Sel Darah Merah 2 bh 18, 500 37, 000
    16 Preparat Kering Sel Darah Putih 2 bh 18, 500 37, 000
    17 Preparat ering Paramacium 2 bh 18, 500 37, 000
    18 Preparat ering Hidra 2 bh 18, 500 37, 000
    19 Preparat ering Sperogira 2 bh 18, 500 37, 000
    20 Preparat Kering Jamur Aspergelius 2 bh 18, 500 37, 000
    21 Kotak Penyimpanan Preparat 1 bh 73, 000 73, 000
    22 Kaca Benda, pak isi 50 3 pak 54, 000 162, 000
    23 Kaca Penutup, pak isi 50 3 pak 54, 000 162, 000
    JUMLAH : 1 set 6, 610, 000

    ALAT & BAHAN BIOLOGI
    NO SPESIFIKASI JUMLAH SATUAN TOTAL
    1 Perangkat alat bedah 1 set 244, 500 244, 500
    2 Kotak genetika 3 bh 367, 000 1, 101, 000
    3 Respirometer 3 bh 58, 500 175, 500
    4 Lup/ kaca pembesar 50 mm 3 bh 49, 000 147, 000
    5 Lumpang dan alu 3 bh 58, 500 175, 500
    6 Pelat/ Lempeng tetes 3 bh 49, 000 147, 000
    7 Tabung reaksi 16 mm, pak isi 50 1 pak 244, 500 244, 500
    8 Penjepit tabung reaksi, pak isi 10 1 pak 34, 000 34, 000
    9 Sikat tabung reaksi, pak isi 10 1 pak 48, 500 48, 500
    10 Rak tabung reaksi, 16 mm 3 bh 19, 500 58, 500
    11 Vaselin T 500 gr 1 btl 92, 500 92, 500
    12 Sodium Hydrokside/ Natrium Hydrokside, NaOH 1 btl 92, 500 92, 500
    13 Kertas lakmus Merah dan biru @ 5 bh 3 pak 185, 500 556, 500
    14 Biuret T 500 ml ( resep) 1 btl 342, 500 342, 500
    15 Benedict @ 500 ml 1 btl 305, 500 305, 500
    16 Lugol @ 250 ml 1 btl 305, 500 305, 500
    17 Kapur tohor bentuk padat 2 kg 1 bh 683, 000 683, 000
    18 Termometer badan ( klinik) Air raksa 1 bh 16, 500 16, 500
    19 Hygrometer 1 bh 107, 500 107, 500
    20 Auxanometer, Skala 15 cm 1 bh 440, 500 440, 500
    21 Cawan petri 3 bh 24, 500 73, 500
    22 Pipet tetes, pak isi 10 1 pak 14, 500 14, 500
    23 Gelas kimia 500 ml 3 bh 46, 000 138, 000
    24 Gelas kimia 250 ml 3 bh 34, 000 102, 000
    25 Gelas kimia 1000 ml 3 bh 88, 000 264, 000
    26 Gelas kimia 100 ml 3 bh 30, 000 90, 000
    27 Labu erlenmeyer, mulut lebar, 250 ml 6 pak 88, 000 528, 000
    28 Sumbat karet 1 lubang 6 bh 8, 000 48, 000
    29 Sumbat karet 2 lubang 6 bh 8, 000 48, 000
    30 Silinder ukur 25 ml 2 bh 46, 000 92, 000
    31 Silinder ukur 250 ml 3 bh 112, 500 337, 500
    32 Corong kaca 90 mm 3 bh 44, 000 132, 000
    33 Kaca arloji 75 mm 3 bh 17, 500 52, 500
    34 Batang pengaduk, kaca 3 bh 8, 000 24, 000
    35 Pembakar spiritus, kaca 3 bh 29, 000 87, 000
    36 Kertas saring, pak isi 100 3 pak 61, 000 183, 000
    37 Pipa L 12 bh 25, 000 300, 000
    38 Pipa Y panjang 3 bh 25, 000 75, 000
    39 Kuadrat, dapat dilipat 3 bh 146, 500 439, 500
    40 Statif kotak, batang stenless steel 3 bh 146, 500 439, 500
    41 Klem universal 3 bh 61, 000 183, 000
    42 Bosshead 3 bh 39, 000 117, 000
    JUMLAH : 1 set 9, 086, 500

    MODEL ANATOMI
    NO SPESIFIKASI JUMLAH SATUAN TOTAL
    1 Model Mata Manusia 1 bh 705, 000 705, 000
    2 Model Telinga Manusia 1 bh 1, 325, 000 1, 325, 000
    4 Model Jantung Manusia 1 bh 1, 035, 000 1, 035, 000
    JUMLAH : 1 set 3, 065, 000

    ALAT PERAGA CHARTA, KARTU & BIOPLASTIK
    NO SPESIFIKASI JUMLAH SATUAN TOTAL
    1 Carta Hukum Mendel 1 lbr 73, 500 73, 500
    2 Carta Perkembangbiakan Tumbuhan Generatif 1 lbr 73, 500 73, 500
    3 Carta Perkembangbiakan Tumbuhan Vegetatif 1 lbr 73, 500 73, 500
    4 Carta Hewan Tinggi Generatif 1 lbr 73, 500 73, 500
    5 Carta Sistem Saraf Manusia 1 lbr 73, 500 73, 500
    6 Carta Peredaran Darah Manusia 1 lbr 73, 500 73, 500
    7 Carta Pencernaan Makanan Manusia 1 lbr 73, 500 73, 500
    8 Carta Sistem Eksresi Manusia 1 lbr 73, 500 73, 500
    9 Carta Pernapasan Manusia 1 lbr 73, 500 73, 500
    10 Carta Jaringan Tumbuhan 1 lbr 73, 500 73, 500
    11 Carta Macam-macam Penyerbukan 1 lbr 73, 500 73, 500
    12 Carta Otot Manusia 1 lbr 73, 500 73, 500
    13 Carta Alat Reproduksi Manusia 1 lbr 73, 500 73, 500
    14 Carta Organisasi Kehidupan 1 lbr 73, 500 73, 500
    15 Carta Metamorfosis 1 lbr 73, 500 73, 500
    16 Carta Tahapan Perkembangan Manusia 1 lbr 73, 500 73, 500
    17 Carta Alat Indera 1 lbr 73, 500 73, 500
    18 Carta Sistem Periodik Unsur 1 lbr 185, 000 185, 000
    19 Kartu Binatang, isi 25 buah 2 set 175, 000 350, 000
    20 Kartu Tumbuhan, isi 25 buah 2 set 175, 000 350, 000
    21 Bioplastik Bryophyta, set isi 5 1 set 1, 320, 000 1, 320, 000
    22 Bioplastik Pteridophyta, set isi 6 1 set 1, 585, 000 1, 585, 000
    23 Bioplastik Gymnospermae, set isi 2 1 set 1, 035, 000 1, 035, 000
    24 Buku Petunjuk Penggunaan Alat Biologi 3 bh 293, 000 879, 000
    JUMLAH : 1 set 6, 953, 500

  5. LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL
    NOMOR 5 TAHUN 2010 TANGGAL 1 FEBRUARI 2010
    PETUNJUK TEKNIS
    PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK)
    BIDANG PENDIDIKAN TAHUN ANGGARAN 2010

  6. Syarat Pemberian Dana KUR

    Diartikelkan di

  7. Maridup’s Blog
  8. ; dengan judul Kur-kur…Kur-kur…Kur-kur…
    Silahkan Klik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: