CERITA DIBALIK BONA TAON 2011

Jenia Sertifikat - Piagam Penghargaan

Pesta Partangiangan Bona Taon 2011 (PPBT2011) Punguan Hutauruk & Boru-Bere Jabodetabek (PHBBJ) meninggalkan seribu satu kesan di hati masing-masing pinompar Hutauruk yang menghadirinya. Jumlah kursi yang disediakan ternyata tidak cukup sehingga terlihat berjubel mengisi gedung Pertemuan Corpatarin Utama yang sudah dipakai bertahun-tahun lamanya oleh Punguan Hutauruk & Boru Bere mengadakan Pesta Bonataon. 

KESAN 

Setiap hajatan yang boleh diklasifikasikan cukup besar bermodalkan hampir sekitar 150 jutaan rupiah tentu meninggalkan berbagai kesan baik oleh panitia maupun hadirin. Sebagian hadirin yang sudah cukup lama mengenal suasana pengelolaan kegiatan ini terlihat menyalami panitia sambil menyebutkan ‘Selamat…! Pesta… Sukses! 

Ada kesan surprise karena ada perubahan tampilan dari tahun-tahun sebelumnya, ada yang berkesan semarak karena yang hadir lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya, ada yang berkesan beruntung karena mendapat hadiah 9 doorprize yang diundi termasuk memperoleh barang lelang yang bernilai dan cocok buat seleranya, ada yang berkesan gembira karena anak-anak mendapat saweran sewaktu berjogetria, Ada yang menganggapnya berkesan bersejarah karena berkesempatan tampil sebagai pelajar berprestasi dari mulai tingkat SD, SLTP, SLA, Universitas, adapula yang berkesan bersejarah masuk dalam komunitas Hutauruk di PHBBJ dan ditampilkan sebagai keluarga baru dihadapan ribuan orang. 

Disamping kesan-kesan yang bersifat kegembiraan itu, adapula yang berkesan kurang sreg karena tampilan acara terlihat kurang mulus, atau suasana yang agak semrawut karena kurang tersedianya kursi yang cukup. Ada pula yang menganggap pesta ini biasa-biasa saja karena sudah bertahun-tahun dilaksanakan begitugitu saja sehingga mereka tidak datang dengan sebuah harapan baru di tahun yang baru ini. Adapula yang berkesan bahwa acara ini hanya bentuk seremonial yang menghamburkan uang saja. Adapula yang berkesan bahwa acara ini hanya sebagai ajang unjuk keberadaan saja. Dan semua kesan-kesan yang ditampilkan oleh orang-orang yang ikut dalam acara ini adalah hal yang wajar bagi manusia yang penuh dinamika dan bergaul dalam kekeluargaan marga. 

KOTBAH 

Pdt. Petrus Hutauruk mengawali pembukaan PPBT2011 dalam Acara Kebaktian dimulai pada jam 10:00 WIB.  Thema yang menjadi Khotbah diambil dari Roma: 8: 28 “Allah Bekerja Dalam Segala Sesuatu” dibawakan oleh Pdt. Petrus begitu menggugah. Alur khotbah yang menceritakan seorang pemimpin yang membawa umatnya, seperti Musa, diceritakan sebagai gambaran seorang pemimpin yang selalu mendapat cercaan dari umatnya walaupun sudah diperbuat segala upaya yang terbaik, namun bila tetap dilakonkan dengan sungguh-sungguh dan dijalankan atas petunjuk Tuhan maka missi kepemimpinannya dapat berjalan dengan sukses. 

Pada saat berlangsungnya Acara Kebaktian, memang suasana kursi dibarisan depan terlihat kosong dan tidak seperti biasanya diduduki oleh para tetua dan orang-orang yang dipentingkan di PHBBJ. Suasana ini ditangkap oleh Pdt. Petrus Hutauruk menjadi sebuah ilustrasi bagaimana sebuah kepemimpinan yang ada di PHBBJ seolah tidak lagi ditunjukkan sebagai sebuah tanggungjawab moral kepada komunitas Hutauruk dimana kebanyakan anggota punguan yang hadir menghadiri acara bukan menjadi tanggugjawab moral yang harus selalu didampingi khususnya pada acara seperti PPBT2011 saat ini. Terimakasih atas pencerahan melalui khotbah Pdt. Petrus Hutauruk. 

PANITIA 

Dimanapun kejadiannya, apapun jenis kegiatannya, panitia selalu menjadi muara pujian ataupun hujatan bila kegiatan tersebut berlangsung sukses ataupun tidak sukses. Tidak beda dengan Panitia PPBT2011 – PHBBJ yang melaksanakan kegiatannya pada Minggu, 9 Januari 2011. 

Panitia yang dibentuk kali ini memang dipilih dari luar Pengurus Harian Punguan (PHP), karena ada kesan bahwa personil PHP tidak bersedia menjadi tampuk kepemimpinan kepanitiaan. Kepanitian tahun sebelumnya yang dibentuk dari PHP ternyata menyerahkan kepanitiaan ditengah jalan kepada MPPDU (Majelis Perwakilan Pinompar Donda Ujung) dengan alasan tidak mampu melaksanakannya karena ketiadaan dana.

 Kepanitiaan yang dibentuk untuk PPBT2011 ini, dari aspek keuangan juga mengalami hal yang sama, bahkan panitia terbentuk dalam kondisi terhutang sebelum kepanitiaannya. Untuk pembentukan Panitia PPBT2011, PHP mengadakan Rapat Umum (RU) yang mengundang semua Komisaris Rayon (KR) dan Kordinator Wilayah (KW). Ada sejumlah 53 KR dan 23 KW yang seharusnya hadir dalam rapat ini dan dirasa sudah cukup untuk membentuk kepanitiaan PPBT2011, namun pada RU ini tidak juga terbentuk PPBT2011, sepertinya semua orang sungkan menerima tugas untuk kepentingan semua Hutauruk yang ada di Jabodetabek. 

PPBT2011 terbentuk dan berkewajiban menanggung biaya RU yang menyewa Aula HKBP Kelapa Gading dimana pada saat itu belum terbentuk Panitia PPBT2011. Selain itu, Panitia PPBT2011 harus menyediakan sendiri dananya tanpa mengharapkan dana dari PHBBJ karena ketiadaan dana untuk peruntukan PPBT2011. 

Langkah berikutnya, Panitia PPBT2011 sudah harus mencetak kalender 2011 yang biasanya digunakan sebagai sarana mengundang semua anggota untuk ikut berpartisipasi mendukung kegiatan PPBT2011 dengan harapan partisipasinya diberikan dalam bentuk sumbangan dana sewaktu setiap Komisaris Rayon menagih Iyuran Tahunan Anggota (ITA). 

Dana menjadi salah satu kendala utama Panitia PPBT2011 untuk menjalankan programnya. Rapat RU diadakan beberapa kali untuk mengakomodir pengumpulan dana dari Anggota PHBBJ sampai pada akhirnya PPBT2011 mendapat dana sumbangan anggota sebesar   Rp 14.925.000 (Empat Belas Juta Sembilan Ratus Dua Puluh Lima Ribu RUPIAH) saja. Sementara ITA yang diperuntukkan kepada kegiatan sosial PHBBJ di tahun 2011 terkumpul Rp. 44.596.900 (Empat Puluh Empat Juta Lima Ratus Sembilan Puluh Enam Ribu Sembilan Ratus RUPIAH). 

Sementara disisi lain, Panitia PPBT2011 menjalankan Formulir Donatur (FD) yang disebarkan kepada sejumlah anggota yang potensial untuk mendukung kepanitiaan dalam bentuk dana. Bersyukur bahwa Panitia dengan bekerja keras tanpa putus asa mampu mengumpulkan dana dari donatur sebanyak Rp 83.300.000 (Delapan Puluh Tiga Juta Tiga Ratus Ribu RUPIAH), sehingga Panitia sudah memiliki Rp 98.225.000 (Sembilan Puluh Delapan Juta Dua Ratus Dua Puluh Lima Ribu). 

Walaupun belum mampu menutupi semua budget yang dianggarkan yaitu Rp 155.509.000 (Seratus Lima Puluh Lima Juta Lima Ratus Sembilan Ribu RUPIAH) belum termasuk 10% dicadangkan untuk biaya tak terduga, tetapi Panitia PPBT2011 sudah merasa yakin mampu melaksanakan PPBT2011. 

The show must go on. 98 jutaan itu didistribusikan ke semua fungsi-fungsi panitia, blass….. blasss…. Blassss, amblas lah seketika dana itu karena dana yang terkumpul itu kenyataannya diperoleh pada the very last day of the coming show !  Apa boleh buat…. Memang sudah menjadi tabiat untuk ngutang…. Kebetulan PHBBJ punya uang dari ITA, terpaksalah ajukan pinjaman 46 jutaan. Lega lah panitia dan kwitansi hutang diterima dari Bendahara PHBBJ. 

ACARA 

Lumayan banyak menerima telepon dari berbagai kalangan di komunitas Hutauruk. Ada dari kalangan tetua Hutauruk, ada dari kalangan mantan-mantan, termasuk dari kalangan kepengurusan. Apa komentar mereka? 

Ada yang katakan mengapa porsi berupa acara gembira-gembira tidak diperbanyak? Kan PPBT2011 adalah wujud pengucapan syukur atas perjalanan waktu yang berliku-liku di tahun 2010? Adapula berkomentar, kok tidak ada kesan Budaya Batak? Apa Budaya Batak harus punah perlahan-lahan? Adapula yang berkomentar seharusnya acara untuk anak-anak atau generasi muda harus diperbanyak. Pada hakekatnya anak-anak dan generasi muda harus diarahkan supaya lebih mengenal eksistensi Hutauruk termasuk budaya. Adapula yang berkomentar agar acara kebaktian Kristiani tidak perlu diadakan, karena kenyataan bahwa komunitas Hutauruk di Jabodetabek bukan hanya penganut satu agama, walaupun kaum kristianinya lebih banyak. Bahkan ada yang berkomentar, kita inikan sudah beragama, kok harus pakai ritus-ritus budaya Batak? Yang cukup menghibur bahwa ada yang berkomentar acara tersebut dianggap sukses. 

Bagi kepanitiaan, sebenarnya semua komentar yang disampaikan dapat dibenarkan dan memang perlu mengadakan evaluasi yang serius bila mengadakan acara yang bersifat massal. Namun disisi lain Panitia PPBT2011 cukup merasa bersyukur bahwa Acara itu berlangsung aman dan lancar serta dihibur oleh kelompok Grup Musik Hutauruk, walau disana–sini cukup banyak kekurangan untuk menjadi evaluasi bagi panitia di tahun-tahun depan. 

Kepentingan Apa Bona Taon Dilaksanakan? 

Banyak suara-suara yang mengatakan bahwa Pesta Partangiangan Bona Taon (PPBT) tidak perlu dilaksanakan setiap tahun karena alasan utamanya banyak mengeluarkan dana dan pemborosan. Adapula yang mengatakan PPBT harus tetap dilaksanakan setiap tahunnya. 

Siapa yang mau tau kendala dan hambatan yang dialami oleh Panitia PPBT2011? Tidakkah mereka memahami bahwa PHBBJ membentuk PPBT2011 salah satunya adalah untuk mengupayakan perolehan dana agar kegiatan sosial PHBBJ mampu berjalan melayani anggotanya. Sebagai bahan bandingan bahwa selama periode kepengurusan sebelumnya, pelayanan PHBBJ terhadap anggota adalah melaksanakan Pelayanan Sosial terhadap anggota yang sakit sebanyak 113 kali, untuk Pelayanan Meninggal Dunia sebanyak 82 orang, dan  Pelayanan Adat Perkawinan sebanyak 19 orang yang semuanya harus dijalankan sesuai AD/ART – PHBBJ yaitu berkaitan dengan dana, yaitu untuk Dana Santunan Sakit @Rp 200.000,- Danan Santunan Kematian Anggota @Rp 750.000,- Dana Santunan Adat Perkawinan @Rp 250.000,- 

Bagaimana seharusnya PHBBJ membentuk Panitia PPBT2011? Apabila Panitia PPBT dapat dianggap sebagai salah satu mesin pencari dana, mengapa PHBBJ membentuk Panitia PPBT2011 tanpa dibekali modal awal, bahkan dibebani hutang? 

Apakah setiap anggota sebagai bagian dari komunitas memahami kendala yang dihadapi oleh Panitia PPBT2011 maupun PHBBJ? Kalau memahami, mengapa dukungan keanggotaan begitu jauh merosot dibanding tahun-tahun sebelumnya dalam bidang kepatuhan konsekwensi terhadap ITA? Sebagai contoh bahwa Anggota Punguan memberikan bentuk sumbangan yang dipakai oleh panitia hanya sebesar Rp 14.925.000 atau setara dengan hanya  9,6% saja dari biaya Panitia PPBT2011. 

Apabila kita mengambil data kejadian sosial yang dilaksanakan pada kepengurusan PHBBJ 2009-2010 sebagai pembanding, maka perolehan dana dari Anggota PHBBJ dalam bentuk ITA hanya mampu menjalankan tak sampai 50% kegiatan sosial punguan. Lalu apa solusi untuk menanggulangi kebutuhan dana untuk menjalankan kegiatan sosial? 

Apabila kegiatan sosial menjadi suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh PHBBJ tetapi tidak mampu dilakukan, apakah PHBBJ masih sah dianggap sebagai punguan yang mewadahi semua komunitas terdaftar Hutauruk di Jabodetabek? Apakah mungkin PHBBJ akan bubar atau dibubarkan?

Sudah 48 tahun berdiri PHBBJ sejak berdiri resmi pada Minggu, 7 Januari 1962, kehidupan PHBBJ sepertinya tidak mampu beranjak dari hanya sekedar melaksanakan kegiatan sosial kepada anggotanya saja. Terlihat hampir tak ada program lain dikemukakan oleh PHBBJ atau petinggi Hutauruk untuk mau mencoba berusaha untuk mau melangkah maju, semisal mengaktifkan semua fungsi-fungsi kepengurusan. Kalau PHBBJ memiliki 4 fungsi Ketua ditambah 1 Ketua Umum, maka setidaknya ada 4 program kerja yang harus dijalankan, namun sepanjang tahun yang diperhatikan tentang kegiatan PHBBJ hanyalah sebatas program KAWIN – SAKIT – MATI (KSM) saja. Mengapa hanya Program KSM saja yang dijalankan? Karena tidak memiliki dana ! 

WACANA 

Dalam penggal-penggal acara yang diadakan pada PPBT2011 ada sekilas disebutkan tentang pendirian Gedung Sekretariat Hutauruk, yang sekilas disampaikan oleh Drs. Syarfi Hutauruk – Walikota Sibolga. Apakah pendirian Gedung Sekretariat Hutauruk Jabodetabek merupakan wacana yang hanya sebatas mimpi? Atau apakah anggota PHBBJ mau dan mampu mewujudkannya? 

Untuk kata ‘mau’ saja tentu masih akan banyak pendapat yang akan bergaung diantara yang pro dan kontra. Boleh jadi yang mengatakan pro memang mau dan berniat untuk berbuat sesuatu untuk mewujudkannya semisal dengan menyumbangkan sebuah batu bata atau satu sak semen. Dibalik yang pro tentu ada yang kontra mengatakan tidak akan mau menyumbangkan sesuatu sebutir pasirpun walau memiliki harta dunia selangit

Kata ‘mau’ mengandung makna yang memang keluar dari hati-sanubari, hati yang paling dalam, atau memiliki empati. Menyangkut hati manusia (bukan organ tubuh hati) tentu berkaitan dengan kemerdekaan hakiki yang tidak dapat diganggu gugat oleh orang lain. Walau segudang harta, bila hati mengatakan ‘tidak’, maka kutu kertas yang mungkin bertumbuh subur di hartanya itu tidak akan pernah pindah darinya kepada orang lain. Demikian sebaliknya, walau melarat diharta, bila memiliki empati, maka satu batu bata yang dipungut dari tepi jalan akan mampu diberikannya. 

Kata ‘mampu’ tentu tidak dapat disetarakan sama kepada setiap orang. Seringkali kata ‘mampu’ dikaitkan dengan harta dan keahlian. Apabila mau disinergikan dengan harta dan keahlian, maka apa yang tak mungkin untuk dilakukan? Kebetulan pada kesempatan lain ada terdengar yang bersedia mengisi Gedung Sekretariat Hutauruk itu dengan beberapa set perangkat meubelair perkantoran seperti Meja-Kursi, Lemari Buku, Filing-Cabinet, bahkan computer. Lalu tunggu apalagi? 

Oleh karena itu, sebuah wacana pendirian Gedung Sekretariat Hutauruk, bila diwujudkan dalam bentuk Program Kerja PHBBJ tentu akan bertambah kegiatannya selain hanya menjalankan Program KSM. Mudah-mudahan terwujud. Bravo Hutauruk Jabodetabek.

4 Responses

  1. Terpujilah Yesus Kristus yg. memberkati Amang tua MAridup Ht.uruk hingga tidak sampai malu menjalankan tugas Kepanitiaannya. Himbauan saya, marilah kita dari sekarang belajar merendah kan hati,hindari arogan kekayaan,hindari sikap sok tau. Arogansi, keangkuhan,dan kerakusan kekuasaan tak akan pernah diridhoi Tuhan bahkan akan dipermalukan.Jangan merasa diri pintar sementara orang lain menganggapnya bodoh.dan akuilah kelebihan orang lain. Horas

    • Terimakasih pada amang Pasar Hutauruk atas komentarnya yang sangat membangun dan agar tetap mawas diri.

      Terutama terimakasih atas hadiah paket bukunya yang baru saya terima kemarin tgl 14/1/2011 walau hadiah buku ini sudah saya dengar sekitar 2 minggu yang lalu.

      Sudah saya coba membaca bukunya. Cukup bagus bagi pemula untuk mulai mencitai budayanya. Mauliate. Teruslah berkarya.

  2. Salam hormat buat Hutauruk, boru dohot bere se-Dunia.
    Tuhan senantiasa memberi kesehatan dan rejeki kepada kita pribadi lepas pribadi serta bersyukur selalu atas karuniaNya.
    Lama sudah Pesta Partangiangan Bona Taon Berlalu akan tetapi gaung Hutauruk Boru dohot Bere masih terasa belum mewujudkan mimpinya.
    Mimpi indah itu rupanya masih butuh waktu yang lama dan butuh hentakan gendang yang bertalu-talu.
    Ironisnya bahwa gendang itu tidak terdengar rupanya, maka perlu diganti dengan trompet agar suaranya mengalun bak gemersik air di sungai sigeaon.
    Celakanya aek sigeaon juga mulai mengering akibat gundulnya hutan dan habisnya pohon pinus oleh orang – orang yang haus uang dan ambisi kaya.
    Bangunlah dari tidurmu, wujudkan mimpimu agar musikpun merdu.
    Bravo Pemimpi yang yang indah, dan janganlah putus asa sebab mimpi itu akan indah pada waktunya. saaaaaaaabar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: