Pak Ogah Lebih Mulia Dari Hutauruk?

Ini hanya sebuah cerita imajinasi, belum pernah ada kejadian yang sebenarnya. Nama-nama yang disebutkan adalah sebagai nama imajinatif yang meminjam marga Hutauruk, dan apabila ada nama yang sama mohon maaf, bukan karena disengaja.

Pagi itu Basabasi Hutauruk sebagaimana biasa hendak berangkat pergi ke kantornya. Setelah selesai mandi, sarapan dan berpakaian kantor, lalu dia men-start mobilnya untuk pemanasan mesin. Beberapa saat kemudian dia memanggil istrinya yang juga sedang sibuk mempersiapkan anak-anak akan berangkat kesekolahnya masing-masing: 

“Omak ni Geccor, dia jo hepeng recce i, naeng lao na ma au karejo,” demikian disebutkan Basabasi Hutauruk kepada istrinya untuk meminta uang recehan logam Rp 500 untuk persediaan di perjalanan. “Buat ma disi, adong do di atas meja ni tipi i,” demikian sahut istrinya sambil terus sibuk mengurusi anak-anaknya. Basabasi Hutauruk mengambil beberapa uang recehan Rp 500 logam  lalu pamit untuk berangkat kekantornya. 

Basabasi Hutauruk sudah belasan tahun bekerja dengan mengendarai mobil sendiri ke kantornya. Perjalanan menuju kantornya memang harus mengambil jalan U-turn yang dijaga oleh beberapa orang yang disebut Pak Ogah untuk mengatur pembelokan agar jalan tetap lancar. Memang para pengendara mobil membutuhkan bantuan untuk mengarahkan lalulintas di kesibukan orang-orang yang beraktivitas di Jakarta ini. Bantuan pengarahan pembelokan ini memang biasanya mendapat imbalan atas jasanya Pak Ogah ini oleh para pengemudi. Umumnya mereka mendapatkan Rp 500 logam untuk jasanya itu dan bahkan tak jarang lembaran uang Rp 1000 sering juga diperoleh oleh mereka bila si pengendara mobil merasa terbantu. 

Demikian pula Basabasi Hutauruk secara rutin memberikan imbalan jasa kepada Pak Ogah ini, terkadang dengan memberikan pecahan uang Rp 500 dan tak jarang pula pecahan uang kertas Rp 1000, baik untuk berangkat maupun pulang dari pekerjaannya. Demikianlah setiap harinya dilakukan oleh Basabasi Hutauruk yang rutin bekerja bila dihitung hari kerjanya sekitar 22 hari sebulan selama belasan tahun. 

Di suatu hari setelah Basabasi Hutauruk sampai dirumah sepulang dari kantor, dia disodori sebuah kertas catatan oleh istrinya yang mengatakan bahwa kertas catatan itu ditemukannya terselip di celah teralis jendela rumahnya bersama dengan sebuah Kalender tahun 2011, yang kemudian diketahuinya berasal dari pengurus Rayon Punguan Hutauruk Se-Jabodetabek. Kemudian kertas catatan itu berisi tulisan yang berbunyi: 

“Horas amang, hami pengurus Rayon punguannta do na ro manaruhon Kalender ni punguanta on. Kebetulan ndang mar-gombok pagar ni jabu i, alai naeng diroro panangga panjaga jabu i do hami. Ala so adong jolma na tinggal di jabu, jadi unang pola sungkun-sungkun rohamu molo holan husolothon hami Kalender on di teralis on. Naeng ro dope hami manjumpai hamu amang, dung sidung mambagii kalender on tu angka anggota punguanta di rayon on. Mauliate/ ttd – Nasibdangol Hutauruk.” 

Demikianlah berita dari kertas catatan itu dibaca oleh Basabasi Hutauruk yang kemudian dia bertanya kepada istrinya; “Ai sadia tahe iuran ni punguanta?” “Molo so sala saratus duapulu ribu do ra!” demikian jawab sang istri. Kemudian  Basabasi Hutauruk nyeletuk lagi kepada istrinya; “Bah, ai marga-marga na asing holan onom pulu ribu do?” “I ma da, so binoto on punguan ni Hutauruk on,” demikian balas istrinya, omak ni si Geccor Hutauruk

Memang banyak juga anggota punguan yang kurang memahami fungsi-fungsi sosial yang dilakukan oleh punguan yang sudah berjumlah anggota sekitar 1400 KK seperti misalnya Punguan Hutauruk & Boru-Bere Se-Jabodetabek. Padahal keluarga Basabasi Hutauruk sudah pernah pula menerima beberapa kali santunan sosial sewaktu orangtuanya dan mertuanya meninggal dan bahkan punguan (perkumpulan marga) sudah pernah pula memberikan ulos punguan sewaktu ibotonya boru Hutauruk melangsungkan pernikahan. 

Santunan untuk orang tua/mertua yang meninggal dunia sebesar Rp 500.000, Anggota yang meninggal dunia Rp 750.000, Anggota dan keluarga yang di opname sakit Rp 300.000, Ulos punguan seniali Rp 250.000 sebenarnya menjadi beban yang sangat berat bagi punguan mengingat banyaknya jumlah anggota punguan di Jabodetabek, belum lagi kejadian-kejadian sosial yang terjadi pada Hutauruk yang belum menjadi anggota, yang harus dipertimbangkan sebagai beban moral bagi punguan. Pantas saja setiap periode demi periode Kepengurusan Punguan Hutauruk harus memelas memohon dana bantuan dari para donatur di Punguan Hutauruk. 

Barusaja Basabasi Hutauruk selesai makan malam ketika ada bell berbunyi. Ternyata yang datang adalah Nasibdangol Hutauruk yang menjadi Komisaris Rayon dimana Basabasi Hutauruk berdomisili. “Horas bah” demikian sapaan pertama dari Nasibdangol Hutauruk dan dibalas dengan; “Horas…horas, hundul ma jo hamu,” demikian sahut Basabasi Hutauruk sambil memintakan agar istrinya omak ni si Geccor Hutauruk mempersiapkan suguhan minum. “Ndang pola, ai hami naeng kaliling dope,” demikian sahut Nasibdangol Hutauruk sambil mengeluarkan semacam buku yang diselipkannya di pinggang belakang. 

Pembicaraanpun berlangsung yang intinya adalah uang iuran keanggotaan punguan. Nasibdangol Hutauruk berusaha membawa alur cerita agar Basabasi Hutauruk dapat tersentuh hatinya memberikan bantuan dana kepada punguan karena Nasibdangol Hutauruk tau persis kesulitan yang dihadapi oleh punguan dalam menjalankan perputaran kegiatan sosial, yang juga sudah beberapakali dilaksanakannya di Rayon yang dipimpinnya. 

Kemudian Basabasi Hutauruk berdiri dan melangkah ke-arah kamarnya. Beberapa saat kemudian dia keluar dari kamar sambil memegang tiga lembar kertas berwarna biru. “On ma jo sian hami, iuran ma i dohot sumbangan tolu pulu ribu,” demikian Basabasi Hutauruk membuka pembicaraan sambil menyodorkan Rp 150.000. Nasibdangol Hutauruk terdiam sejenak sambil menuliskan angka-angka itu kedalam daftar isian keanggotaan. 

Pembicaraanpun selesai dan Nasibdangol Hutauruk -Komisaris Rayon bangkit berdiri untuk pamit karena dia harus mengunjungi keluarga lainnya untuk tujuan yang sama. Tanggungjawab sosial ini sudah diemban oleh Nasibdangol Hutauruk sekian periode lamanya, kadang karena keterpaksaan saja sebagai tanggungjawab moral penyandang nama marga. Sepanjang jalan menuju rumah keluarga lainnya, Nasibdangol Hutauruk tak habis pikir untuk merenungkan sulitnya untuk berusaha menghidupkan sebuah punguan marga, bagaimana pula mampu untuk membesarkan punguan ke rencana-rencana yang lebih besar? 

Banyak suka-duka yang pernah dihadapinya sewaktu akan menjumpai dongan-tubunya Hutauruk. Terkadang dia harus disambut oleh gonggongan anjing dan pemilik rumah yang tidak membukakan pintu karena dianggap pengamen atau salesman yang datang. Terkadang hanya disambut oleh pembantu sambil mengatakan ‘Bapak tak ada dirumah’, padahal dari kejauhan si Hutauruk pemilik rumah sudah mengetahui kedatangan dongantubunya. Terkadang kalau janjian menggunakan Telepon, seringpula ditolak dengan alasan punya kesibukan lain. Dan banyak kejadian yang tidak mengenakkan sewaktu mengunjungi rumah dongan tubu, karena tugas sosial yang diemban di punguan

Lalu dia berandai-andai menghitung sendiri apa yang selayaknya mampu diberikan oleh Basabasi Hutauruk kepada punguannya sendiri. Padahal apa yang sudah diterimanya dari punguan, mungkin belasantahun lagi baru terlunaskannya secara materi. “Dimana hatinuraninya?” demikian pikir Nasibdangol Hutauruk. Kalau dipikir-pikir, upak letihnya saja untuk mengunjunginya sampai dua kali yang mengorbankan waktu dan tenaga termasuk bensin sudah tak memadai lagi. Kadang terpikir pula olehnya bahwa lebih baik waktu dan tenaga-materi yang dikeluarkannya itu dibuatnya menggantikan apa yang diberikan oleh Basabasi Hutauruk. 

Sebenarnya Basabasi Hutauruk, lebih mengabdikan dirinya kepada Pak Ogah dibanding kepada punguan marganya. Bahkan dia sudah pernah menerima dari punguan yang sebenarnya tak dapat diukur dengan nilai materi, kok tak ada hati nuraninya muncul kepada sesama semarga dimana dia secara badani sudah menikmati santunan yang juga berasal dari orang semarganya yang ekonominya jauh lebih susah darinya. Bila setiap hari dia mengeluarkan Rp 2000 untuk Pak Ogah maka sebulan dia mengeluarkan sekitar Rp 45.000 dan setahun sekitar Rp 540.000, padahal marganya Hutauruk hanya dihargainya senilai Rp 150.000 saja. Apabila ini kita sebut sebagai sebuah pengabdian, maka Basabasi Hutauruk lebih memuliakan Pak Ogah dibanding saudara sedarahnya. Mungkin sudah banyak yang melupakan petuah-petuah seperti; “Nitaba bulu godang denggan do i mambahen bubu, Tabo ni na mardongan, alai ndang boi mago na mardongan tubu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: