Lamria br. Hutauruk Menderita Kanker

POSMETRO menurunkan berita per tanggal 3 Agustus 2010 berjudul: [Derita Lamria H, Penderita Kanker Payudara ] ”Sakit Nak, di Sini…”
 
Berikut Beritanya:
Lamira HutaurukRumah yang lebih mirip disebut gubuk itu hanya berjarak sepelemparan batu dari Kantor Camat Seibeduk yang megah tersebut. Memang, tak ada yang istimewa dari rumah berdinding triplek yang bagian depan difungsikan untuk berjualan tersebut. Tapi jika Anda melongok ke dalam rumah tersebut, Pembaca mungkin tak akan percaya bahwa di Indonesia yang makmur, gemah ripah loh jinawi ini, masih ada orang bernasib tragis seperti Lamria Hutauruk.Rasa merinding menjalari sekujur tubuh POSMETRO manakala pandangan ini tertuju pada tubuh kurus kering nyaris hanya tersisa tulang-belulang yang tergolek lemah tanpa daya. Lamria, wanita bertubuh layu itu, karena kanker payudara akut yang ia derita, beberapa bulan terakhir ini hanya bisa tergolek lemah di atas dipan. Wanita berusia 52 tahun betul-betul membutuhkan pertolongan.

Tubuh tanpa daya itu benar-benar tanpa daya. Hanya lutut Lamria yang sesekali bergerak, mencoba mencari posisi yang enak menurutnya. Ketidakmampuan Lamria berpindah tempat membuatnya melakukan apa saja di kasur kumal tempat ia tergeletak. Mulai dari makan, termasuk kencing, Lamria hanya bisa mengucurkan begitu saja air kencing di kasur ketika ia kebelet.

Itulah kondisi Lamria, sejak mengidap kanker payudara pada awal 2009 hingga akhirnya Februari 2010, Lamria terpaksa menjalani operasi pengangkatan organ payudara sebelah kanan. Namun yang terjadi sungguh mengerikan. Dua kali, dioperasi namun di akhir Mei kondisi Lamria memburuk setelah bekas operasi di payudaranya mendadak membengkak.

Setelah lima kilogram daging kanker di payudaranya berhasil diangkat di bulan Februari, bulan Mei Lamria harus menjalani operasi yang kedua kali karena penyakit itu semakin menjadi. Namun saat sudah diambil sampel atas organ baru yang menyembul itu dan dilakukan untuk menentukan jenis penyakitnya, hingga kini belum ada keterangan resmi dari dokter RSOB, tempat ia menjalani operasi dulu.

Puncaknya, meski sebelumnya masih bisa melakukan apa saja, termasuk berjalan, akhirnya Lamria harus bergumul dengan kasurnya karena sudah tak bisa berbuat apa-apa. Kepada POSMETRO haru Minggu kemarin, Lamria, dengan kedua kelopak mata yang mencekung hanya bisa berucap kata-kata yang menggambarkan kesedihan yang dirasakan selama ini. Seakan tak kuat menahan uraian air mata, Lamria seperti ingin menjeritkan rasa sakit yang menggerogoti sekujur badannya. Bahkan kelopak matanya yang digenangi cairan bening, tak kuat lagi menahan derai air mata yang ingin dicurahkannya.

Tubuh wanita itu sudah lebih nampak seperti jerangkong hidup, tinggal kulit pembalut tulang. Tulang-tulang rusuknya menyeruak di antara luka bekas operasi yang masih menyembul. Seonggok daging yang menebarkan aroma tak sedap menyeruak di antara bekas luka itu. “Sakit nak, di sini (luka di payudara), mau nafas sesak, “ ujarnya lirih.

Tak ada sanak saudara di Batam, keseharian Lamria selama satu bulan belakangan hanya bisa tergolek di kasur. Kondisi yang sama tragisnya juga terjadi saat sang suami, Darlin Sitompul (52) yang sudah tiga tahun menderita stroke tak bisa berbuat apa-apa. Dengan Darlin yang menderita stroke, dan sang istri yang sudah terkulai tak berdaya di atas kasur, lengkaplah sudah derita yang harus dialami pasangan suami-istri itu. Hingga lantaran tak ada yang mengurus terpaksa keduanya “diceraikan” oleh keadaan untuk sementara. Oleh keluarganya Darlin menjalani pengobatan di kampung di Medan dan Lamria tetap di Batam.

Namun di saat kedua orang tua ini sedang dirundung penyakitnya, kedua anak pasangan Darlin dan Lamria yaitu Tiksiro (9) dan Patnama (6) masih bersemangat sekolah di SDN 05 Bidaayu.

Beruntung dalam kondisi itu, ada Delia (20) sang keponakan yang datang dari Pekanbaru untuk merawat Lamria. Selama tak bisa bangun dari kasur, kata Delia, bibinya itu hanya bisa merintih lirih. Tak banyak asupan gisi yang dikonsumsi Lamria. Bahkan untuk makan sesendok nasi, Lamria harus merem melek lantaran saat mengunyah juga harus menahan sakit yang tak terperikan.

“Kadang kelihatanya dia tidur, tapi kalau ada suara pelan, langsung melek mata,” kata Delia. Jika malam menjelang, saat orang lain terlelap dalam buaian mimpi, mata Lamria terbuka lebar. Kadang mulutnya komat kamit memanjatkan doa. Tak jarang air matanya tiba-tiba menetes, merasakan derita batin karena harus “berpisah” ditinggal suami dan derita fisik karena penyakitnya.

(teguh joko lismanto)

Sumber: POSMETRO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: