ADA APA DI SIPOHOLON?

Penulis baru baru ini bertemu dengan salah seorang dongantubu yang ternyata memberikan apresiasi atas artikel yang pernah saya tulis di www.naipospos.net yang saya posting pada 17 Juni 2008 lalu, dan dongan tubu ini malah meminta data yang sudah saya tuliskan tersebut. Oleh karena itu saya menjadi terusik untuk posting ulang di situs ini karena ada saja pengunjung di situs ini juga tertarik, dan mudah-mudahan dapat berguna. Postingan ini tentu dapat ditelusuri di Naipospos Online yang disebutkan di atas, disamping artikel-artikel lainnya yang sudah pernah di-posting di situs itu.

Oleh : Maridup Hutauruk

ADA APA DI SIPOHOLON?

Kalau mendengar kata ‘Sipoholon’ mungkin orang-orang muda Batak tidak banyak yang tau, tetapi bila ditanya kepada generasi tua tentu Sipoholon akan mengusik kenangan mereka. Mungkin karena mereka pernah melintasinya dari arah Utara menuju Kota Tarutung seperti dari Toba, dari Simalungun, bahkan dari Medan oleh karena sebelum ada Lintas Sumatera Jalur Timur maka satu-satunya Jalan Lintas Sumatera memang melalui Sipoholon-Tarutung menuju ke Timur sampai ke Pulau Jawa. Atau karena dahulunya Kota Tarutung adalah sebagai Pusat semuanya dari Tanah Batak yang di Utara, maka jalur perdaganagan menuju Kota Tarutung yang datang dari Muara, Humbang, Toba, pasti melintasi Sipoholon. Atau para generasi tua dahulu mengenangnya sebagai kota pelajar karena pusat pendidikan di Simanare sangat terkenal. Bahkan Sipoholon pernah terkenal dengan sebutan ‘Sitopa Hudon’ yaitu sebagai daerah penghasil periuk tanah yang sekarang ini disebut sebagai kerajinan ‘gerabah’. Atau mungkin juga para generasi tua dahulu akan mengenang yang disebut ‘Gitar Sipoholon’ yang sangat merdu untuk dipetik oleh pemuda-pemuda dulu untuk merayu para gadis-gadis batak yang cantik perilakunya terutama gadis-gadis Sipoholon. Atau mungkin mereka akan terkenang secara religius karena di Sipoholon terdapat bengkel orgel yang disebut ‘Poti Marende’ yang banyak digunakan di gereja-gereja di Tanah Batak.

Untuk sekarang ini, yang disebut terkenal dari Sipoholon itu sudah sirna semuanya, habis ditelan zaman yang mereka sebut moderen. Tarutung Tidak lagi sebagai pusat perdagangan karena sudah jauh tertinggal dari Siborongborong dan Balige. Hari onan Sabtu di Tarutung hanyalah sebatas pemenuhan kebutuhan warga Tarutung dan sekitarnya seperti kebutuhan akan ikan mas yang datang dari Tapanuli Selatan dan Toba, bahkan babi kampung sudah harus diimpor dari Sialangbuah-Deli Serdang, sehingga Sipoholon bukan lagi sebagai jalur lintas padat. Pembangunan sarana pendidikan yang merata di setiap kota kecamatan di Tapanuli Utara juga mempengaruhi hilangnya pamor Sipoholon. Gelar Sitopa Hudon sama sekali sudah tak pernah terdengar lagi karena memang sama sekali tak ada lagi yang manopa hudon yang dahulu marga Situmeang sangat terkenal sebagi ahli-ahli gerabah. Yang masih terdengar ada 2-3 bengkel gitar Sipoholon yang masih bertahan dengan ciri khas-nya, ditambah dengan meningkatnya pamor pemandian airpanas atau Aekrangat Sipoholon di Siriaria.

Lalu, ADA APA DI SIPOHOLON? Ternyata di Sipoholon akan diadakan hajatan besar yang mengundang seluruh marga-marga Pinompar Naipospos sipitu marga dari seantero dunia, tepatnya berlokasi di Parhutaan Lobu Sibabiat – Dolok Imun, Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara, Propinsi Sumatera Utara, Indonesia, pada tanggal 29 Juni 2008 dimulai pukul 10:00 WIB. Kalau ajaran agama mengatakan ‘Bila dua tiga berkumpul dalam dama Tuhan, maka Tuhan-pun akan ada hadir’. Kalau hajatan ini sudah disebut mendunia dan hadir disana dan ada Tuhan hadir, maka ‘mujijatpun akan terjadi pada hari itu’.

Tuhan itu memang maha gaib dan penuh misteri. Sering kita dengar bahwa rencana Tuhan tiada yang tau, dan apa yang tak mungkin bagi manusia menjadi mungkin bagi Tuhan. Pada judul ‘Pesta Jebeleum 75 Taon Pomparan Naipospos’ tentu manusia akan berikhtiar dengan alam pikirannya berharap mendapat berkat dari Maha Pencipta berupa output kebaikan bagi Pomparan Naipospos, Tuhan memberkati!

Wujud nyata dari pertemuan Pomparan Naipospos di tahun 1933 dan 1983 sudah banyak yang diterima oleh pomparan tersebut. Kita tentu tidak mampu membuat data-data berkat (pasupasu) yang telah diterima oleh Pomparan Naipospos. Perjalanan hidup Pomparan yang sudah berkembang biak mengisi bumi setelah partangiangan di tahun 1983 tentu merupakan pasupasu yang tidak bisa diukur dengan angka-angka bila dibandingkan dengan suku melayu yang ada di Tanah Deli yang sudah hilang dari peredaran dibonapasogitnya sendiri, atau suku Betawi di Jakarta yang juga demikian. Oleh karena itu, apabila kita pinjam umpasa dari bangsa Great Britain yang mengatakan ‘Man proposes God disposes’ yang kira-kira disebut ‘Manusia merencanakan Tuhan menentukan’ maka dapatlah kirakira berkat apa yang akan dilimpahkan kepada Pomparan Naipospos di masa depan, misalnya:

A. Raja-raja dari sipitu marga Pomparan Naipospos beserta semua pomparan yang hadir akan memanjatkan doa kepada Tuhan Pencipta Alam Semesta agar diberikan berkat-berkat berkelimpahan. Kalau jaman dahulu disebutlah ini sebagai ‘Martonggo’ yaitu secara ritual berhubungan langsung dengan Tuhan Pencipta Alam Semesta. Di zaman nabi-nabi orang Jahudi seperti Nabi (Raja) Daud dan Nabi (Raja) Sulaiman yang agung itu, dalam hal memohon kekhususan dari Tuhan berlaku juga hubungan-hubungan dengan Tuhannya secara sakral seperti ini dan meminta seorang nabi agung untuk mengundang Tuhan itu hadir. Makna ‘doa’ dalam wujud langsung berhubungan dengan Tuhan Pencipta Alam Semesta sebagaimana yang akan berlangsung pada Pesta Jubeleum ini tidaklah sama dengan ‘doa’ yang sering dicetuskan oleh seseorang dengan rentetan permintaan bertubitubi bagaikan muntahan peluru mitraliur dan bahkan tanpa disadari menyuruh tuhannya memenuhi semua kebutuannya dan menempatkan tuhannya itu seolah babu dan pesuruh atas kemauannya. Doa khusus yang akan dipanjatkan di Dolok Imun pada tanggal 29 Juni 2008 adalah ‘doa’ berupa perjanjian yang termateraikan antara Pomparan Naipospos dengan Tuhan Pencipta Alam Semesta. Kalau perjanjian yang termateraikan tentu saja kedua belah pihak yaitu Pomparan Naipospos dan Tuhan harus memenuhi syarat-syarat yang termateraikan tersebut. Kalau syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh Tuhan Pencipta Alam Semesta sudah pasti ‘BERKAT-BERKAT YANG BERKELIMPAHAN’, sementara syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh Pomparan Naipospos hanya Pomparan Naipospos sendirilah yang tau. Kalau syarat-syarat dari dua pihak ini ada yang tidak terpenuhi maka dapat dikatakan ‘Perjanjian yang termateraikan itu’ disebut ‘batal demi…….’

B. Pomparan Naipospos mungkin akan meminta legitimasi atas Bonapasogit Naipospos ini dari Raja di Pemda Tapanuli Utara. Legitimasi ini tentu akan disambut oleh Pomparan Naipospos untuk mendirikan kembali sebuah Huta Naipospos. Di zaman kemuliaan Naipospos dahulu bahwa sebuah Huta tentu harus berdasarkan perhitungan-perhitungan Ilmu Parumaon Batak kuno. Kalau di Cina terdapat yang disebut ‘The Forbiden City’ yang hitungannya berdasarkan ilmu Feng Sui maka Batak-pun demikian. Mujizat pun datang dan Huta Naipospos pun ada di Dolok Imun. Sewaktu memasuki Huta Naipospos maka kita akan melewati sebuah lapangan rumput yang disebut bahal dimana ternak kerbau yang dimiliki Naipospos berkeliaran mencari makan. Dalam legendanyapun diceritakan bahwa dahulu apabila kerbau-kerbau Naipospos manguge maka Aek Sigeaon pasti keruh. Sekarang ini Aek Sigeaon tetap keruh walau tak ada kerbau milik Naipospos yang manguge di kawasan hulunya. Ketika melewati bahal maka kita akan sampai di harbangan huta dimana di kiri kanan harbangan itu terdapat sopo yang tak berdinding dimana para muda-mudi biasanya bercengkerama memainkan gitar Sipoholon. Sesaat memasuki Huta Naipospos yang dikelilingi oleh benteng gundukan tanah setinggi sekitar 1,5 meter yang ditumbuhi oleh pohon-pohon bambu berduri yang dimaksudkan sebagai pertahanan dari serangan musuh dan menangkal terpaan angin. Disebelah kiri setelah memasuki harbangan yang disebut daerah Jabu Suhat terdapat jejeran ruma (Rumah Adat Batak) diantaranya terdapat juga sopo yang digunakan sebagai lumbung padi dan biasanya ditempati oleh marga boru Naipospos, kemudian disebelah kanan yang disebut daerah Jabu Tampar Piring terdapat jejeran ruma yang dulunya ditempati oleh para tamu-tamu raja. Berjalan kearah dalam maka dikiri dan kanan kita temukan jejeran ruma yang disebut daerah Jabu Tonga yang biasanya ditempati oleh 7 marga Pinompar Naipospos. Kemudian lebih dalam lagi akan kita temukan ruma di ujung sebelah kiri yang disebut daerah Jabu Soding yang dulunya ditempati oleh keturunan Naipospos yang belum nikah. Lalu disebelah kanan dalam huta terlihatlah ruma Raja Naipospos sebagai ruma parsaktian yang berdiri di daerah Jabu Bona dimana Raja Naipospos bertahta. Halaman yang luas diantara deretan ruma dikiri-kanan yang di arah harbangan disebut Talaga, sementara di daerah tengah disebut Pogu ni Alaman, dan disebelah dalam di depan istana Naipospos disebut Alaman Julu. Demikianlah huta Naipospos di hamparan kaki Dolok Imun dengan rancangan yang memenuhi ukuran untuk melaksanakan pesta besar ‘horja’ bahkan ‘horja bius’ dapat dilangsungkan. Huta spesifik Batak ini tentu akan menjadi objek wisata yang akan meningkatkan pendapatan daerah dan menghidupkan kegiatan perekonomian masyarakat sekitar, disamping dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum untuk hajatan pesta-pesta adat.

C. Legitimasi Pomparan Naipospos berlanjut kepada pengolahan lahan yang terlantar di hamparan kaki Dolok Imun. Disamping tanaman rakyat berupa padi sawah, padi darat, jagung, dan palawija, juga ditumbuhi tanaman produktif seperti kopi sigararutang, mangga, jeruk, apel, dan lain-lain yang dengan sendirinya bahwa Pomparan Naipospos ikut melestarikan alam yang mendukung program dunia yaitu Global Warming, daripada hanya ditumbuhi ramba-ramba, sampilpil, dan arsam. Duniapun akan melirik…….

D. Pinompar Naipospos pun memiliki wadah berbadan hukum yang mengelola Dolok Imun dan hamparan lahan yan luas itu. Perjanjian dengan Tuhan yang termateraikan itu akan membawa ‘berkat-berkat berkelimpahan’ Amin.

Pada masa Tapanuli Utara masih satu sebelum ada pemekaran sudah terdapat penduduk miskin sebanyak 5.626.569 jiwa berdasarkan SUSENAS tahun1984. Pada saat Tapanuli Utara setelah pemekaran hanya berpenduduk sebanyak 262.642 (dua ratus enam puluh dua ribu enam ratus empat puluh dua) jiwa berdasarkan pendataan April 2003. Kalau melihat data ini maka kita akan bertanya; Kemana hilang penduduknya?

Pada tahun 1956 Kabupaten Tapanuli Utara dipecah menjadi dua yaitu Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi. Pada tahun 1998 Kabupaten Tapanuli Utara dimekarkan (diciutkan?) menjadi dua lagi yaitu Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Tobasa. Pada tahun 2003 Kabupaten Tapanuli Utara diciutkan lagi menjadi dua yaitu Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Humbang Hasundutan. Tapi walaupun Kabupaten Tapanuli Utara yang sejak tahun 1956 sudah dipecahpecah kok bisa penduduknya hanya berjumlah 262.642 jiwa di tahun 2003? Kemana perginya? Ternyata penduduknya mutasi ke lain daerah mungkin karena tak adalagi tanda-tanda kehidupan di Tapanuli Utara yang ibarat kertas peta sudah dikoyak-koyak tersebut.

Lalu, kalau penduduknya hanya tinggal sedikit dibanding hanya penduduk miskin yang 5.626.569 jiwa di tahun 1984 maka dapatlah dipastikan penduduk Tapanuli Utara yang 262.642 jiwa di tahun 2003 sudah pasti MISKIN. Argumentasi lain yang memastikan penduduk Tapanuli Utara miskin adalah bahwa jumlah banyak penduduk yang migrasi ke daerah lain itu tentu saja yang lebih berkemampuan dayasaing di daerah lain sementara di daerahnya Tapanuli Utara mereka tidak berpeluang untuk maju atau memang sudah mereka pastikan tidak bakal ada kemajuan bagi mereka karena memang tidak ada iklim yang memajukan mereka. Tragis…..

Sipoholon adalah wilayah kecamatan yang berbatasan dengan Kecamatan Parmonangan di Utara, Kecamatan Andiankoting di Selatan, Kecamatan Tarutung di Timur, Kecamatan Parmonangan di Barat, Kecamatan Pagaran di Barat Daya seharusnya dapat menjadi pusat kegiatan perekonomian untuk 5 kecamatan yang mengelilinginya. Sipoholon sebagai satu diantara 15 kecamatan di Tapanuli Utara berjumlah penduduk 20.409 jiwa atau sekitar 7,8% dengan luas wilayah 189,20 km2 atau 5% dari luas wilayah Kabupaten Tapanuli Utara yang 3793.71 km2 , tentu pula semuanya miskin. Kok bisa miskin…? Luas lahan sawah di Kec. Sipoholon adalah 1.100 hektar yang dikelola oleh 4.383 Kepala Keluarga (KK) atau dengan ratio kependudukan sekitar 4,65 jiwa/KK, atau penguasaan sawah sekitar ¼ ha/KK.

Apabila produktifitas sawah dianggap sama dengan sawah unggulan di Sumatera Timur seperti Deli Serdang yang mampu menghasilkan 4 ton gabah/ha, maka di Kec Sipoholon akan menghasilkan rata-rata 1 ton gabah/KK yang setara dengan sekitar 600 kg beras untuk menghidupi 4,65 Jiwa/KK, atau sekitar 129 kg/jiwa. Oleh karena sawah di Sipoholon bermusim tanam 1 x dalam setahun maka produksi 129 kg/jiwa tersebut harus mampu memenuhi kebutuhan setiap jiwa dalam setahun atau kira-kira 0,35 kg/jiwa/hari, atau 3,5 ons/jiwa/hari. Padahal untuk satu orang di kampung membutuhkan minimal 2,5 ons per sekali makan untuk mampu memenuhi kalori hidup dalam sehari yaitu untuk memenuhi kalori kerja, beraktivitas lainnya, dan juga kalori untuk mengatasi cuaca dingin. Padahal kenyataannya sawah yang digarap oleh setiap keluarga rata-rata tidak ada yang mengelola sampai 2.500 m2 (¼ ha)/KK. Untuk mengelola ladang dan kolam ikan tentu tidak adalagi energi mereka, bagaimana pula untuk mampu menyekolahkan anak? Bagaimana pula mampu untuk hidup sehat dengan pola makanan ‘4 sehat 5 sempurnah’? Bagaimana pula untuk kebutuhan sandang dan papan dimana dari 50 tahun kebelakang yang disaksikan bahwa perumahan masyarakat tidak ada yang berubah dan bahkan untuk mengganti lantai dan dinding yang sudah keropos sudah tidak mampu, apalagi untuk menyediakan jamban untuk MCK? Dan yang paling tragis bahwa mungkin institusi gereja dan rumah ibadah yang berlipatlipat lebih banyak dari jumlah desa sudah tidak lagi dikunjungi tuhannya untuk membina moral dan spiritual umatnya. Maka kalau mereka menyandang gelar ‘Peta Kemiskinan’, itu sudah menyangkut kemiskinan segala-galanyanya. Sungguh-sungguh sangat tragis……

Raja adalah panutan….., maka seorang raja di Tapanuli Utara yang menaungi kecamatan-kecamatannya seperti Sipoholon tentu harus mampu menyelamatkan rakyatnya dari kepunahan. Indikasi kepunahan sudah tampak dari berkurangnya jumlah penduduk dengan sangat drastis dari jumlah 5.626.569 miskin menjadi hanya seperduapuluh saja yaitu 262.642 semua miskin juga.

Dari 21 raja yang pernah berkuasa di Tapanuli Utara sejak merdeka tahun 1945 yaitu dimulai dari Bupati C. Sihombing, maka hanya satu dua saja putra daerah asli yang menjadi raja di daerahnya, apalagi raja dari Pomparan Naipospos sama sekali tak pernah ada. Jangankan untuk raja eksekutif, untuk menjadi raja legislatif saja tak pernah ada, kemana mereka pergi…? Ini adalah fenomena menarik yang perlu direnungkan walau hanya untuk direnungkan sekejap saja pada tanggal 29 Juni mendatang. Mungkin Pomparan Naipospos berpandangan: ‘untuk apa menjadi raja hanya untuk 200 ribuan rakyat? Atau buat apa menjadi raja untuk rakyat miskin? Atau karena memang belum ada yang pantas untuk menjadi raja?’.

Menjelang runtuhnya kewibawaan Raja Sisingamangaraja-XII Ompu Pulo Batu (1871-1907), sebenarnya ada pengalihan harajaon-nya kepada Raja Mulia Naipospos (Hutauruk) walaupun harajaon itu bersifat keagamaan (Parmalim) yang kemudian pamornya tenggelam ditelan semaraknya pergerakan menuju kemerdekaan di berbagai kawasan Indonesia. Syukur Parmalim masih ada eksis sebagai salah satu wadah pelestari habatakon yang dipimpin secara turun temurun oleh keturunan Raja Mulia. Pernah pula pada masa pemerintahan Sisingamangaraja-X Ompu Tuan Nabolon (1819-1841), Sisingamangaraja-XI Ompu Sohahuaon (1841-1871) sampai Sisingamangaraja-XII Ompu Pulo Batu (1871-1907) yang menerapkan opat harajaon yang dipimpin oleh raja yang disebut Raja Naopat untuk 4 wilayah di Tanah Batak.

Untuk wilayah Simalungun dipimpin oleh 4 raja maropat yakni marga Damanik, marga Purba Dasuha, marga Purba Tambak, marga Sinaga, dan salah satu dari raja maropat ini menjadi Raja Naopat yang langsung sebagai mewakili harajaon Sisingamangaraja di wilayah Simalungun.

Untuk wilayah Silindung dipimpin lagi oleh 4 raja maropat yaitu dari marga Hutabarat, Hutapea, Sitompul, dan Hutauruk (Raja Ela Muda) sebagai siahaan ni harajaon menjadi satu diantara 4 dari raja maropat yang menjadi Raja Naopat sebagai mewakili harajaon Sisingamangaraja di Silindung dan disebutkan beliau meninggal dunia pada usia 120 tahun. Pinompar Raja Ela Muda masih ada bermukim di Hutagurgur Sosor Sipoholon, dan menurut ceritanya banyak juga pemuda Hutauruk dari huta ini yang di culik Bonjol semasa Paderi, termasuk kakak Raja Ela Muda bernama Bona.

Kalau pada zaman sebelum kemerdekaan sudah ada raja pemerintahan dari pomparan Naipospos, kok setelah Indonesia Merdeka malah menjadi tak ada? Mungkin tongotonggo (doa) di tahun 1933 dan 1983 kurang begitu manjur atau memang ada perjanjian termateraikan yang tidak dipenuhi?

Di Sipoholon terdapat sejumlah 5.024 ha lahan layak sawah yang tidak diusahaai, Ada terdapat seluas 2369 ha lahan ladang yang sifatnya hanya diusahaai seperlunya saja sehingga tidak mampu mendukung ekonomi keluarga. Ada juga seluas 5763 ha hutan rakyat yang tak pernah dimanfaatkan bahkan kayu-kayu pinus yang ditanami 40 tahun lalu oleh generasi terdahulu telah habis ditebang dan dijual dengan harga Rp 150.000 – 250.000 per pohon dan penebangan tersebut tidak ditanami kembali sehingga terancam tandus karena topsoil menjadi tergerus habis. Sungguh besar potensi lahan yang seharusnya mampu menghindar dari gelar ‘peta kemiskinan’.

Disamping potensi pertanian yang masih mampu untuk memakmurkan, maka Sipoholon pun mempunyai bahan galian alam yang berpotensi besar. Jenis tanah hitam yang dulunnya digunakan untuk hudon tano masih terdapat di kawasan huta Simanungkalit. Penggalakan industri rumah untuk kerajinan gerabah ini tentu mengaktifkan kegiatan masyarakat sebagaimana terdapat di Pleret-Jabar.

Pemanfaatan pasir Aek Sigeaon yang tidak pernah habis-habisnya dan bahkan sekarang ini mengancam bobolnya tanggul akibat terjadinya pendangkalan oleh pasir di hilir sungai.

Pemanfaatan batu kapur di Huta Situmeang seharusnya mampu diolah menjadi industri keramik dan marble seperti di Padalarang-Jabar. Dan yang paling menggiurkan adalah potensi panas bumi di Siriaria untuk pembangkit listrik berkapasitas besar, disamping dapat juga dimanfaatkan untuk disalurkan melalui pipa sebagai heater untuk rumah-rumah dan hotel-hotel yang mendukung kepariwisataan sebagaimana hot spring water ini banyak termanfaatkan di Amerika dan Eropa.

Potensi wisata dan hasil hutan seperti getah haminjon juga belum termanfaatkan. Mungkin Pomparan Naipospos akan mengatakan “Darimana uang untuk mengelola itu?” padahal barusaja mereka katakan teken kontrak dengan Tuhan, dan tuhanpun pasti tak ingkar janji! Mau apalagi…… Maha Pencipta cukup bermurah hati menyediakan tempat yang alamnya kaya seperti Sipoholon.

Mudah-mudahan ‘Pesta Jubeleum 75 Taon Pomparan Naipospos’ yang akan dilaksanakan pada tanggal 29 Juni 2008 pukul 10.00 WIB di Parhutaan Lobu Sibabiat, Dolok Imun, Kec. Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara, Propinsi Sumatera Utara, Indonesia akan berlangsung semarak, khusuk, menyenangkan dan yang terpenting segala doa-doa harus menjadi kontrak termateraikan dimana Tuhan dan Pomparan Naipospos saling konsekwen. HORAS. (mph)

One Response

  1. terimakasih infonya bro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: