Pesan Pendek Dari KRABIL HUTAURUK

Pesan dibawah ini dipetik dari ruang comment yang dianggap penting untuk ditampilkan sebagai sebuah artikel pendek yang isinya perlu direnungkan yang mungkin sudah menjadi realita kehidupan kaum Batak di parserakan. Berikut ini adalah tampilannya menurut KRABIL HUTAURUK:

Oleh Krabil Hutauruk

Pergeseran Nilai ADAT bagi putra/putri Orang Batak terutama yang tinggal di tano parseharan.

Penulis sangat prihatin melihat kondisi halak hita (Batak Toba) yang tinggal di perantauan terhadap adanya pergeseran nilai Adat ” Dulu orang yang dianggap baik adalah orang yang jujur dan punya integritas, punya karakter, akan tetapi sekarang lain. Orang diukur dengan Harta, Pangkat, Jabatan, dan lain predikat yang ada disandang yang bersangkutan.

Kenyataan sangat terasa setelah penulis pindah dari Sulawesi ke Jabodetabek sejak tahun 1998. Keberhasilan seseorang, status sosialnya dinilai dari harta yang dimilikinya, bukan dari pribadinya. Hal itu dapat dilihat pada acara pesta kawin atau acara adat lainnya, Jika yang bersangkutan adalah orang yang berpunya maka yang hadir sangat membludak walaupun acara tersebut merupakan acara kecil, akan tetapi jika yang bersangkutan adalah orang yang tidak berpunya, maka famili dekatpun tidak hadir dengan berbagai macam alasan. Pernah penulis membaca tulisan dalam salah satu majalah Batak bahwa ADAT merupakan singkatan dari “ADONG, DIIBA, ADONG , TONDONG” yang memiliki arti Jika Kaya banyak Famili dan jika kurang punya jadi sebaliknya.

Dulu penulis masih tinggal di Bonapasogit dan berdomisili di Sulawesi tidak demikian, artnya pergeseran nilai tersebut tidak begitu terasa masih benar-benar famili adalah famili .

Menurut hemat penulis hal ini terjadi karena :

  1. Gersangnya rohani,
  2. Tingginya harga diri,
  3. Mencari prestise dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya tanpa asah, asuh dan asih, serta tidak berkrakter,
  4. Acuh terhadap Dalihan Natolu,
  5. Kurangnya perhatian orang tua untuk menanamkan tentang adat pada putra/putrinya,
  6. Tingginya biaya pelaksanaan Adat di Jabodetabek,
  7. Adanya perasaan dan pikiran bahwa adat hanya bagi orang yang berpunya,
  8. Menonjolkan individualisme atau takut didahului orang lain,
  9. Malu jika dikatakan orang batak dan bangga jika disebut orang lain kayak bukan orang batak,
  10. Bangga jika yang bersanngkutan tidak tahu bahasa Batak.

Nah…! Menurut penulis, bagiamana sikap orang batak terhadap ADAT ? dan apa sesungguhnya yang harus ditanamkan orang tua kepada putra/putrinya agar terhindar dari kekuasaan Materi, prestise. Sehingga menjadi orang yang Setia dan Iman., peduli akan sesama dan menempatkan nilai kemanusiaan di atasnya. Serta baik dalam pergaulan adat maupun dalam profesi dan kemasyarakatan lainnya.

JADILAH ORANG BATAK YANG PINTAR YANG BERKRAKTER DAN TIDAK RAGU – RAGU, MALU, DARI PADA ORANG BATAK YANG TIDAK PEDULI TERDAPAT ADAT DALIHAN NATOLU.

HORAS

2 Responses

  1. Thanks untuk artikelnya. Memang istilah plesetan ADAT = Adong Diiba Adong Tondong sering terdengar sebagai refleksi kekecewaan bagi sebagian orang yang sudah jauh memahami Dalihan Na Tolu. Mungkin tren ini muncul akibat populernya lagu ‘Anakhonhi Do Hamoraon Di Au/ahu’ yang terdapat baitnya berbunyi ‘Hamoraon Hagabeon Hasangapon (Ha Na Tolu)’ sudah menggeser makna Dalihan Na Tolu. Tetapi yang jelas artikel ini memang perlu direnungkan….

  2. SIAPA ITU ORANG BATAK ?????

    Di bumi nusantara mulai dari Desa sampai dengan kota – kota pasti ada orang batak yang berdomisili disana, baik sebagai buruh kasar, petani, pedagang, guru, dosen, pengamen, sopir, nahkoda, pilot, pegawai bawahan, pejabat, pengacara, jaksa, hakim, dokter, tentara, polisi, bahkan sebagai pengusaha, konglomerat, pendeta, politikus dan profesi lainnya ,.
    Kemudian yang menjadi pertanyaan sesungguhnya adalah ” siapa itu orang Batak ” ? sudah barang tentu jawabannya bahwa orang batak adalah orang yang , gigih untuk mencari harta, pangkat, jabatan, ( H3 = Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon ), paling sulit diatur, keras kepala dan , dan suka dipuji serta taat pada adat / budaya ( Dalihan na tolu ) .
    Tidak dapat dipungkiri bahwa ciri khas orang batak adalah orang yang paling sulit diatur , dan paling banyak menggunakan pikiran dari pada tenaga ( suka mengatur ) sehingga tepatlah apa yang pernah dikatakan oleh Presiden I RI ( Bung Karno ) yaitu ” Berpikirlah seperti Orang Batak, Bekerjalah seperti Orang Jawa dan Berdaganglah seperti Orang China .
    Kemudian ada satu kesan yang tidak pernah penulis lupakan, pada saat penulis ngumpul – ngumpul disuatu tempat ( Rumah makan Manado ” Tareran ) muncul satu cerita salah seorang teman yang ngumpul itu berasal dari Papua ( orang Wamena namanya : Yulius Salaki ) nyeletuk ” eh tau ngak itu si Batak ” ? di jawab teman yang satu oh….tentu kaulah yang lebih tau dari pada kitorang, kan istrimukan orang batak marga tobing ? ya….ya…ya justru itulah yang membuat aku heran dan tidak habis pikir, kenapa orang batak itu keras kepala, sulit diatur, dan keras hati pula.
    Nah….berarti kitorang lebih tau tentang sibatak itu dari pada ngana tohhhhh. ahhhhh bukang itu masalahnya selah orang papua itu. Terus sapa sebenarnya si batak ???? Torang tau si Batak itu keras dan sulit diatur tapi jangang salah torang tau kelemahannya, kalo bagitu apa dang kelemahannya nih biar kitorang tau sekeras-kerasnya orang Batak pada saat Pesta Adat apapun Pangkat, Jabatannya maupun kaya yang namanya Boru tugasnya adalah MARHOBAS /’ Parhobas.
    Jadi janganlah merasa bahwa orang batak ngak bisa diatur atau keras kepala . Okey /////////////

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: