Jabalos Simbolon bercerita tentang Berkat Anugrah

Kisah ini dipetik dari pontianakpost.com berjudul MENGUNJUNGI KAMPUNG BOCAH PENDERITA HIV/AIDS, Dibawa ke Ladang – Rumah Nenek Diisukan Dibakar. Posted: Sabtu, 25 April 2009 , 12:13:00

Berkat Anugrah Hutauruk (4 tahun 7 bulan)

Memori hidup Berkat Anugrah Hutauruk (4 tahun 7 bulan) bersama keluarganya, penuh liku tak terperikan. Susah, terasing, disingkirkan, hidup nomaden dan diterpa isu rumah neneknya telah dibakar, Jumat (24/4) pagi.

= Jabalos Simbolon, Medan =

PERJALANAN panjang diterpa angin malam Kamis (23/4) pukul  23.15 tak terasa mulai dari Medan. Sopir mobil antar kota dalam provinsi (AKDP) Bintang Tapanuli, menginjak gas dalam-dalam. Laju mobil jenis Mitsubishi L-300 terasa lambat di bawah siraman gerimis.

Wartawan koran ini menumpangi mobil itu menuju Tapanuli Utara, ratusan kilometer jaraknya. “Jam lima pagi kita sudah sampai di Tarutung. Itu sudah pun cepat,” kata si sopir yang sudah beruban.

Sepanjang perjalanan enam jam, tak sempat mata penulis terpejam. Walau terus mencoba memejamkan mata, tak juga bisa tidur. Pukul 05.10, kemarin pagi tibalah di Tarutung yang masih diselimuti kabut. Hawa dingin masih menembus pori-pori walau dilapisi jaket. Warung kopi masih bersih-bersih.

Keinginan menyeruput kopi tak terwujud sekadar mengusir kantuk dan dingin mengigil. Memang, beginilah kota Tarutung, ibukota Kabupaten Tapanuli Utara. Aktivitas mulai tampak ramai sekira pukul 07.00. 

Ketika matahari sudah memancarkan sinarnya, perhatian menjurus untuk segera menjangkau dua perkampungan di Tapanuli Utara, yang tiba-tiba dicari orang tiga hari terakhir. Perkampungan ini sangat dicari, karena kisah Berkat, bocah yang didiagnosa dokter mengidap HIV/AIDS sejak dalam kandungan.

Pertama, perkampungan yang dinamai Siordak di Desa Bahal Batu III Kecamatan Siborongborong. Menuju dusun itu, tidak mudah karena nama dusun, perkampungan yang mirip-mirip. Harus rajin bertanya jika tak ada orang penunjuk jalan yang jelas.

Dari pinggir Jalan Lintas Sumatera, jaraknya sekira 5,5 kilometer simpang ke kiri jika arahnya dari Medan. Jalannya beraspal yang sudah terkelupas. Setelah itu ada simpang kecil yang hanya pengerasan, kemudian jalan tanah membelah perladangan kopi dan tanah kosong.

Lokasi kedua yang paling dicari, perkampungan Hutabagasan Desa Hutauruk Kecamatan Sipoholon. Jaraknya dari kantor Bupati Tapanuli Utara, cukup 20 menit bersepeda motor. Tidak sulit mencarinya.

Di perkampungan Siordak, Desa Bahal Batu III, adalah tempat Berkat Anugrah paling lama jadi sasaran gosip soal penyakitnya itu. Berkat memang tidak tahu apa-apa. Tetapi, abangnya Afles Hutauruk (10) dan Mamak Tua-nya Tionggun br Hombing (55), yang paling tersiksa batin dalam situasi ini.

Tionggom bercerita hal ikhwal manonduk (mengasuh) Berkat dan Afles. Setelah Lintong Hutauruk (46), meninggal 15 Desember 2008, bocah Afles, Sonya, Ruth Tania dan Berkat,  berstatus yatim. Lintong tak sempat lagi menyaksikan anak-anaknya Natal-an. Tak lama kemudian, tepatnya 1 Februari 2009, Rosalina Simanjuntak meninggal di RSU dr Pirngadi Medan karena penyakit yang dideritanya. Keempat bocah itupun resmi yatim piatu.

Keluarga Hutauruk membuat kesepakatan menyelamatkan keempat anak ini. “Jadima si Afles dohot si Berkat husonduk. Molo si Ruth dohot si Sonya dijoloni namboru na do di Medan (Jadilah si Afles dan si Berkat saya asuh. Kalau si Ruth dan Sonya diasuh bibinya di Medan ),” ujar Tionggun di rumah M Panjaitan (74), tetangganya kemarin. M Panjaitan yang beristrikan S boru Siregar (77), masih keluarga dekat Tionggun. M Panjaitan lah yang memanggil Tionggun dari ladangnya sekira pukul 13.40 untuk diwawancarai.

Ketika tiba di perkampungan ini, rumah panggung Tionggun berukuran 3×4 meter berdinding papan, digembok rapat. Sama sekali ada suara dari dalam. Atap rumah yang terbuat dari seng sudah berwarna karat. Rumah itu tidak memiliki kamar tidur.  

Awalnya, Tionggun masih tegar. Memulai cerita tentang Berkat, ibu yang sudah janda ini berubah sedih. Matanya berkaca-kaca dan mencoba memandang ke halaman rumah. “Lungun nai tahe (sedih sekali hidup ini),” ratapnya. Cerita terhenti sejenak, suasana rumah hening.

Ia tidak pernah menyangka kalau penyakit Berkat sangat mematikan. Ia menganggap pasti bisa diobati. Sejak minggu pertama Februari, Tionggun berupaya merawat Berkat dibantu oleh Afles. Selera makan si Berkat baik, demikian juga minum. Tetapi badannya kian mengecil dan keriput. Korengan bermunculan di badannya, digaruk lalu berdarah.

Ibu bercucu empat inipun membawanya ke seorang dokter di Tarutung. Menurut dokter, supaya piring, sendok dan makanan Berkat diasingkan. “Parbali-bali do ninna sahitna (penyakitnya menular),” kata Tionggun.

Warga kampong Siruak pun kian prihatin bercampur resah. Gosip pun berkembang. Rupanya, warga kampung mendapat informasi bahwa ibunya Berkat, Rosalina br Simanjuntak juga meninggal berstatus mengidap penyakit menular. Bocoran itu didapat warga ketika penguburan almarhum Rosalina br Simanjuntak.

Sebelum meninggal, bagi beberapa warga sudah mengetahui kehidupan rumah tangga Lintong Hutauruk, yang sempat pisah ranjang selama dua tahun. Selama dua tahun itu, Rosalina pernah tinggal di Jakarta, Batam, rumah neneknya di Kutacane dan Medan. Sedangkan Lintong tetap sebagai sopir bus MRT (Medan Raya Tour) jurusan Medan-Tarutung.

Sebelum kelahiran Berkat bulan Oktober 2005, disitulah mereka rujuk kembali. Soal rujuk inipun, banyak hal yang tak pantas lagi dituliskan lebih jauh.  

Dengan informasi yang sepotong, warga juga mendapat bocoran bahwa Rosalina meninggal di RSU dr Pirngadi berstatus menderita HIV/AIDS.

Cibiran warga pun kian menguat. Pembicaraan warga melebar pada siapa di antara suami-istri (Lintong-Rosalina) itu yang mengidap penyakit menular. Mereka paling risau, jika penyakit Berkat menular kepada bocah-bocah lain. Suasana kekeluargaan di kampung ini jadi terganggu.

Hanya S br Siregar, famili dekat sekaligus tetangga Tionggun yang masih mau sekadar bertanya kondisi kesehatan Berkat. Itupun, S br Siregar jadi ikut sasaran gosip karena dianggap ikut mempertahankan Berkat berada di kampung itu.

Tionggun pun tertekan demikian juga Afles, si anak sulung. Afles sering menggendong Berkat ke halaman atau ladang, dan warga pun menyingkir. “Gabe mardosa hami sudah na di huta on. Memang, molo leleng hian si Berkat dison, olo gabe tubu bada (Jadi berdosa kami semua di kampung ini. Kalau lama si Berkat di sini, mungkin jadi pemicu perselisihan),” ujar S br Siregar bersedih. S br Siregar seperti orangtua sekaligus nenek yang biasa pelabuhan curhat Afles selama dua bulan lebih.

Karena suasana kekeluargaan makin resah, Kepala Desa Bahal Batu III, Marulam Sihombing mendatangi Tionggun agar membawa Berkat dari dusun itu. Kepala Desa mendatanginya hingga tiga kali.

Batin Tionggun pun semakin tersayat. Kalau dibawa dari kampung itu,  tak tega karena Berkat adalah darah daging adiknya sendiri. Jika bertahan, posisinya yang maisolat (menumpang di perkampungan marga Sihombing)  juga tak menguntungkan.

Ia pun membawa Berkat dan Afles ke Hutabagasan di Desa Hutauruk Kecamatan Sipoholon, tepatnya 12 April lalu. Perbekalan seperti beras, ikan turut dibawa. Di sini, Berkat ditempatkan di rumah neneknya yang sudah berusia 85 tahun.

Kejadian inipun seperti memindahkan ‘bala’ saja dari Siordak ke Hutabagasan. Anak dari Tianggun, bernama Arnold Hutauruk juga keberatan dipindahkan ke rumah sang nenek. Sebab, Arnold yang beristrikan Liskeria br Siburian (30) memiliki empat anak yang masih kecil. Tiga orang belum sekolah. Sebab, anak kecil ini mendekati si Berkat ketika duduk di kursi busa yang sudah lapuk di depan rumah sang nenek.

“Gimanalah menjaga anak kecil seperti ini. Berdosa kami kalau ada niat mengucilkan Berkat. Tapi, kesehatan anak-anak ini perlu dijaga,” kata Liskeria. Ia menyebut bagai menelan buah simalakama dalam kisah ini.

Tak hanya itu, Lasma br Sihite (37) tetangga Arnold juga keberatan. Posisi rumah Arnold paling pinggir, terus rumah nenek Berkat lalu rumah Lasma br Sihite. Rumah-rumah lain juga berbanjar di kampung itu. Lasma yang beranak lima dan masih kecil, sangat was-was karena anaknya mau bermain dan mendekati Berkat. “Mabiar hian iba molo dakdanak on sampe hona sahit di songoni (Tak sekali saya, jika anak-anak sampai menular penyakit yang sama),” katanya.

Tanggal 14 April, Lasma berinisiatif memberi tahu Kepala Desa Hutauruk. “Tujuan saya, agar si Berkat dibawa berobat ke rumah sakit,” katanya. Ketika kekhawatiran menimpa warga Hutabagasan, Berkat sempat dikurung di kamar selama lima hari.

Kepala Desa Hutauruk pun bertindak dan melapor ke Puskesmas. Setelah dilihat dokter kondisinya, dibuatlah surat rujukan ke RSU dr Pirngadi Medan.

Jumat sore, Arnold Hutauruk, Ido Delia br Situmeang, Afles Hutauruk membawa Berkat ke Medan dan kini sudah dirawat di RSU dr Pirngadi.

Rupanya, ibarat jatuh ditimpa tangga. Dalam kondisi seperti ini, Jumat pagi seorang bidan dari Puskesmas setempat datang tergopoh-gopoh ke Hutabagasan. Rupanya, ia mendapat telepon dari dokter di Dinas Kesehatan Pemkab Taput.

Isunya, rumah neneknya Berkat telah dibakar orang. Bidan bermarga Lumbangaol itu sempat menjawab si dokter, bahwa rumah itu tidak ada dibakar. “Pastikan dulu, katanya dibakar orang. Nanti kecolongan kita,” kata bidan berbadan gemuk mengulang perintah lisan dokter. Wartawan koran tepat berada di dekat rumah yang diisukan dibakar, saat si bidan datang.

Di Dusun Siordak maupun Hutabagasan, resistensi masyarakat sama kuatnya. Mereka paling takut, soal penularan. Mamak Tua-nya Berkat, Tionggun br Sihombing membawa hati perihnya ke ladangnya sekira pukul 14.30 WIB. Tionggun berpesan,”Afles, sehat do Omak Tuamu di huta. Sai anggiat si Berkat hatop sehat da (Afles, kabar sehat dari Mamak Tuamu di Siordak. Semoga si Berkat segera sembuh.” Iapun kembali ke ladangnya.

Mulak tu bona>>>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: