Kajati Sultra Timbang Hutauruk SH — Jangan Main-main dengan Korupsi

Sabtu, 12 Juli 2008 10:54:37 – oleh : admin (Kendari Pos). 

Sejak 31 Maret lalu, Jaksa Agung sudah mencanangkan penanganan kasus korupsi. Saking seriusnya, Jaksa Agung harus mencari jaksa-jaksa kredibel di berbagai daerah. Lanjutan dari itu, seluruh Kejati dan Kejari dan Cabang Kejari di seluruh Indonesia diberi target penanganan korupsi. Kejati harus merampungkan lima kasus korupsi, Kejari harus merampungkan minimal tiga perkara korupsi. Dan, siapapun tersangka korupsi, kalau sudah disidik, pasti ditangkap dan ditahan. Karena itu, jangan main-main dengan harga negara terutama para pengelola keuangan negara. Tak percaya, baca sampai tuntas wawancara La Ode Onggi Nebansi dengan Kajati Sultra, Timbang Hutauruk SH.

Terkait peringatan Hari Adhyaksa, secara nasional apakah ada pesan Jaksa Agung? Pesan Jaksa Agung, laksanakan sesederhana mungkin tapi tak terkesan murah. Memperingati hari Adhyaksa itu jangan sampai ada ekses-ekses di luar yang kesannya negatif. Tapi, laksanakanlah sebagaimana biasa.

Setiap orang yang berbicara kejaksaan saat ini, pasti bicara tentang korupsi. Ada pendapat? Bicara kasus korupsi, Jaksa Agung sudah memberikan target 5-3-1. Tahun lalu pencanangannya, pelaksanaan pemberantasan korupsi ataupun percepatan penanganan korupsi dimulai sejak tanggal 31 Maret lalu.

5-3-1 artinya? 5-3-1 itu artinya, seperti Kejati Sultra ini minimal melakukan pemberkasan 5 kasus korupsi, Kejaksaan Negeri minimal tiga berkas, Cabang Kejari satu berkas perkara korupsi, tapi di Sultra ini tidak ada Kacabjari.

Tapi apalah artinya jika hanya sampai di situ tanpa lanjut di pengadilan? Oh tidak. Tidak hanya diberkas tapi harus dilimpah di pengadilan. Karena ini target, mudah-mudahan, kita di Sultra ini terpunuhi. Tapi rata-rata sudah terpenuhi, malah, kita di Kejati ini sudah melampaui target.

Apakah target tadi ada pemilihan, misalnya, kasus yang dihitung hanyalah kasus korupsi satu miliar ke atas? Tidak. Tapi secara etika, kalau Kejati itu, janganlah kasus korupsi yang terlalu kecil.

Bukankah kasus korupsi itu sesuatu yang tak bisa ditarget. Jika semua penanggungjawab APBN dan APBD bermental bagus dan moralnya baik, tentu tidak ada korupsi. Kalau itu, pastilah sulit pemenuhan target? Sebenarnya, lebih bagus kalau tidak ada. Kalau aman di daerah kita ini, itu yang diharapkan.

Pencapaian target ini tentu membutuhkan jaksa-jaksa cerdas dan mentalnya bagus. Ya. Tapi alhamdulillah, walaupun dengan SDM yang kurang, kami masih bisa mensinergikan pekerjaan. Kita harapkan Aspidsus, Asintel, Aswas Datun kita sinergikan semua sehingga kita bisa sukseskan semua itu. Kalau alasan kurang jaksa, kurang SDM, tidak ada fasilitas, itu sudah alasan yang normatif. Kalau kita terpengaruh dengan alasan kurang tenaga, kurang fasilitas, kurang ini, itu oh tidak jalan-jalan. Kapan jalan.

Jika target tidak terpenuh, apakah ada sanksi? Jelas ada, tapi alhamdulillah di Kejaksaan Negeri se Sultra tidak ada yang terkena. Aman. Saya bilang ke Kajari, jangan berbangga hati. Sebab, kalau tidak memenhuhi target, saya selaku pimpinan saya akan tarik dan mengucapkan selamat dan terimakasih atas jasa-jasa anda selama ini.

Dengan target 5-3-1, apakah itu berarti enteng? Menangani kasus korupsi itu bukan pekerjaan enteng. Sebenarnya target 5-3-1 itu bukan lagi pekerjaan enteng. Pemberkasan perkara korupsi tidak segampang memberkas perkara pidana umum. Perkara korupsi harus ada laporan intelijen, laporan Pidsus, pra ekspose, ekspose, di tingkatkan ke penyidikan dan seterusnya.

Mudah-mudahan semua berkas yang kita tangani ini, semua yang kita periksa
pasti kena dan semua kita tahan tersangkanya. Dengan harapan, supaya kerja tuntas, tidak ada waktu yang terbuang, semua jaksa tidak ada yang berleha-leha karena menahan orang itu ada batas-batas tertentu.

Ada kesan, kasus korupsi itu hanya bisa ditangani kalau ada laporan masyarakat. Apa betul? Bisa atas laporan masyarakat, bisa juga jaksa bergerak sendiri. Seperti kerja intelijen kejaksaan tadi. Pulbaket namanya, mengumpul bahan dan keterangan.

Memenjarakan orang dengan kasus korupsi tentu tak diinginkan. Bagaimana anda menyiasati itu agar korupsi tak terjadi dan tak ada pula orang yang terpenjara? Begini. Setiap kunjungan kerja saya ke daerah selalu mensosialisasikan tentang UU Korupsi. Jadi, senang tidak senang, saya selalu menerangkan dalam setiap pertemuan. Kurang enak juga didengar. Kita kunjungan di daerah itu, hadir semua kepala dinas, para pejabat, Bupati, Muspida, jadi kita menerangkan tentang korupsi.

Pemberantasan korupsi saya katakan, para koruptor itu sekarang, para terdakwa korupsi, selain hukuman badan, uang yang dikorup pun harus dikembalikan. Tidak ada lagi istilah, pasang badan, siap dipenjara tapi dapat uang. Oh, tidak seperti itu.

Korupsi yang terbanyak di mana? Rata-rata APBD.

Kasus korupsi yang terbanyak dari daerah mana? Di berbagai daerah ada. Bombana ada, Kolaka ada, Unaaha ada. Muna ada. Kota Kendari sendiri juga ada. Kejaksaan tinggi yang menangani tapi locusnya di daerah.

Kok tidak diserahkan ke Kajari saja? Mereka juga menangani, Kalau diserahkan semua ke daerah mungkin tidak selesai-selesai.

Bapak kan Kajati. Pimpinan jaksa di Sultra. Ada ndak target yang diberikan selain target Kajagung? Setelah saya pulang dari Jakarta, saya langsung kumpulkan Kasi Pidsus, Kasi Intel. Apabila anda sebagai pelaksana di daerah, tidak mencapai target, maafkan saya kalau anda ditarik. Jangan salahkan saya, saya senang anda pindah dari Sultra ke Jawa sana karena baik, tapi saya malu kalau anda ditarik karena tidak mampu.

Dengan target itu sudah dianggap cukup? Bukan saja target. Saya berprinsip kerja terus, harus meningkatkan kinerja daripada kejaksaan.(*)

Aisten Intelijen Kejati Sultra. HR Arie Arifin Bratakusumah, SH, MH

Begini, nuansa politiknya lebih kental daripada pidana korupsinya. Tapi tetap kita selidiki. Namun demikian, Kejaksaan tidak turut campur di bidang politiknya. Yang jelas, sepanjang unsur melawan hukumnya dan menimbulkan kerugian negara, tidak ada kompromi dengan kita.

Setiap laporan itu belum tentu memenuhi unsur korupsi. Tapi, oknum masyarakat langsung memvonis bahwa laporan yang dibawa itu sudah pasti korupsi dan pasti salah. Padahal di sini ada mekanisme, ini perlu pemahan semua pihak bahwa mekanisme yang ada itu, seperti diutarakan Kajati (wawancara Kajati) bahwa menangani perkara korupsi itu tidak semudah menangani perkara-perkara lain.

Kita harus bekerjasama dengan BPKP untuk menentukan berapa besar kerugian negara, itu semua perlu waktu. Seringkali teman-teman yang melaporkan kasus korupsi ke Kejati tidak sabar. Padahal mekanisme sudah jelas. Yang perlu dipahami bahwa, kami (kejaksaan) tidak main-main dan tidak ada kompromi dalam penanganan kasus korupsi.

Hormati dulu, orang yang dilaporkan juga punya hak. Jadi, selama ini yang saya tangani semuanya telak-telak. Artinya, unsur melawan hukumnya jelas dan kerugian negaranya jelas.

Banyaknya laporan masyarakat tentang korupsi, apakah kejaksaan bisa berkesimpulan bahwa masyarakat Sultra ini punya keinginan besar dalam pemberantasan korupsi? Ya itu tadi. Masyarakat harus memahami bahwa penanganan kasus korupsi itu tidak gampang dan butuh waktu. Dan, apa yang kami lakukan itu bersifat rahasia. Jadi, tidak serta merta langsung kami informasikan ke masyarakat karena kepentingan penyelidikan lebih lanjut dan penyidikan.

Pengalaman anda bertugas dari daerah ke daerah, bagaimana anda melihat responsif masyarakat Sultra. Saya berterimakasih kepada teman-teman dan masayrakat Sultra, bahwa kita komit dalam pemberantasan korupsi sebagaimana amanat bapak presiden. Masyarakat Sultra itu aktif sekali membawa data, informasi kepada saya, namun demikian, penanganannya tidak semua apa yang dibayangkan oleh teman-teman. Jadi mohon pemaklumannya. Apalagi, dengan keterbatasan tenaga ditambah lagi dengan spesifikasi wilayah Sultra ini, dimana ada sebuah wilayah hanya bisa dikunjungi dengan satu-satunya sarana angkutan seperti perahu dan pulau ke pulau. Satu-satunya jalan melalui laut. Ini, kalau dikatakan menghambat juga bisa dan risikonya amat sangat tinggi.(onggi nebansi)

Wakajati : AK Basuni M, SH

Tanggaung jawab anda dalam penanganan korupsi di Sultra begitu berat. Ada komentar? Sebagai koordinator penanganan korupsi di Sultra, saya menitikberatkan kepada Kajari-Kajari seluruh Sultra agar yang dicanangkan oleh pimpinan, Bapak Jaksa Agung soal target 5-3-1 terpenuhi. Syukur alhamdulillah di Sultra ini, tidak ada yang tidak terpenuhi. Semua memenuhi.

Andaikata tidak, apa risikonya? Kalau tidak terpenuhi pada triwulan kedua ini, itu bisa di-DO. Bisa dicopot Kajarinya.

Apa ada kejadian di daerah lain? Di seluruh Indonesia ini, ada 25 Kajari yang dicopot jabatannya dan ditarik di Pusdiklat untuk disekolahkan kembali.

Bagaimana dengan kualitas kasusnya? Kalau kualitas penanganan sama saja. Walaupun Rp 1 juta, namanya juga korupsi. Tapi ya, saya memerintahkan di daerah, misalkan,kalau Kejati menangani perkara Rp 2 juta, menyerahkan tersangka ke Baubau saja sudah lebih dari Rp 2 jutaan. Jadi, kalau menangani perkara kerugian negara itu, yah cari perkara yang tinggilah.

Apa ada daerah yang menonjol korupsinya? Yang menonjol hanya kerugian negaranya. Besarnya bervariasi, ada Rp 1 Miliar ke atas ada di bawah Rp 1 Miliar.Dengan target 5-3-1 itu, sebenarnya apa yang ingin dicapai kejaksaan? Target 5-3-1 ini mutlak, dicanangkan oleh pimpinan dan harus terpenuhi. Kenapa? Kalau seorang Kajari memimpin di daerah dia kerja segitu, sementara korupsi banyak tidak direspon, lebih baik Kajarinya dicopot. Masih banyak jaksa yang antri dan mau menangani kasus korupsi. Yang diharapkan oleh Pimpinan, setiap Kajari dan Kajati, program itu tercipta.

Ya, ya?
Tujuan kita untuk menimbulkan efek jera dan menyelamatkan kerugian negara yang dikorup.(onggi nebansi)

Mulak tu bona>>>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: