Indra Hutauruk, Melestarikan Budaya Daerah Lewat Kaligrafi

Written by Ester Pandiangan   
Saturday, 20 June 2009 11:51
Mardumu Do Buhu Tu Ruas, Pergelangan bambu tak akan lepas dari ruas bambu. Tung Piso Sian Ginjang Sangkala Sian Toru Ingkon Ondo Siadopanku, walaupun pisau dari atas dan kayu rajangan dari bawah, apa pun itu saya siap menghadapinya.Begitulah Indra Hutauruk (21), mahasiswa Unimed mengekspresikan pepatah Batak dalam tulisan kaligrafinya berjudul ‘Tungkot Tunggal Panaluan’ yang ikut ambil bagian dalam pameran kaligrafi Batak, China, Jawa dan Arab yang digelar TO2 Gallery beberapa waktu lalu.Tungkot Tunggal Panaluan adalah legenda dari tanah Batak yang mengisahkan asal muasal tongkat Raja Batak. Dikisahkan ada sepasang kakak-beradik kandung yang saling mencinta dan akhirnya disatukan dalam pernikahan. Namun pada akhirnya karena hukum karma, pasangan kakak beradik tersebut menempel di sebatang pohon dan menjadi cikal bakal tongkat Raja Batak.

Selain aksara Batak yang dipagutnya ke dalam tulisan yang indah, anak keempat dari lima bersaudara ini juga melukiskan pasangan kakak beradik tersebut dalam sapuan kuasnya.
“Saya menampilkan karya ini sekaligus memberitahukan kepada masyarakat mengenai legenda Tungkot Tunggal Panaluan, karena masih jarang yang tahu tentang cerita tersebut,” ujar putra pasangan Paian Hutauruk dan Lamsaria ini saat ditemui Global.
Apalagi ditambahkannya, arus modernisasi membuat banyak orang lupa kepada budayanya, contohnya saja aksara Batak. Sudah amat jarang orang menggunakannya. Bahkan yang terlalu lagi adalah malu tampil sebagai sukunya. “Ada loh ya malu jadi orang Batak,” cetus kelahiran 10 Mei 1988 ini.

Karenanya setiap budaya perlu dilestarikan. Dan melalui pameran ini masyarakat diingatkan kepada suku serta budayanya. Bila tak didengungkan dan dilestarikan, bisa-bisa budaya tersebut akan lenyap. Seumpama sebuah dongeng yang diceritakan turun-temurun. Bila satu keturunan tidak menceritakan kepada anaknya maka dongeng tersebut akan selesai sampai di situ saja.

Satu hal yang selalu dilakukan pemuda yang sudah dua kali mengadakan pameran ini adalah mengantongi fotokopian aksara Batak di kantongnya. Untuk dibagikan kepada teman atau orang yang dijumpainya.

Memang sudah sepatutnya kita melestarikan budaya. Tak hanya Batak saja tapi suku-suku lainnya. Seperti sebuah pepatah,’ Orang yang mau berkembang adalah orang yang menghargai sejarahnya’.

“Saya berharap orang-orang yang sekarang sudah terlarut dalam deru perkotaan, tidak lupa pada akar budayanya,” tegas pemuda yang punya moto ‘mengangkat budaya sendiri dan menghargai budaya orang lain dengan jumawa. Wah salut ya buat Indra Hutauruk.

Sumber: Harian Global

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: