KOK HARUS KOPERASI?

Artikel ini dipetik dari situs Naipospos Oline http://www.naipospos.net dengan tambahan informasi pada artikel dari Admin Naipospos Online. 

KOK HARUS KOPERASI? oleh: Maridup Hutauruk

Sewaktu saya mampir disebuah daerah Ukui di Riau, maka saya menemukan kelompok-kelompok komunitas tani kelapa sawit dan ternyata semua mereka adalah masyarakat transmigrasi dari Pulau Jawa. Setiap KK mendapat hak kelola seluas 3 ha dimana 2,5 ha untuk tanaman sawit dan 0,5 ha digunakan untuk petak rumah dan ladang yang juga mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka dengan memanfaatkan lahan untuk tanaman jagung, palawija, dan buah-buahan. Setelah sekitar 10 tahun mereka bermukim di kawasan Indosawit itu maka kehidupan mereka sudah swasembada karena rumah-rumahnya sudah gedung permanen dari batu dengan pola rumah sehat, memiliki kendaraan minimal sepeda motor, bahkan mereka rata-rata men-targetkan masing-masing akan memiliki Innova yang untuk orang kota sudah merupakan kendaraan mewah.

Kawasan perkampungan mereka yang berjarak 10 – 15 km dari Jalan Lintas Timur Sumatera bukanlah menjadi ketertutupan bagi mereka untuk hidup layak dan menikmati perkembangan modernisasi layaknya orang-orang perkotaan yang lebih dekat dengan segala sisi perkembangan jaman. Mereka secara rutin dan intensif dapat berkomunikasi dan berkunjung ke daerah asal mereka di Jawa Tengah tanpa ada hambatan fasilitas dan pembiayaan, dan mereka memang benar-benar sudah makmur. 

Dalam perbincangan dengan mereka masih sempat juga memuji keuletan masyarakat Batak yang ada di kawasan Riau itu yang juga mengelola kebun sawit secara pribadi-pribadi. Salah satu dari mereka mengatakan, “Saya sangat salut dengan orang-orang Batak yang ada disini, karena mereka begitu gigih untuk mengolah kebun sawitnya dengan hanya makan ikan asin” katanya secara serius bukan berkesan mengejek. Dalam hatiku berkata, “Kurang ajar kau! Rakyatku orang-orang Batak itu kan dengan titik darah merantau hanya untuk boleh survive dari kehidupan ini” demikian pikirku.

Memang kenyataannya para transmigan ini dibiayai oleh pemerintah selama dua tahun pertama mengelola kebun sawitnya, sementara orang-orang Batak yang berjuang di Riau sana adalah para pendatang yang sudah gagal merantau di Sumatra Timur dan berinisiatif untuk menyabung nyawa di negri orang. Saya pernah bertemu dengan seorang bermarga Situmeang yang kebetulan mereka membuka lapo di pinggir jalan lintas dekat ke Pakan Baru yang mengatakan bahwa mereka membuka lahan kelapa sawit karena gagal dari Jakarta dimasa Krismon, lalu membeli lahan per pancang (2 ha) lalu mengelolanya dengan permodalan sendiri. Saya pernah pula mampir di pinggir jalan dari Pakan Baru arah ke Dumai dan berbincang dengan seorang ibu Batak yang sedang menjual nenas, termasuk nenas potongan untuk pelepas dahaga. Mereka adalah kelompok Batak yang bermukim tadinya untuk mengadu nasib berkebun sawit, namun karena lahan yang mereka miliki adalah tanah gambut maka kurang baik untuk sawit disebabkan lebih gampang tumbang atau mengalami kebakaran. Mereka berjuang hidup menanam nenas dan memang dapat survive untuk menyambung hidup. Kemudian sayapun mampir juga di sebuah warung kopi seorang ibu di jalan lintas yang menuju Jambi, lalu berbincang-bincang mengenai kehidupan mereka di negeri orang itu. Si ibu mengatakan bahwa mereka orang Batak yang berasal dari Rantau Prapat dan disekitar situ terdapat beberapa keluarga Batak Toba dan juga Batak Karo. 

Melihat perbandingan dua komunitas yang berbeda yaitu orang-orang Jawa dan orang-orang Batak yang ada di Riau dan Jambi yang sama-sama menyambung nyawa di Negeri Orang, ada perbedaan yang menyolok. Secara umum orang-orang Jawa lebih makmur dari orang-orang Batak karena orang-orang Jawa memang dimodali oleh pemerintah sementara orang-orang Batak melangkah diatas kaki sendiri. Orang-orang Jawa tertata dan terorganisir secara profesional melalui usaha koperasi, sementara orang-orang Batak memang benar-benar hidup sendiri-sendiri walaupun mereka hidup berkelompok namun hanya sebatas membentuk wadah sosial yang tidak berpotensi untuk meningkatkan taraf hidup perekonomiannya. Wadah sosial seperti STM (Serikat Tolong Menolong) dalam satu kawasan bertetangga atau bentuk punguan-punguan sangat gampang dibentuk oleh orang-orang Batak, bahkan hanya dalam sehari dapat dikukuhkan secara sempurnah peng-organisasiannya. Ini menunjukkan kehebatan yang sangat luar biasa dari orang-orang Batak dan ilmu-ilmu management terapan manapun kalah fungsi dengan konsep persekutuan seperti ini. Namun, makna dari persekutuan tersebut belum pernah ada terdengar yang berorientasi kepada konsep-konsep peningkatan taraf hidup bersama melalui pemberdayaan potensi yang ada pada setiap anggota menuju pencapaian peningkatan perekonomian atau peningkatan pola pikir kebersamaan untuk duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Persekutuan-persekutuan yang terbentuk hanya berfungsi sebatas prinsip saling menghargai satu sama lain di atas kemuliaan pribadi-pribadi.

Pada hakekatnya konsep ‘Semua adalah Raja’ hanyalah bernilai setengah dari konsep berpikir ‘Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi’ karena orang-orang Batak tidak akan mau dikatakan lebih rendah dari orang lain, termasuk untuk dikatakan sama-sama rendah dengan orang lain, jangan harap…? Jadi, beranilah kita menjatuhkan tuduhan kepada konsep ‘Semua adalah Raja’ ternyata menjadi salah satu yang menenggelamkan orang-orang Batak tertinggal sangat jauh dari kemanjuran prinsip-prinsip koperasi.

Prinsip-prinsip koperasi sudah lama diterapkan untuk menopang perekonomian rakyat di Indonesia. Sejak periode kemimpinan Soekarno prinsip-prinsip perekonomian koperasi sudah dijalankan dan kemudian secara intensif dikembangkan semasa periode kepemimpinan Soeharto. Semasa awal periode reformasi, pamor koperasi sebagai penggerak perekonomian rakyat ternyata tenggelam dalam hiruk-pikuk eforia politik walaupun koperasi itu sebenarnya tidak pernah ambruk sementara prinsip-prinsip ekonomim liberal berguguran semua dan bahkan menanggung ongkos yang sangat besar yang dipertaruhkan oleh pemerintah atas tanggungan rakyat yang imbasnya akan berlangsung puluhan tahun kedepan harus dibayar oleh rakyat, maka relalah sejumlah 40 juta rakyat menjadi miskin. Miskin artinya untuk memenuhi kebutuhan agar tetap hidup sudah tak mampu. Maka pemerintah mengambil aksi untuk menyelamatkan yang dikategorikan miskin itu dengan mengeluarkan kebijakan BLT maka dibagi-bagilah uang agar tidak sempat mati. Siapa yang tidak sempat mati, dan siapa yang bakal mati?, tentu perlu pengamatan yang cermat untuk memahaminya.

Di salah satu kelurahan di daerah Mekar Sari Bogor terdapat sekitar 3000 jiwa yang semuanya diajukan sebagai penerima BLT karena dikategorikan sebagai penduduk miskin. Sementara disalah satu desa di Tapanuli Utara yang berpenduduk sekitar 90 orang hanya tercatat 4 orang yang dikategorikan penerima BLT karena ke 4 orang tersebut adalah janda-janda yang memang sudah tak mampu lagi mengolah lahannya, bahkan untuk berjalanpun harus bersusah payah dengan memakai tongkat. Sisa yang lainnya tentu tidak mendapat BLT padahal dari data statistik mereka memang benar-benar miskin. Artinya, kalau ‘karena miskin’ mereka ‘harus mati’ maka yang terdapat di salah satu kelurahan di Bogor itu akan selamat hidup, dan yang di salah satu desa di Tapanuli Utara itu yang selamat hanyalah 4 orang yang sudah bertongkat itu. Coba kita renungkan dalam-dalam……

Adapula kisah seorang Batak yang sudah dianggap hilang oleh keluarganya ternyata telah menjadi tentara di Jawa Barat selama berpuluh-puluh tahun tanpa pernah berniat untuk memberitahu sanak saudaranya bahwa dia masih hidup. Setelah pensiun sebagai tentara prajurit biasa itu tidaklah mampu menghidupi keluarganya sehingga mereka sekeluarga masuk dalam program keluarga transmigran di Palembang Sumatera Selatan. Mereka mendapat sebidang tanah seluas 3 ha dan dibiayai oleh pemerintah selama dua tahun menunggu menjadi mandiri dari pengelolaan lahannya. Orang-orang Jawa yang di Krui berhasil makmur, maka keluarga Batak yang di Palembang itu ternyata menjual lahannya dan tiba-tiba muncul dikampungnya bersama dengan anak-anaknya masih tetap dalam kondisi miskin tak punya apa-apa. Warga kampungnya terheran-heran menyaksikan kedatangan mereka, bahkan sebagaian besar sudah tidak lagi mengenal mereka lagi, disamping mereka semuanya berbahasa Sunda. Kedatangan alien-alien ini disambut oleh orang-orang kampung dan kemudian disediakan tempat dan lahan sawah dan lain-lain yang secara adat memang haknya. Kemudian tidak berapa lama si tentara Batak ini meninggal dunia karena tua dan keturunannya tetap di kampung mengikuti status penduduk Tapanuli Utara ‘peta kemiskinan’.

Potret-potret ini memang sengaja diambil untuk menggambarkan secara kontras bahwa orang-orang Jawa yang dari kampung mau memandang kedepan untuk makmur, sementara orang-orang Batak yang di kampung seolah merelakan diri agar tetap miskin. Potret-potret yang dipaparkan di atas ataupun selanjutnya memang diambil dari kehidupan nyata yang dalam sumpah memang benar-benar terjadi dan orang-orangnya termasuk yang Jawa dan Batak masih ada sekarang ini.

Artikel ini memang berusaha menonjolkan faktor materi dikedepankan untuk memicu pemikiran orang-orang yang berhubungan secara kekerabatan dan mungkin memiliki kisah yang mirip atau bermakna sama agar dapat mencoba merenungkannya paling tidak akan berguna untuk dirinya atau anggap saja sebagai penggirik lobang telinga.

Ada pandangan dari dahulu dan sampai sekarang juga masih banyak dianggap oleh sebagian besar orang bahwa kemiskinan dibawakan menjadi alat legitimasi bahwa Tuhannya memang men-takdirkan mereka demikian, padahal konsep ketuhanan secara universal adalah menyelamatkan kehidupan manusia di dunia dan akhirat yang artinya kemiskinan dalam tanda petik adalah dosa yang upahnya neraka. Kemiskinan dalam tanda petik (miskin harta, miskin pengetahuan, miskin akal budi) sudah hampir dipastikan akan cenderung masuk neraka dalam konteks religius. Namun masih banyak juga orang-orang berpandangan bahwa seorang kaya akan lebih cenderung masuk neraka dibanding yang miskin?

Pameo yang selalu melekat, ‘lebih sulit orang kaya masuk ke surga dibanding gajah masuk ke lobang jarum’. Bagaimana pandangan ini masih hidup subur berdampingan di alam kemerdekaan berpikir yang katanya kental dengan norma-norma agama dan adat ketimuran yang agung itu. Apabila kita mengambil suatu contoh andai-andai semisal seorang Editansil (hanya nama imajiner yang diambil dari singkatan Ereksi dini tanpa hasil) melakukan penipuan miliaran rupiah yang dilakukan hanya sekali dalam hidupnya, kemudian hasil penipuan tersebut sebagian dibagikannya ke gereja, mesjid, kuil, kelenteng, dan membantu keluarganya yang miskin, panti asuhan, yayasan sosial sehingga mereka menjadi layak hidup lahir batin dan kemudian dia akhirnya terjerat hukuman.

Ada pula seorang yang kehidupannya dipasar sana dan oleh karena himpitan ekonomi lalu melakukan penipuan-penipuan berulang-ulang dan bahkan sampai 10x dalam sehari untuk nilai hanya ribuan rupiah saja supaya dia dapat membeli makan untuk hidup hari itu dan dia bebas berkeliaran untuk berlakon lagi dan lagi.

Adapula seorang pencopet beraksi di pasar itu berualang kali dalam sehari, dimana orang yang dicopetnya itu adalah orang-orang susah juga dan bahkan karena kecopetan mengakibatkan satu diantaranya tak dapat lagi membeli obat anaknya yang sedang sekarat di rumah sakit dan akhirnya mati.

Kalau Editansil berlakon bukan karena penipuannya itu tentu dia akan diangkat tuhannya ke surga atau karena ke 3 orang ini telah melanggar perintah tuhannya maka mereka pasti dimasukkan ke neraka. Bila anda menjadi tuhan, apa yang anda perbuat untuk ke 3 oknum ini? ………..

Dahulu, pandangan tentang prinsip-prinsip ekonomi liberal merupakan satu-satunya penggerak perekonomian yang handal dengan ditandainya industri-industri raksasa yang dimiliki oleh satu atau beberara orang saja sebagai pemilik, mampu mempekerjaan ribuan orang pekerja. Faham ini secara umum diterapkan di hampir semua negara-negara Eropa Barat dan Amerika. Namun para pemikir ekonomi barat ternyata akhirnya mengadopsi kekuatan koperasi sebagai penggerak ekonomi yang jauh lebih tangguh. Mereka dengan elegan mengemas prinsip-prinsip koperasi diterapkan dengan pembentukan perusahaan-perusahaan korporasi dan berlanjut diaktifkannya institusi bursa-saham untuk penggalangan dana sebagai penyertaan permodalan suatu perusahaan. Kepemilikan saham yang ditawarkan kepada umum ternyata memungkinkan suatu perusahaan mendapat penyertaan permodalan yang sangat besar sehingga perusahaanpun semakin besar dan kepemilikannya sudah beralih yang bukan lagi milik segelintir pemodal melainkan secara umum banyak orang yang memilikinya.

Prinsip-prinsip ini adalah murni dari prinsip-prinsip koperasi yang kepemilikannya adalah oleh semua anggotanya. Anehnya masih terkesan bahwa perusahaan-perusahaan korporasi dan perusahaan terbuka (Tbk) yang kepemilikan permodalannya sudah dimiliki umum masih dianggap sebagai penggerak ekonomi liberal walaupun ekonomi liberal itu sebenarnya tidak adalagi kiprahnya. Di Indonesia, setelah 10 tahun bergulir era reformasi maka para pakar ekonomi mulai menyadari bahwa prinsip-prinsip koperasi memang satu-satunya mesin ekonomi yang tangguh dan mulailah mereka berpromosi penggalakannya.

Prinsip-prinsip ekonomi koperasi di Tanah Batak tidak pernah berjalan dan bahkan hampir tidak pernah dimulai sehingga konsep ini sama sekali tidak dikenal secara umum oleh penduduk di Tanah Batak. Mereka hanya mengenal prinsip-prinsip ekonomi liberal yang sudah kuno itu yang di negara-negara asalnya sudah tak dipakai lagi. Memang muncul pengusaha-pengusaha Batak yang sangat maju tetapi hanya berlangsung satu generasi saja dan umumnya kontribusinya tidaklah bermanfaat secara sosiokultural.

Apa bila kita berandai-andai berpikiran radikal untuk menghapuskan kemiskinan dalam waktu sesaat supaya Indonesia tidak lagi disebut miskin, maka sebanyak 40 juta orang harus dihapuskan dari daftar penduduk Indonesia. Kalau demikian adanya maka semua penduduk yang bermukim di kabupaten-kabupaten di Tanah Batak harus dihapus dari daftar kependudukan di Indonesia karena merekalah yang disematkan gelar peta kemiskinan. Pemekaran propinsi diberbagai wilayah di Indonesia memang terlihat jelas memajukan perekonomian rakyatnya. Pemekaran propinsi atau pemekaran kabupaten di wilayah Indonesia Timur ternyata sangat maju dan langsung meningkatkan taraf hidup rakyatnya. Di Sulawesi Barat saat ini sudah dikerubuti oleh investor-investor asing di bidang pertambangan dan dibidang pertanian demikian majunya sehingga wilayah yang dulunya tertinggal dan buangan kini menjadi makmur, Gorontalo demikian majunya di bidang pertanian bahkan Kabupaten Tobasa yang dikenal sebagai penghasil sumber daya manusia yang terkenal di Indonesia berguru ke Gorontalo di bidang pertanian sehingga propinsi dan kabupaten baru di Sulawesi yang dalam kurun waktu hanya 3 tahun sudah memampukan rakyatnya tidak terancam kematian karena kemiskinan.

Di Tanah Batak terjadi juga pemekaran kabupaten-kabupaten, bahkan Propinsi Tapanuli akan muncul dalam waktu dekat akan tetapi dari pemekaran yang ada tidaklah terlihat peningkatan yang signifikan yang berorientasi kepada kemajuan rakyatnya. Contohnya Kabupaten Tapanuli Utara yang mengalami penciutan wilayah bahkan penduduknya banyak yang hilang sehingga sekarang hanya tinggal kurang dari 300 ribu saja juga tak mampu menaikkan taraf hidup masyarakatnya yang kita boleh mengartikan bahwa sejak dibentuk negara Indonesia merdeka mereka tetap saja miskin. Sampai kapan mereka menyemat kemiskinan itu? Mungkin secara gampang kita boleh menuduh agar ‘Semua adalah Raja yang mau duduk sama rendah berdiri sama tinggi’ mungkin harus dibuat melekat dalam pikirannya.

Pernah terdengan satu ide pembentukan suatu koperasi di satu perkumpulan marga yang ada di Jakarta dengan ide cemerlang bahwa sembako dapat terdistribusi kepada semua anggota marga dengan mudah, murah, dan membantu marga itu saling mengenal satu sama lain untuk membangkitkan empati anggota terhadap kesatuan dan persatuan marga itu kearah yang memajukan kebersamaan yang secara sosial akan mendukung terjaminnya pendidikan anak-anak, secara bersamasama akan membantu keluarga-keluarga keluar dari keterpurukan perekonomian dari keganasan kehidupan Kota Megapolitan yang kata orang dulu ‘Kejam ibu tiri lebih kejam lagi Ibukota’. Konsep yang digodok berbulan-bulan dan bahkan lebih dari setahun dengan sosialisasi yang melelahkan harus mentah pada segelintir kekuasaan organisasi yang hanya berfungsi untuk melaksanakan kegiatan pesta bonataon untuk tatap muka yang satu sama lainnya saling tak kenal mengenal secara empati kecuali hanya karena satu merek marga saja. Begitulah pandangan orang-orang Batak perkotaan mengenai tidak pentingnya koperasi.

Sekitar 2-3 tahun lalu terdengar pula berita bahwa ide pembentukan koperasi tani dicetuskan di satu perkampungan Batak di Tarutung yang bertujuan untuk bersama-sama mengelola ketersediaan pupuk, menjamin ketersediaan bibit, penyaluran hasil tani yang menguntungkan, pemerataan pengetahuan bertani dan yang paling penting adalah untuk membiasakan agar orang-orang Batak tersebut hidup berorganisasi dalam kebersamaan. Prinsip ‘Semua adalah Raja, duduk tidak sama rendah, berdiri aku lebih tinggi’ adalah konsep bersosial yang berlaku di kampung itu. Konsep koperasi yang ditawarkan merupakan cibiran, dan bahkan penyediaan buku-buku untuk pertanian yang akan menambah pengetahuan bertani secara tegas dan ketus dikatakan tak berguna untuk mereka. Koperasi atau disebut ‘cooperate = bekerjasama’ ternyata bukanlah konsep kehidupan bersosial bagi orang-orang Batak disitu padahal boleh dijamin bahwa semua orang di kampung itu menghafal kata ‘haholongi ma dongan mu dos hon dirim’. Kemudian terdengarlah suara-suara gaduh ‘Boasa pola koperasi?, hepeng i ma, dohot bibit i lean tu son……’ lalu bubarlah orang-orang Batak itu….. koperasi itupun ikut gugur….. Amin. 

&&& 

Persebaran orang batak di Riau dan lebih tepatnya disekitar perkebunan itu terjadi seiring dengan pembukaan perkebunan sawit pada Tahun 1980an oleh PTP IV yang berkantor di Gunung Pamela, Tebing Tinggi, Sumatera Utara dan kemudian oleh pemerintah dipecah menjadi PTPN 3 dan PTPN 5, PTPN 5 berkantor di Jl. Rambutan Pekanbaru. 

PTP IV ini membawa tenaga kerja yang pada umumnya Orang Jawa dan Orang Batak dari Sumatera Utara. Sebagian Tenaga Kerja yang keluar atau pensiun dari Perusahaan tinggal di pinggiran perkebunan untuk membuka lahan perkebunan sendiri setelah PTP tidak lagi memonopoli perkebunan sawit.

Persebaran ini dapat ditemui di: 

Kab. Rokan Hilir: Baganbatu, Balam
Kab. Rokan Hulu: Ujung Batu
Kab. Kampar : Kota Garo (Kota Karo), Kota Batak, Sei Galuh
Kab. Siak: Lubuk Dalam
Kab. Indragiri Hulu: Air Molek, Ukui 

Penghapusan monopoli PTP dan pembukaan perkebunan oleh perusahaan swasta memperbanyak orang batak bermigrasi ke Riau tetapi pada umumnya konsentrasi pembukaan lahan tetap disekitar areal perkebunan PTP.

Pantasnya banyak orang batak di Riau tidak melupakan peranan PTP IV Gunung Pamela. Caltex/Chevron serta sub kontraktornya, Indah Kiat dan RAPP juga turut serta membantu migrasi orang batak ke Riau. 

Secara statistik mungkin sulit untuk menghitung rasio orang batak di Riau dibandingkan dengan keseluruhan orang batak, tapi kenyataan harus di akui bahwa lebih dari 50% Bus yang keluar dari Terminal Amplas Medan munuju kota-kota di Riau

4 Responses

  1. Horas Amang
    Saya baru membaca artikel amanguda yang berjudul ‘Kok Harus Koperasi?’

    Menurud saya artikel ini adalah benar dan cukup menggugah. Saya ingin berbagi pikiran dan minta pendapat amanguda tentang kemiskinan orang-orang batak yang ada di kampung Tapanuli, karena kemiskinan di kampung mempunyai korelasi yang tidak terpisahkan dengan banyaknya orang batak keluar dari bonapasogit. Padahal di perantauan pun kita orang batak membutuhkan perjuangan yang keras dan tidak jarang berakhir menyedihkan. Seandainya orang-orang batak di kampung tidak sangat miskin mungkin kita tidak perlu merantau, iya kan amanguda?

    Saya sedih mengapa orang-orang di kampung sampai sekarang sangat kesulitan dalam banyak bidang kehidupan, terutama bidang ekonomi. Saya pernah tanya sama bapak berapakah penghasilan rata-rata per keluarga di kampung? Katanya, “kalau bisa dapat Rp. 750.000 sudah hebat”. Ini hanya pengamatan dan pendapat pribadi beliau yang belum teruji. Tetapi kalau perkiraan kasar ini mendekati kebenaran, betapa susah dan miskinnya mereka. Mana cukup penghasilan sebesar itu untuk menghidupi satu keluarga, membeli makanan bergizi dan menyekolahkan anak, dll.. Satu hal yang sangat menyedihkan yang tidak terpungkiri Tapanuli Utara sampai sekarang dikenal dengan istilah “Peta Kemiskinan”

    Apa yang membuat sampai zaman modern sekarang dengan segala kecanggihan tehnologi mereka tetap miskin? Apakah faktor Dalihan Na Tolu sehingga sangat banyak ‘pesta’ adat yang harus diikuti yang menyita begitu banyak energi, pemikiran, waktu dan uang.

    Disisi lain ketika pulang kampung, saya melihat sendiri Etos Kerja dan skill dari orang-orang di kampung, menurud saya maaf ‘sangat rendah’. Orang-orang banyak menghabiskan waktu ke pesta adat, lapo tuak, main catur, dan main judi. Kepemilikan tanah yang tidak begitu luas, tehnologi pertanian yang tidak dipakai (tanam padi cuma sekali setahun, tidak mau pakai bibit unggul, dll.) menurud saya juga menyumbang secara signifikan.

    Melihat hal ini sering ‘nasionalisme’ kesukuan turun. Saya jadi apatis dan cuek. Kita yang di perantauan harus bahwa Kerja Keras, Efisien, Efektif, Hemat dan Terus Belajar supaya bisa survive Mengapa mereka di kampung begitu besar porsi waktu ‘berpesta’ dan lapo tuak, yang seringnya adalah hari kerja efektif? Mengapa penghasilan yang sangat kecil digunakan untuk ‘Minum’ dan main judi? Betapa hati sangat miris melihat kenyataan ini.
    Tapi mereka tetaplah bangsa saya, keluarga saya, Bangso Batak!

    Kadang saya juga jadi sering berpikir, mungkinkah hal-hal itu adalah seni orang batak untuk menikmati dan merayakan kehidupan. Ah tidak usahlah terlalu bersedih dan terlalu serius, nikmati sajalah hidup ini. Biar miskin yang penting happy. Saya tidak mampu untuk menjawab ini, tapi disisi lain kemiskinan itu begitu nyata dan sangat menyedihkan.

    Ketika membaca artikel amanguda ini, maupun artikel sejenis yang lain timbul semangat lagi bahwa mereka harus ditolong tanpa perlu menggurui, walau kemampuan sangat terbatas, mungkin dalam ruang lingkup yang kecil, yah semacam menyekolahkan beberapa orang dari anak-anak mereka.

    Menurud amanguda apa sebenarnya yang harus dilakukan untuk menghilangkan ‘Peta Kemiskinan’ itu? Bukankah sudah sangat banyak orang batak jadi Pejabat tinggi dan Pengusaha Kaya baik di jakarta, Medan dan kota-kota besar lainnya?.

    Terimakasih amanguda, salam hormat dan sukses. Horas!

    • Horas Amang Ernest Bagariang,

      Terimakasih atas tanggapan terhadap artikel ini, dan yang diartikelkan memang berdasarkan pengamatan khusus yang saya lakukan ke bonapasogit selama sekitar 2-3 tahun penuh sejak tahun 2006 (10 x kunjungan berdurasi sekitar 1 bulan setiap kunjungan), dan juga menghabiskan dana sekitar 250 juta rupiah, karena ada panggilan berupa empaty kepada orang kampung sendiri, dan kecintaan terhadap habatakon.

      Bermula dari keinginan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat kampung yang saya anggap dan memang kenyataannya sangat miskin (bukan miskin tak makan) berdasarkan standard kehidupan yang normatif.

      Pengamatan saya berdasarkan 3 patokan dasar berikut ini:
      1. Sepintas memang terlihat seolah orang-orang kampung adalah malas-malas?
      2. Sepintas memang terlihat seolah orang-orang kampung adalah korban dari konsekwensi memegang dan melaksanakan adat istiadat?
      3. Sepintas memang terlihat seolah orang-orang kampung tidak dibantu oleh para perantaunya yang boleh dikatakan sudah mapan?

      Saya kurang yakin kalau orang batak itu disebut malas. Fighting spirit yang tinggi adalah penilaian yang benar dan mendasar bila disebutkan kepada orang Batak. Mengapa orang-orang perantau mampu keluar dari paradigma malas, sementara orang-orang di kampung terpatri citra malas?

      Competitiveness. Orang-orang perantau harus mampu melampaui persaingan untuk bisa survive. Persaingan ini disikapi oleh orang-orang perantau secara positif diantara sedemikian banyak multi etnis yang memiliki karakter-karakter khas masing-masing, dan terserap oleh para perantau dalam porsi yang adaptif.

      Orang-orang di kampung menyikapi sebuah persaingan secara negatif diantara komunitas yang sedemikian homogennya. Pola pemikiran persaudaraan di kampung sudah demikian sempitnya, bahkan saya memandangnya hanya sebatas keluarga sendiri, boleh jadi dalam satu keluarga, sifat dan sikap persaudaraan memandang persaingan secara negatif. Sebagai contoh bahwa satu marga, lain paronpuon dalam prakteknya sudah tidak satu pemikiran lagi. Sementara diperantauan; sikap dan sifat ini tidak ditemukan. Bahkan garis keturunan yang sudah sangat jauhpun masih dianggap sebagai saudara dekat.

      Oleh karena itu, yang disebut ‘horong/sahorong’ bagi orang-orang di kampung jumlahnya sangat kecil, sementara diperantauan boleh jadi berjumlah sangat banyak. Konsekwensi logisnya, efek psikologinya orang-orang dikampung lebih sulit dipersatukan dibanding orang-orang diperantauan. Maka sikap dan sifat ini tidak lagi mendukung petuah ‘united we stand, devided we fall’ (bersatu kita tegus, bercerai kita runtuh).

      Justru banyak komponen-komponen adat istiadat yang sudah hilang dan dihilangkan sehingga orang-orang kampung secara komunitas kurang interaktif satu sama lainnya. Marsiadapari, saling membantu dalam memanen hasil tanaman, boleh dikatakan sudah hilang. Membangun rumah secara gorong-royong, boleh dikatakan sudah hilang. Yang muncul adalah sikap dan sifat komersialisasi disegala bidang, sementara sikap dan sifat ini tidak didukung oleh financial yang memadai. Maka muncul lagilah persaingan yang disikapi secara negatif. Mengapa muncul sikap dan sifat demikian? Karena orang-orang dikampung sudah tidak memiliki figur pemimpin yang dulunya terpilih berdasarkan tatanan adat istiadat, semisal Raja Bius. Oleh karena itu istilah semua adalah raja tidak lagi memiliki raja-diraja, maka jadilah komunitas Batak di kampung tidak memiliki panutan yang dulunya sangat efektif untuk mempersatukan pendapat, tekat bersama, ‘ringan sama dijinjing, berat sama dipikul’.

      Perilaku seperti ini secara degradatif sudah berlangsung sejak awal masuknya ajaran agama dari luar. Mohon maaf kalau saya harus mengatakan bahwa pemahaman terhadap ajaran agama Kristiani diserap secara salah. Boleh jadi bukan ajaran agamanya yang salah, tetapi kenyataannya agama dibawakan sebagai tameng semata. Kita tidak heran bahwa dalam satu perkampungan dengan jumlah populasi kecil ada berdiri 5 sekte keagamaan yang masing-masing memunculkan kemuliaan yang berbeda-beda? Mengapa kita tidak menerapkan sepenuhnya ajaran leluhur yang mampu difahami secara seragam?

      Bukankah kita pernah menerapkan hukum-hukum leluhur yang tegas dan konsekwen? sementara kategori hukum menurut agamanya sekarang diterjemahkan dengan simbol-simbol kasih? Bila saya mencuri untuk makan karena lapar, maka hukum kasih akan mengampuninya, tetapi hukum-hukum leluhur mengajarkan saya untuk mengganti hukuman itu dengan bekerja sebagai hatoban yang setimpal sebagai pengganti.

      Sampai saat ini saya masih berpandangan bahwa orang-orang dikampung sudah terperangkap dengan agama yang tidak difahaminya, dimana mereka menempatkannya hanya sebatas tameng dan simbol-simbol, sementara orang-orang perantau memandang agama sebagai rel tempatnya berpijak. Artinya orang-orang kampung menempatkan agama didadanya sementara orang-orang perantau menempatkannya sebagai alas kakinya.

      Sebagai contoh:

      Orang kampung: Bila saya menginginkan sesuatu yang dimiliki oleh orang lain sekampung itu, maka saya mengambilnya dengan suatu anggapan keinginan saya untuk memilikinya terpenuhi, dan pemilik yang sebenarnya itu kan sama dengan saya juga? ‘Tandokku do tandokmu’ atau ‘ai ibana do au’.

      Orang Perantau: Bila saya menginginkan sesuatu yang dimiliki oleh orang lain, maka saya berusaha memiliki sesuatu yang sama seperti itu. Saya tidak mengambil milik orang lain itu, karena saya sangat faham bahwa orang yang memiliki sesuatu yang saya inginkan itu, juga menginginkannya. Karena dia menginginkannya maka memilikinya. Bila saya mengambil yang dimilikinya itu maka saya sudah menginginkan yang saya inginkan sementara orang yang berhak, saya buat tidak boleh menginginkannya.

      Coba kita andaikan apabila sesuatu yang kita sebutkan itu adalah menyangkut nyawa. Bila seseorang memiliki sebuah benda yang berkaitan dengan nyawanya, bila benda itu diambil darinya maka nyawanya melayang. Sementara saya yang memiliki nyawa menginginkan pula benda itu, lalu saya mengambilnya; maka yang punya benda itu nyawanya melayang, sementara yang mengambilnya bukan tambah menjadi dua nyawa?

      Demikianlah amang Ernest Bagariang, ini hanya sedikit dari banyak parameter yang bisa kita perbandingkan antara Batak diperantauan dan Batak di kampung. Mudah-mudahan sharing yang pendek ini bermanfaat sebagai motivasi. Horas/MARIDUP HUTAURUK

  2. Mauliate Amang tanggapannya.
    Saya senang dan bersyukur kepada Tuhan bahwa amang telah melakukan hal-hal sedemikian atas dasar empati terhadap berbagai persoalan kemiskinan bangso kita secara umum dan mungkin Naipospos secara khusus.

    Panggilan untuk menggerakkan ekonomi orang di Bonapasogit dan hal-hal yang amang lakukan adalah hal-hal mulia yang semoga saja nanti mampu membantu mengangkat derajat bangso batak ke level yang lebih tinggi.

    Saya sangat mendukung amang walau kemampuan ekonomi pribadi saya belum mapan. Tapi mungkin siapa tahu ada hal-hal yang bisa disinergikan diantara kita para perantau.

    Membaca balasan email amanguda saya satu hal yang membuat dahi agak ngernyit, tentang faktor agama sebagai salah kontributor kemiskinan itu, yang notabene Kristen adalah agama dominan di bonapasogit.

    Setahu saya dimana saja agama Kristen dikabarkan dan diterima maka bangsa itu berubah ke arah yang lebih maju. Sejarah banyak yang menunjukkan hal itu. Apalagi teori Etika Protestan yang dikemukakan oleh Maxwell dan diterapkan di AS terutama pada abad ke 19 terbukti membuat etos kerja yang tinggi dan menganggap kerja keras itu adalah berkat.

    Bukankah sebenarnya efisiensi dan efektifitas kerja yang akan membuat kita lebih menghasilkan? sementara efisiensi dan efektifitas tidak saya temukan dalam ulaon batak, yang ada adalah banyak “wasting time” dari hari kerja efektif (mungkin khusus di bonapasogit), sementara di bonapasogit bukan cuma ulaon mereka saja tetapi juga ulaon semua perantau yang bikin pesta adat di kampung dan harus diikuti sepanjang terkait dengan Dalihan Natolu yang menurud saya rantainya cukup panjang saling mengait. Berapa banyak dana yang dikeluarkan untuk sebuah ulaon batak? Yang buat pesta dan semua yang datang? Mengapa hal ini lepas dari pengamatan amanguda.

    Maaf amanguda, sebenarnya betapa ada sanat banyak hal positif dalam pesta adat batak, seperti memupuk persatuan dan kesatuan. tapi kita tidak harus tetap miskin khan amang?
    Semoga para intelektual kita dapat memberi solusi yang terbaik. Horas!

    • Horas amang Ernest Bagariang,
      Sebut saja bahwa dulunya saya salah seorang anak yang diarahkan menjadi anak tuhan (doktrin ke-Kristenan), ternyata perjalanan hidup lebih dari setengah abad dalam periode-periode jenjang umur tidak kita temukan kriteria anak tuhan yang kita fahami, karena banyak hal (lebih dominan) yang kontradiktif terjadi dalam menjalankan interaksi sosial, terutama kita fokuskan kepada agama semerek.

      Tanggapan terhadap komentar lebih saya tekankan kepada pemahaman yang salah terhadap ajaran agama yang dianut. Mungkin pada awalnya evangelisasi kekristenan di Tanah Batak (penganut kristiani) mengarahkan kehidupan (realita kehidupan) untuk meningkat disegala bidang. Ajaran agama dibawah naungan institusi gereja awalnya membuka wawasan berpikir yang tertutup dan mengajarkan peningkatan ekonomi keluarga dan kebersihan (higienis). Kenyataannya setelah berlangsung sekitar 150 tahun ini tujuan itu tidak tercapai di bonapasogit.

      Kita boleh mencontohkan dua kelompok komunitas yang berbeda dari satu komunitas yang sama. Katakan satu komunitas marga yang sama yang ada di bonapasogit dan diperantauan:

      1, Agama sama (dokmatika ajaran juga sama)
      2. Adat-istiadat pada intinya sama
      3. Pola pikir berbeda
      4. Tingkat Sosial-Ekonomi berbeda

      Ini dapat diartikan bahwa agama yang dianut tidak membawa perubahan untuk poin 3-4 baik di bonapasogit maupun diperantauan. Poin 3-4 diperoleh dan dicapai oleh perantau adalah dari luar agama, artinya berani membuka diri.

      Kerahasiaan agama yang dianut sekarang ini dibuka dan dipaparkan sampai sedetail mungkin, tetapi kultur budaya justru kita kebiri dengan standard uji berdasarkan norma-norma agama, artinya banyak kultur budaya yang berpotensi untuk meningkatkan pola pikir (3) dan sosial-ekonomi (4) terhapuskan dari genotip orang batak. Pemahaman ajaran agama melalui institusi gereja sekarang ini tidak pernah membina peningkatan sosial-ekonomi warganya malah menggerogoti dengan dogmatika yang jelas-jelas memperbudak warganya.

      Saya mau memberi contoh semisal saya memiliki dua orang anak, sebut saja A & B. Secara umum sudah pasti saya mencintai kedua orang anak saya ini, tetapi satu diantaranya lebih saya sayangi karena banyak hal berupa parameter yang saya ciptakan, sebut saja si-A. Sekali peristiwa kedua anak saya yang sedang bermainmain diluar rumah, akan saya panggil untuk memberikan mereka ROTI. Setelah mereka tiba dihadapan saya ternyata si-A yang lebih saya sayangi datang dengan bergelimang lumpur karena bermainmain di parit, sementara si-B yang kurang saya senangi datang dihadapan saya dalam keadaan bersih. Apa yang akan dilakukan oleh si Ayah (saya)? Saya pasti akan memberikan bagian roti kepada si-B, dan untuk si-A tunggu dulu… tentu si-A harus bersih dulu, karena saya akan memberi dia ROTI yang harus dimakan dengan bersih.

      Saya sudah mendalami budaya leluhur secara mendalam, dan dalam prakteknya sekarang ini yang tersisa secara dominan adalah diantaranya Pesta Perkawinan & Acara Kematian, dan saya menilai memiliki nilai luhur yang lebih mulia daripada ajaran agama itu sendiri.

      Amang Ernest Bagariang! Tidak akan ada akhirnya kalau kita mencoba memperbandingkan antara agama yang kita anut dengan budaya leluhur yang melekat di tubuh kita. Hanya satu jawaban yang mampu menjawabnya yaitu memposisikan keduanya terserap seimbang di dalam pribadi kita sesuai perjalanan waktunya.

      Saya pribadi belum mampu untuk memberi pemahaman yang saya fahami kepada orang lain tentang kepentingan Agama & Kultur Budaya dalam kepribadian seseorang, tetapi secara pribadi saya menilai bahwa institusi keagamaan gagal untuk memajukan orang Batak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: