NAIPOSPOS

Oleh: Doangsa PL Situmeang

Doangsa PL Situmeang adalah penulis buku saku berjudul “Buku Saku Marga Batak“. Buku ini sempat mendapat reaksi diantara marga-marga keturunan Naipospos di Jakarta dan sekitarnya sehingga Punguan Naipospos mengadakan rapat pada Minggu 8 Nopember 2009 di Ruang Rapat Gedung Purnawirawan Polri di Jalan Darmawangsa-II Jakarta Selatan. Boleh baca artikel mengenai rapat itu di sini>>>

Pengantar

Beberapa waktu yang lalu, pertemuan diselenggarakan membicarakan dan membahas silsilah Naipospos yang dipicu oleh pelurusan yang dimuat dalam “Buku Saku Marga Batak” yang saya tulis dan terbitkan. Masalah pokok yang diperdebatkan ialah; (1) Jumlah anak Naipospos dan (2) Siapa siabangan dan siadikan. Isi buku yang saya tulis memang berbeda dari buku yang dirujuk atau penuturan yang didengar. Pertemuan disponsori Punguan Naipospos yang diketuai Sdr. Parasian Simanungkalit. Saya sendiri tidak ikut diundang dan itu sah-sah saja, meski pun perilaku demikian aneh bin ajaib, bagaikan pengadilan tanpa menghadirkan yang “tergugat”. Sebagai orang Batak, saya hanya akan hadir bilamana diundang, sesuai makna dan hakekat Gokhon dohot Jou-jou.

Beberapa hari kemudian, pahompu Tunggul Hutauruk memberitahukan tentang suasana pertemuan. Demikian juga lae saya C. Hutauruk. Sebenarnya saya sudah memperkirakan pertemuan seperti itu akan terjadi untuk pelurusan. Malah yang terjadi menanamkan polemik. Dalam kaitan ini, pahompu Tunggul menyarankan agar diadakan pertemuan di antara keempat marga dari Sipoholon untuk mendengarkan penjelasan dan latar belakang penulisan buku tersebut. Dengan senang hati saya menyetujuinya dan bersedia “manjabui”.

Sebelum menuliskan buku Saku tersebut, saya telah menggunakan logika dan penalaran atas apa yang saya baca dari buku MW. Hutagalung, “Pustaha Batak”. Buku. Drs. Richard Sinaga berjudul “Leluhur Marga-marga Batak dalam sejarah, silsilah dan legenda”. Juga buku Mangaraja Asal Siahaan tentang “Silsilah marga Siahaan”, dan J.C. Vergowen berjudul “Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba”. Demikian juga buku Batarasangti, “Sejarah Batak”. Buku MW Hutagalung adalah buku tertua yang diterbitkan tahun 1926, ketika bertugas sebagai Mantri Polisi di Pangururan. Sebenarnya, buku tersebut sudah ditulis sebelumnya, sebagaimana disakiskan oleh Kontrolir Dataran Tinggi Toba di tahun 1913. Sejak itu, buku MW. Hutagalung telah dijadikan rujukan oleh kolonialis Belanda, meredam permasalahan siabangan dan siadikan dan juga oleh penulis berikutnya serta orang Batak pada umumnya.

Bagi saya, isi buku MW Hutagalung sangat meragukan, karena mengandung kelemahan dan membias demi kepentingn kolonialis Belanda pada waktu itu. Saya tidak menyalahkan beliau sebab itulah data dan informasi yang dapat diperoleh meski nara sumbernya tidak dicantumkan. Karya beliau harus menerima acungan jempol. Di dalam bukunya, beliau menulis teantang Naipospos: “Kata orang” atau “Pandok ni na deba”. Siapa yang dimaksud dengan “deba”- nya, tidak jelas. Makna intrinsik kata “deba” dalam bahasa Batak mengandung ketidak pastian. Kemudian beliau menulis, “ada yang mengatakan bahwa Naipospos melarikan diri ke Laguboti sebelum pindah ke daerah Dolok Imun. Dua orang anaknya lahir di Laguboti yang diberi nama “Tuan Marbun” dan “Martuasame”. Dari penyajian tersebut, ungkapan “kata orang” tidak lebih dari kumpulan cerita yang dipungut di tengah jalan. Mengapa tidak disebut nama salah satu keturunan Naipospos. Raja-raja di Sipoholon sudah menjadi orang Kristen pada tahun 1870. Sejak itu sudah banyak keturunan Naipospos yang sudah sekolahan. Bapak saya sendiri sudah menjadi Guru Zending tahun 1912 setelah menamatkan sekolah Tinggi tahun 1911 dan Pendeta di tahun 1925 di Pematang Tanah Jawa, Sumatera Timur.

Banyak di antara kita mendengar penuturan yang beragam dan berbeda. Hampir semua memaparkan kehebatan dan kesaktian moyang masing-masing, termasuk anak Naipospos.. Zamannya memang demikian. Penutur Batak berkata: “Gaung na sabitis, mambal na sabotohon. Hata ni turi-turian (torsa), pagodang-godang sidohonon”. Setelah merenungkan isi buku dan turi-turian yang saya dengar, saya menguji dan membandingkannya dengan penuturan tua-tua yang saya terima dan kumpulkan sebagaimana diuraikan dibawah ini.

Perpindahan

Naipospos dengan keturunannya bermukim di sebelah Selatan lereng Dolok Imun setelah mereka melarikan diri dari Baligeraja ke Dolok Tolong bersama Ibunya Boru Sibasopaet bersama abangnya Si Raja Sobu dan Si Raja Sumba. Mereka harus menghindar dari “hati jahat” si Raja Hutalima yang tidak ingin melihat anak-anak Boru Sibasopaet bertumbuh dewasa. Maklum, Sibasopaet adalah isteri kedua dari Tuan Sorbadibanua. Jika dipakai perhitungan sundut (30 tahun). maka waktu pelarian terjadi kurang lebih l3 generasi, yang perhitungannya didasarkan atas diri saya sebagai keturunan Jamita Mangaraja ke-12. Atau kurang lebih 390 tahun yang lalu. Ini hanya sekedar rekaan perhitungan, tidak kepastian mutlak.

Ketika bermukim di kawasan Dolok Imun, keturunan Naipospos bertambah banyak sehingga daya dukung (arable land) yang tersedia sudah tidak mencukupi lagi. Mereka masih hidup dari padi darat (hauma tur) sebagai makanan utama (staple food), belum mengenal sawah. Situasi tersebut mendorong mereka untuk mencari lahan (golat) baru untuk digarap dan diusahakan. Bagaikan Abraham dengan Lot, keturunan Marbun memilih ke utara dan tiba di daerah Bakkara di pinggir Danau Toba. Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang bergerak ke arah Selatan, rura Silindung. Sibagariang tidak ikut. Mereka tetap menempati lereng Dolok Imun hingga kawasan Hutaraja sekarang.

Sewaktu berpisah, mereka saling memberkati dan berjanji akan memberitahukan apabila lahan baru yang ditemukan, memberikan kesejahteraan yang lebih baik. Janji ini tidak pernah dipenuhi kedua belah pihak, sehingga timbullah sindiran di masyarakat yang berbunyi: “Santipul so angkupkan, samponggol so donganan” terhadap marga-marga yang diturunkan Napipospos. Tabiat ingkar janji dan susah dipercaya.

Perpindahan ketiga marga diatas ke rura Silindung, bukan tanpa perjuangan (porang) dengan korban nyawa. Sebenarnya, Rura tersebut sudah didiami kian oleh keturunan Raja Borbor dan Guru Mangaloksa. Karena tekanan hidup yang sudah mendesak, genderang perang pun ditabuh sebagaimana perilaku di saat itu. Hutauruk, sebagai si abangan bergerak di daerah bagian Timur sebagaimana terlihat dari desa-desa marga Hutauruk yang sekarang dan juga di bagian Barat mulai dari Lbn. Soit hingga Huta Bagot dekat Siulauompu. Malah ada yang tiba dekat pemukiman Hutapea dan Lumban Tobing menjelang genting Batu Hoda, tempat sungai Situmandi dan Sigeaon menyatu dan jatuh ke lembah Pahae.

Simanungkalit merambah tanah bagian tengah sebagaimana terlihat dari kampung mereka sekarang. Nama kampung “Pangaloan” perkampungan marga Simanungkalit, merupakan sejarah hidup dari perjuangan mereka. Situmeang masuk dari sebelah Barat dan menduduki daerah Pintubosi, Lbn. Hariara dan sekitarnya. Nama “Pintubosi” juga merupakan sejarah hidup, betapa beratnya Situmeang menembus tanah genting untuk dapat masuk ke daerah tempatnya sekarang. Keturunan Gr. Mangaloksa yang tadinya bermukim di daerah yang direbut Simanungkalit dan Situmeang, pindah ke daerah Lobu Singkam dan menetap disana. Demikian penuturan tua-tua (torsa) tentang perpindahan dari Dolok Imun.

Horja Tambak

Ketika Horja Tambak Si Raja Naipospos direncanakan, keempat marga bersaudara yang tinggal di Sipoholon mengadakan perundingan dan menetapkan hari H-nya. Rencana ini disampaikan kepada keturunan Marbun agar mereka siap pada hari yang ditetapkan. Kurir berjalan kaki disuruh ke Bakkara lengkap dengan “pudun-pudun” (simpul) dari pandanus (baion), tentang hari horja yang direncanakan. Jumlah pudun-pudun menandakan jumlah hari yang masih akan dilewati. Sebagaimana ketentuannya, sebuah pudun akan dipatahkan setelah matahari terbenam menandakan hari baru sudah tiba. Dengan demikian, Marbun dapat mengetahui, kapan mereka akan berangkat agar tiba di Sipoholon pada waktunya. Maklum, semuanya masih dilakukan berjalan kaki.

Entah apa yang terjadi, Donda Hopol menyuruh ketiga adiknya bersiap-siap untuk menggelar horja walaupun belum tiba hari yang ditetapkan, sesuai dengan pudun-pudun. Masih kurang satu hari lagi. Meskipun ketiga adiknya sungkan, mereka terpaksa mengikutinya. Sebagai si abangan dia diperlakukan sebagai pengganti Bapak (Ama) menurut budaya Batak. Horja pun dilaksanakan.

Menjelang malam hari, rombongan Marbun tiba di perkampungan tempat horja diadakan. Melihat penghuni kampung tidak ada yang menyongsong kedatangan mereka, membuat hati rombongan Marbun heran. Akhirnya, Jamita Mangaraja turun dari rumahnya dan menemui mereka. Diceritakan apa yang telah terjadi. Donda Ujung dan Ujung Tinumpak tidak mau turun menemui mereka sebab takut, karena merasa ikut bersalah terhadap Marbun, abang mereka.

Setelah berlangsung perundingan Jamita Mangaraja dengan Marbun, maka esok harinya, Marbun dipersilahkan mengadakan perhelatan sendiri di sekitar Tambak. Mereka makan dan menari sebagaimana layaknya menghormati arwah orangtua. Pada akhir acara, mereka berdoa (martonggo) atas perlakuan Donda Hopol yang ingkar janji (pudun-pudun) dan mohon penghukuman yang maha kuasa. Mereka menancapkan lembing (hujur) sebanyak 99 buah serta mengatakan dalam doanya agar keturuan Donda Hopol tidak boleh lebih dan 99 keluarga sama dengan bilangan lembing yang ditancapkan. Jika kurang, ditambah, jika lebih dikurangi. Selesai acara, mereka pulang ke Bakara. Donda Hopol, Donda Ujung dan Ujung Tinumpak tidak mau menampakkan diri.

Tahun-tahun berikutnya, perdamaian telah dilangsungkan oleh sesame saudara sehingga kutuk tidak terjadi lagi.

Padan dan nama Martuasame

Selain nama Toga Sipoholon, buku Silsilah juga sering mencantumkan nama Martuasame aliasnya Toga Sipoholon. Dalam hal ini banyak penuturan yang keliru. Sebutan Martuasame berasal dari rombongan Marbun ketika datang berkunjung ke Sipoholon untuk menanyakan kesejahteraan (pangabahan) adiknya yang tiga. Marbun menceritakan bahwa mereka masih tetap mengolah padi darat (hauma tur), disamping bekerja sebagai penangkap ikan (pardengke) di Tao Toba.

Orang Sipoholon (Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang) bercerita bahwa mereka tidak lagi mengolah padi darat (hauma tur), tetapi sudah bersawah (marsaba) dengan jalan menanam “same” (bibit padi), bukan menebar (manabur) benih padi. Hasilnya jauh lebih banyak. Marbun mengatakan: “Martua ma hamu dibahen same i” yang kemudian berobah menjadi ungkapan Martuasame. Kemudian, nama tersebut disandangkan kepada tempat keramat (Parsombaonan) ketiga marga di Sipoholon kepada sumber air panas di Ria-ria atau Sibau. Hal ini adalah seturut dengan alam kepercayaan mereka yang mengatakan bahwa leluhur diatas generasi ketujuh sudah berobah (mangilulu) menjadi sombaon, milik banyak orang. Disinilah tempatnya jika mereka menghantar sesajen (parsattian-pelean) kepada leluhur.

Diceritakan bahwa kedua pihak menuntut janji mereka masing-masing, sebelum berpisah untuk saling memberitahukan hasil tanah garapan baru. Masing-masing mengaku salah. Maklum, bayangkan berjalan kaki dari Sipoholon ke Bakkara dan sebaliknya. Pada kesempatan ini pula dilaksanakan perjanjian (Padan) di antara ketiga marga keturuann Marbun, Lbn. Batu, Banjarnahor dan Lumban Gaol dengan Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang. Mereka menetapkan janji yang aneh diluar ketentuan silsilah yang berlaku. Lbn. Batu berpasangan dengan Hutaruruk, Banjarnahor dengan Simanungkalit dan Lumban Gaol dengan Situmeang dan setiap pasangan dilarang saling menikah. Namun demikian, Marbun akan tetap siabangan dari “partubu” dari ketiga marga di Sipoholon. Hal tersebut tidak ada yang membantah. Sibagariang tidak ada pasangannya. Maklum, sakit hati masih berbekas (maripos-ipos) dan mereka tidak tinggal di kawasan Sipoholon pada waktu itu.

Sebenarnya, latar belakang perjanjian tersebut sangat sederhana tetapi mutlak pada kondisi di saat itu. “Salin” (ganti pakean) bila kehujanan. Seandainya Marbun datang ke Sipoholon dan kehujanan di tengah jalan, sulit baginya memakai mandar atau sarung anggi boru yang mereka sadari pantang menurut hukum adat dan akan ditertawakan marga tetangga. Mengatasi hal tersebut, diadakanlah perjanjian (padan). Jika Marbun datang berkunjung ke Sipoholon, maka mereka akan menganggap dirinya siadikan dan menerima perlakukan demikian agar tidak melanggar ketentuan kesopanan. Kemudian janji ini dijabarkan diluar bonapasogit dengan memperlakukan yang berkunjung sebagai siadikan, sebagaimana ceritera dibawah ini.

Ketika kami sekampung di Kemanggisan bersama mendiang Amangtua Jaksa Lumban Gaol, orangtua Ir. Humuntar Lumban Gaol, yang sudah saya kenal sewaktu aktif di Tarutung sebagai Jaksa, beliau suka bercanda. Ketika beliau datang kerumah saya, dia berujar nostalgia agar saya memanggilnya “Amanguda” jangan Amangtua meskipun saya tahu itu yang benar menurut silsilah. Akhirnya, dia merasa senang ketika saya panggil dia Amanguda. Ketika saya berkunjung ke rumahnya, tentu saja saya panggil Amangtua. Nostalgia janji leluhur.

Marga Naipospos

Penelusuran cermat Tarombo (Silsilah) serta pengakuan orangnya, penyandang “marga” Naipospos, sebenarnya adalah keturunan marga Sibagaring yang diwariskan Donda Hopol di daerah Hurlang, marga Hutaruk yang diwariskan Donda Ujung di Laguboti, yang kini menjadi pimpinan Parmalim, marga Simanungkalit di Angkola yang diwariskan Ujung Tinumpak dan marga Situmeang di Hurlang yang diwariskan Jamita Mangaraja. Maksudnya agar terdapat “perekat” dari keturunan dari empat orang anak Naipospos tersebut diatas di tanah garapan baru. Seandainya benar Naipospos memperanakkan Toga Marbun dengan Toga Sipoholon, mengapa tidak ada orang menyebut marganya Sipoholon sementara Marbun tetap ada.

Hingga saat ini, tidak satu orang pun yang menyandangkan “Sipoholon” sebagai Marga. Sebagian keturunan Toga Marbun masih tetap menyandang marga Marbun meskipun beliau sudah menurunkan marga Lumbanbatu, Banjarnahor dan Lumbangaol. Perilaku tersebut sama sekali tidak dianggap salah, karena Marbun adalh leluhur pemersatu bagi ketiga marga tersebut.

Mengapa mereka menyebut marganya Naipospos, bukan Sipoholon? Karena Naiposposlah leluhur Pemersatu, yang memperanakkan Donda Hopol, yang mewariskan marga Sibagariang, Donda Ujung, yang mewariskan marga Hutauruk, Ujung Tinumpak yang mewariskan marga Simanungkalit dan Jamita Mangaraja yang mwariskan marga Situmeang. Bukankah fakta hidup diatas cukup merupakan bukti bahwa manusia bernama Toga Sipoholon alias Martuasame itu pada hakekatnya tidak ada?

Tuan Markus Lbn. Gaol.

Ketika saya duduk di kelas tiga SMP Sigompulon, Tarutung, saya tinggal di Simaungmaung Dolok bersama kakak saya. Kami serumah dengan keluarga Amangtua Tuan Markus Lumban Gaol. Dia sudah tua dan hidup bersama isteri kedua, karena yang pertama sudah meninggal. Amangtua ini sering berbincang-bincang dengan saya di sore hari stelah keluar sekolah. Bahan cerita juga menyinggung silsilah Naipospos. Beliau bercerita bahwa anak Naipospos yang benar adalah lima orang dengan urutannya seperti yang saya tulis dalam Buku Saku Marga Batak. Beliau mengatakan bahwa silsilah yang ditulis WM Hutagalung, yang kemudian diikuti banyak penulis, tidak benar. Kolonialis Belanda memerlukan sesuatu sebagai rujukan untuk meredam gejolak perbantahan orang Batak mengenai siabangan dan siadikan yang dapat mengganggu keamanan kolonial Belanda pada saat itu.

O. Sumingga Lbn. Gaol

Ketika saya menjadi Ketua Pusat Koperasi Pertanian se-Tapanuli Utara ca. tahun l966-1968 di Tarutung, saya bertemu dan berteman dengan O. Sumingga. Tadinya, dia adalah pedagang pupuk swasta di Dolok Sanggul. Setelah Koperasi Pertanian dikembangkan, peranan pedagang pupuk swasta mengecil. Karena dia memiliki gudang, maka saya ajak beliau menjadi pengelola terminal pupuk untuk wilayah Dolok Sanggul dan sekitarnya, termasuk Onanganjang, Pakkat dan Parlilitan, apabila Koperta setempat menghendakinya. Saya tiak tega melihat O. Sumingga kehilangan mata pencaharian sebagai “toke” pupuk yang sudah dikenal umum. Menguntungkan koperasi, karena jarak lebih dekat dibanding ke Tarutung.

Dalam perjalanan persaudaraan, dia bercerita tentang silsilah Naipospos ketika saya dijamu makan “palia-palia ni hoda” di kota Dolok Sanggul. Beliau mengatakan bahwa pemberitaan Amangtua Tuan Markus Lbn. Gaol itulah yang sesungguhnya. Anak Naipospos lima orang, bukan dua.

Berita keluarga

Saya termasuk anak yang berminat kepada sejarah keluarga karena Bapak saya, meskipun anak tunggal dan seorang Pendeta, sangat kental dengan ke-Batakannya. Beliau adalah guru abadi saya. Sewaktu saya masih SMP, Bapak saya jatuh sakit (stroke) yang diderita selama 22 tahun. Dia meninggal dalam usia 79 tahun. Namboru saya empat orang dan sudah tua dan bongkok. Jika mereka datang mengunjungi itonya yang sakit, mereka bergantian bercerita kepada saya tentang sejarah keluarga mulai dari Ompungnya, O. Soburaja hingga semua sanak saudaranya. Mereka menganggap, sayalah yang dapat menampung dan meneruskan penuturan sejarah keluarga. Demikian juga Bapak saya yang mengatakan silsilah Naipospos dengan kelima anaknya, bukan dua.

Amanguda saya, alm. Friderich Situmeang, Kepala Negeri Situmeang, juga mengatakan anak Naipospos lima orang, bukan dua orang. Abang saya, alm. Lebanus Situmeang alias Lutung juga mengatakan hal yang sama. Masih banyak tua-tua Sipoholon yang mengatakan demikian. Ketika saya menanyakan, mengapa hal itu tidak diluruskan! Mereka memberi jawaban sebagai manusia yang berada dibawah penguasa kolonialis Belanda: ”Takut dicap pemberontak dan tidak mau memunculkannya”. Lagi pula wilayahnya sudah berbeda. Pertemuan Naipospos tahun 1933 hanyalah “temu kangen”, tidak menyinggung atau membicarakan Tarombo (Silsilah). Apalagi membicarakan buku yang ditulis M.W. Hutagalung tentang silsilah Si Raja Batrak.

Pardangguran.

Saya mendengar penuturan sebuah peristiwa sewaktu pertemuan yang lalu, terkait dengan nama kampung Pardangguran, yang letaknya menjelang kota Tarutung. Pada mulanya, Pardangguran itu adalah suatu hamparan luas, yang dijadikan tempat “perang tanding”. Bukan tempat perkelahian atau rebut-rebutan lahan di antara Marga di Sipoholon dengan marga keturunan Guru Mangaloksa. Raja-raja Silindung biasa bertemu –martukko– setiap hari pekan (Sabtu), di bawah pohon Tarutung yang hingga kini masih tumbuh dekat SMA HKBP, tepat diatas bekas pasar Tarutung. Disamping membicarakan keadaan kampung masing-masing, tabiat “perang-perangan” rupanya suka muncul di hati mereka. Perang tanding tradisonal Batak beragam adanya. Marsipak, Martunjang, Marpantom, Martulbu, Masidangguran, dll. Semuanya sebagai permainan, bukan permusuhan. Mengadu kebolehan. Memang, hakekat karakater orang Batak suka berkompetisi.

Mereka menetapkan hari untuk ”Masidangguran”, saling melempar batu, tepat pada bulan purnama dengan jarak pemisah tertentu dengan ukuran batu tertentu pula. Lamanya juga ditentukan dengan melihat posisi bulan. Ada batas waktu. Namboru saya masih ikut mengalaminya dengan mengumpulkan batu dari sungai dan mengantarkannya ke gelanggang pertandingan. Ketika masidangguran berlangsung, ibu-ibu penggembira berteriak dengan ucapan: “Sipilit di hadang-hadanganku, palilit sian amang-amangku”, sambil mangantar batu kepada sipandanggur.

Ketika perang tanding “Martulbu” dilaksanakan, aturan permainan juga ditetapkan. Hari martulbu dipilih bulan mati dan setelah usai panen. Tulbu dibuat dari “tolong” dengan mengikatkan durame (jerami) diujungnya. Setelah dibakar, dilemparkan ke arah lawan. Jarak tanding lebih pendek dibanding masidangguran karena jangkauan daya lempar tulbu tidak sama dengan lembar batu. Ibu-ibu penggembira dan remaja tetap ikut serta untuk mengikatkan jerami ke batang tolong. Saudara dapat membayangkan api yang beterbangan diudara, bagaikan pesta kembang api. Tulbu yang belum terbakar dilarang dilemparkan.

Tentu saja ada anggota yang kena batu atau tulbu, tetapi tidak parah. Raja-raja membicarakannya pada hari pekan pertemuan rutin berikutnya. Semua gembira termasuk warga masing-masing ketika saling bertemu di pasar.

Namun, terjadi suatu peristiwa Masidangguran, yang dipicu ucapan yang dianggap tidak sopan dari dari raja-raja Sipoholon. Pada zaman itu, belum ada pasar (Onan) sebagaimana kita kenal sekarang. Raja-raja menetapkan agar di rura Silindung diadakan onan di tiga tempat. Satu Onan Sitahuru di Saitnihuta, Onan Siualuompu di Siualuompu dan Onan Situmba di Sipoholon. Dari aspek lokasi, sangat cocok pada waktu itu. Ketika ketiga onan tersebut “digurguri” (mulai dikembangkan), peristiwa aneh terejadi. Di onan Sitahuru yang ada hanya penjual “Ulos”. Di Siualuompu hanya “ikan sitaratio” (jenis ikan gabus-haruting) dan di onan Situmba hanya “Suhat” (talas rebus). Dalam istilah Batak, keadaan itu dinamai “rungkup” artinya, hanya satu jenis mata dagangan. Tidak ada barang lain sesuai dengan kandungan arti “Onan, on dan an, ini dan itu”/

Ketika raja-raja kembali martukko dibawah pohon Tarutung, mereka saling memberitahukan tentang “onan” masing-masing. Ketika tiba giliran raja dari Sipoholon ditanya, jawabannya melenceng dari tata kesopanan, meskipun alur logikanya betul. Ketika ditanya, jawabannya: “Suhat te ni paronan”. (Maaf. Talas tai orang). Jawabnya benar tetapi pengungkapan menyalahi tata kesopanan. Atas pengulangan pertanyaan yang sama, raja-raja Sipoholon juga tetap memberikan jawaban yang sama. Karena jawaban itu dianggap tidak sopan, maka raja-raja dari Tarutung mengajak masidangguran dan jadilah demikian.

Dari penuturan diatas, Pardangguran sama sekali tidak terkait dengan perang merebut tanah (golat) sebab perbatasan tanah sudah jelas setelah ketentuan Bius diberlakukan di tanah Batak. Ini dibuktikan dengan hamparan sawah yang dinamai “Uparaja” yang berbatasan dengan Jagumbit. Penulis dan beberapa keluarga raja-raja Sipoholon menjadi pemilik. Oleh karena itu, cerita kampung “Pardangguran” tidak pernah terkait dengan perebutan tanah. Warga marga di Sipoholon tidak pernah meminta pertolongan keturunan Marbun dalam perjuangan mereka turun dari lereng Dolok Imun ke rura Silindung.

Peristiwa ini perlu dituturkan agar semua orang mengetahui bahwa pemunculnya nama kampung Pardangguran bukan disebabkan perebutan tanah (golat) di antara marga keturunan Guru Mangaloksa dan keempat marga di Sipoholon, tetapi suatu lokasi yang tidak terlupakan sebagai “gelanggang perang-perangan” – lempar batu dan lembar tulbu jerami. Suatu pertandingan yang mengikuti aturan dan fair play.

Akhir kata.

Dengan buku Saku yang saya tulis dan terbitkan, saya hanya ingin meluruskan sejarah silsilah Naipospos dengan keturunannya berdasarkan studi, realita dan penuturan sebagaimana diuraikan diatas. Saya tidak berniat untuk menyudutkan siapa pun. Bagi saya, anak Raja Naipospos itu bukan dua tetapi lima dari dua isteri dang dengan urutan berikut: Donda Hopol (Sibagariang), Toga Marbun (Marbun), Donda Ujung (Hutauruk), Ujung Tinumpak (Simanungkalit) dan Jamita Mangaraja (Situmeang). Mereka satu generasi. Tidak ada yang lain.

Jakarta, 5 Februari 2010

Doangsa PL Situmeang

Jl. Kemanggisan Ilir III No. 6, Jakarta 11480

Tel. (021) 549 1969.

Mulak tu bona>>>

2 Responses

  1. seppp.. saya suka baca critanya bang..
    tpi sayang banyak generasi naipospos yang tidak tau akan hal itu..

    saya sihh dulunya tau sdikit critanya,,,

    tpi dngan bacaan itu smua lebihh jelass…..

    seeppp.. like thissssss

    • Cerita diatas harus dianggap dulu sebagai wacana karena banyak versi tentang Naipospos. Kalau ingin mengetahui versi-versinya coba dibuka dan tuntaskan bacanya di hutaurukbona.wordpress.com

      bila ingin yang seru-seru tanggapannya, boleh dibuka di Naipospos Online.

      Sejarah Naipospos masih belum tuntas dan sayangnya para natuatua kita hampir tak perduli untuk meluruskannya. Akan muncul artikel satu versi lagi berdasarkan petunjuk supranatural, dan sepertinya juga kontroversi tentang tarombo Batak.

      Terimakasih, generasi muda sudah mulai banyak yang cinta kepada kearifan budaya leluhur. Banyak kemuliaan kita temukan disitu. Horas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: